Tampilkan postingan dengan label Wisata Daerah Sul-Sel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Daerah Sul-Sel. Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 Agustus 2015

Permainan Rakyat Bugis / Cule-culena anak ogi'e

0 komentar

Permainan Rakyat Bugis

Dapat dikatakan bahwa hampir semua permainan rakyat tradisional Bugis dilakukan setelah panen. Hal tersebut dikarenakan oleh waktu panen yang hanya dilakukan sekali dalam setahun. Dan untuk mengisi waktu lowong yang cukup panjang maka lahirlah berbagai macam permainan rakyat.

1. Marraga

Marraga/Mandaga adalah bahasa Bugis yang didalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama bermain atau bersepak raga. Penamaan ini berasal dari jenis peralatan permainan yang digunakan yaitu raga. Adapun istilah raga bersumber dari makna dan fungsi permainan, yaitu siraga-raga artinya saling menghibur. Pada zaman dahulu, seorang pemuda belum bias menikah jikalau belum mahir bermain raga. Seorang ahli permainan raga merupakan kebanggaan dan dikagumi masyarakat yang berarti turut meningkatkan status sosial seseorang.

Raga yaitu sejenis bola yang terbuat dari rotan yang dibelah-belah, diraut halus kemudian dianyam, umumnya berukuran dengan diameter sekitar 15 cm.

Asal usul permainan raga sehingga dikenal di daerah Sulawesi Selatan, diperkirakan berasal dari Malaka atau pulau Nias. Sehubungan dengan ini, W. Kaudren (Games and Dances In Celebes, 1927), secara tegas meragukan bahwa berasal dari Malaka, dengan alas an masyarakat tradisional yang ada di Malaka tidak mengenal permainan ini. Dia lebih cenderung pada pendapat bahwa permainan ini berasal dari daerah pantai barat Sumatera yaitu pulau Nias, karena daerah tersebut umumnya penduduk mengenal permainan ini. Pada mulanya permainan raga hanya dilakukan oleh kalangan bangsawan Bugis saja, namun didalam perkembangannya selanjutnya dapat dilakukan oleh masyarakat luas. Ada dua hal yang merupakan unsure pokok permainan raga yaitu Sempek atau sepak dan belo yakni variasi.

2. Maggassing

Penamaan permainan ini bersumber dari peralatan pokok yang digunakan dalam bermain yaitu Gasing. Asal usul permainan ini belum dapat dipastikan benar, namun dugaan yang paling kuat berasal dari Sumatera, sebagaimana yang dikemukakan oleh Kauderen dan Matthes dalam bukunya “Tot Bijdragen De Ethnologie Van Zuid Celebes”. Bahwa kemungkinan permainan ini berasal dari Sumatera, kemudian berkembang ke daerah-daerah lainnya sesudah Islam melalui hubungan dagang. Khususnya di Sulawesi Selatan kemungkinan ini dapat diterima karena sejak lama telah terjadi kontak dengan orang-orang Melayu, khususnya Sumatera.

3. Maccuke

Berasal dari bahasa Bugis yaitu Cukke yang artinya ungkit, yang dengan demikian Maccukke berarti bermain ungkit. Permainan cukke termasuk permainan musiman yang umumnya dilakukan sedudah panen sampai pada waktu menjelang turun ke sawah dan dilakukan pada siang hari.

4. Maggaleceng

Permainan dilakukan malam sampai pagi hari sebagai acara rangkaian perkabungan, dimana penyelenggaraannya berlangsung sampai pada upacara pemasangan batu bata dan nisan kuburan orang yang meninggal yang didaerah Bugis disebut dengan Matampung. Maggaleceng biasanya berlangsung selama tujuh malam , 40 malam ataukah 100 malam jika yang berkabung adalah keluarga raja. Dengan melihat suasana permainannya menunjukkan bahwa permainan ini juga berfungsi untuk menghibur keluarga yang berkabung dan selama berjaga-jaga supaya tidak mengantuk. Pada zaman dahulu, oleh masyarakat tradisional Bugis, permainan ini termasuk jenis permainan sakral, berhubungan dengan nuansa magis.

5. Massaung Manuk

Berasal dari kata saung yang berarti sabung dan manuk yang berarti ayam. Dilakukan untuk memeriahkan pesta-pesta adat misalnya perkawinan, pelantikan raja-raja, pesta panen dan sewaktu mengeringkan padi di lapangan. Pada waktu silam, permainan ini merupakan kegemaran kaun bangsawan pada umumnya dan juga dapat disaksikan oleh masyarakat umum. Dikalangan raja-raja terkadang mengadakan pertandingan antar kerajaan, yaitu dengan mengundang raja-raja disekitarnya. Sehubungan dengan kepercayaan masyarakat tradisional, maka yang disabung bukanlah ayam sembarangan. Tetapi yang telah dimantra atau jampi-jampi dan dirawat dengan cermat. Usia permainan ini sudah sangat tua dan dijumpai hamper diseluruh nusantara. Menurut cerita rakyat Bugis, bahwa dahulu kala yang disabung adalah manusia, yang diselenggarakan oleh kalangan raja-raja/bangsawan sebagai hiburan sekaligus untuk mendapatkan Tobarani (pemberani). Tetapi dikemudian hari karena dianggap terlalu kejam dan merendahkan martabat manusia, maka diganti dengan ayam. Masyarakat tradisional Bugis berkeyakinan bahwa dengan senantiasa melihat pertandingan dan darah, maka akan menambah keberanian dan kesaktian.

6. Maggale

Merupakan sejenis permainan yang menggunakan Kaddaro atau tempurung kelapa. Pada zaman dahulu, permainan ini umumnya dilakukan sesudah panen dan juga pengisi waktu senggang di kala pagi hari atau sore hari. Permainan ini tidak didasarkan pada latar belakang stratifikasi sosial dan karenanya sangat merakyat dalam masyarakat tradisional.

7. Mallogo

Penamaannya bersumber dari peralatan utama bermain yaitu Logo (berbentuk cangkul). Bentuknya yang seperti cangkul mencerminkan nilai budaya Bugis yang bersandar pada kehidupan agraris. Biasanya dilakukan sesudah panen dan juga pada waktu senggang lainnya. Logo terbuat dari tempurung kelapa yang berkualitas baik dan berbentuk segitiga yang ujung-ujungnya ditumpulkan.

8. Massalo

Pada mulanya dimainkan pada malam hari kala bulan purnama setelah panen usai dan selanjutnya dilakukan pada waktu senggang lainnya. Permainan ini merupakan permainan rakyat pada umumnya untuk anak-anak belasan tahun dan kadang-kadang juga dilakukan oleh para remaja.

9. Mabbangngak

Merupakan permainan musiman yaitu setelah panen kemiri, namun selama masa pati ngelle yaitu sesudah padi dituai sampai turun sawah berikutnya. Juga senantiasa diadakan karena umumnya anak-anak/remaja yang hobi memiliki persiapan kemiri, khususnya bagi anak-anak gembala dijadikan pengisi waktu senggang. Permainan ini merupakan permainan dari golongan masyarakat biasa atau rakyat kecil, dimana kehadiran dan perkembangan permainan ini ditunjang oleh keadaan alam masyarakat Bugis, terutama mereka yang hidup dan bermukim di daerah-daerah pertanian/perkebunan. Perlengkapan permainan terdiri atas buah kemiri, yang dalam bahasa Bugis disebut Pelleng.

10. Mallongngak

Berasal dari kata longak yaitu nama mahluk halus sejenis jin yang bentuk badanya sangat tinggi, dimana kata longak diartikan juga dengan tinggi atau jangkung. Sehubungan dengan penamaannya ini, DR. B. F. Matthes didalam bukunya “Bijdragen Tot De Ethnologie Van Zuid Celebes”, mengemukakan bahwa kemungkinan Mallongnga berasal dari nama seorang raksasa. Merupakan permainan yang digemari rakyat pada umumnya karena cukup menarik, dengan melihat bentuk dan cara bermain, termasuk jenis permainan olahraga. Sehubungan dengan fungsi Mallongnga, DR. B. F. Matthes, berdasarkan hasil penelitiannya, mengemukakan bahwa kemungkinan dahulu permainan ini merupakan salah satu bentuk pertunjukan upacara. Didalam kehidupan masyarakat tradisional Bugis dimasa silam, penyelenggaraan permainan ini berkaitan dengan problema magis yang tentunya tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat yang mistik religius. Antara lain dapat dilihat dalam fungsi permainan yang dianggap sebagai penangkal penyakit. Apabila disuatu kampung terdapat penyakit yang merajalela, maka tujuh orang pria dari kampung tersebut dengan berpakaian putih semacam talqun, Malongak mengitari kampung selama tujuh kali dengan maksud mengusir roh jahat yang menyebabkan wabah tersebut. Dengan cara ini mereka yakin bahwa Longngak yaitu mahluk halus yang dianggapnya baik itu akan turut membantu mereka. Didalam perkembangan selanjutnya, terutama setelah ajaran-ajaran Islam tersebar luas dalam masyarakat Bugis, maka fungsi religius ini tidak berfungsi lagi, melainkan dilakukan hanya sekedar bermain di kalangan anak-anak dan remaja. Mengenai asal usul permainan ini belum dapat dipastikan benar, sebab selain di daerah Bugis, juga dijumpai dibeberapa daerah lainnya seperti Minahasa dan Mongondou di Sulawesi Utara yang disebut Mogilangkadan. Orang Mori di Palu dan Poso menyebutnya Motilako, di pulau Jawa dikenal dengan nama Jangkungan dan juga terdapat di pulau Buton Sulawesi Tenggara dan di Sumatera. DR. B. F. Matthes mengemukakan bahwa Mallongnga dijumpai pula di Filipina, Malaysia dan Jepang. Berdasarkan penyebarannya ini, Matthes memperkirakan bahwa Mallongnga di Sulawesi Selatan kemungkinan dari Filipina melalui Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Selanjutnya Mathhes mengatakan kemungkinan Mallongnga di Indonesia lebih tua dari kebudayaan Hindu karena ditemukan di banyak tempat yang tidak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu. Misalnya dikalangan orang-orang Polynesia, Mallongnga merupakan salah satu kebudayaan penting yang ada sejak dahulu. Perlengkapan permainan terdiri atas dua batang bambu yang kuat dan panjangnya lebih dua kali tinggi badan yaitu sekitar 3 meter. Mengenai panjang bambu tergantung pada tingkat perkembangan usia dan keberanian seorang pemain.

11. Majjeka

Berasal dari kata Jeka yang artinya jalan. Merupakan permainan masyarakat pada umumnya oleh karena bahan utamanya mudah diperoleh. Perlengkapan permainan terdiri atas tempurung kelapa yang utuh dan kuat dan tiap belahan ujungnya dibei lubang. Juga terdapat dua utas tali yang ujungnya/panjangnya kurang lebih 1,5 meter.

12. Mappasajang

Berasal dari kata Sajang yang artinya melayang. Sedangkan orang Bugis yang berdiam di Sidenreng Rappang menamainya Malambaru, berasal dari kata Lambaru, yakni ikan pari. Penamaan ini berdasarkan kepada bentuk peralatan pokok dari permainan ini, yaitu menyerupai ikan pari. Dan saat ini lebih populer dengan nama permainan laying-layang. Bentuk dan ragam hias layang-layang berbagai macam, tetapi masyarakat Bugis tradisional umumnya menggunakan bentuk dan corak binatang. Menurut sejarahnya bahan yang digunakan pada mulanya adalah jenis dedaunan yang lebar dan telah kering kemudian diberikan tali. Setelah penggunaan kertas dikenal, mulailah dijadikan sebagai bahan utama pembuatan layang-layang.

13. Maggeccik

Berasal dari kata geccik yang artinya menyentik. Merupakan permainan tradisional yang hanya dapat dilakukan oleh kalangan masyarakat biasa. Peralatan permainan adalah biji-bijian, umumnya yang digunakan adalh biji asam.

14. Mappolo Beceng/Mallappo Pinceng

Termasuk jenis permainan rakyat untuk golongan anak-anak. Didalam penyelenggaraan permainan, tidak dilakukan pembauran antara pria dan wanita. Dengan kata lain, yang pria bermain dengan sesamanya dan wanita juga bermain dengan sesamanya.

15. Massantok

Di daerah Bugis, permainan ini populer dengan nama Massantok, kecuali orang Bugis yang berdiam di Soppeng menyebutnya Maggalantok. Termasuk jenis permainan yang dapat dilakukan oleh semua golongan masyarakat. Kehadiran permainan ini sangat berkaitan dengan kegemaran suku Bugis menunggang kuda. Peralatan permainan terdiri atas sebuah batu besar yang akan dijadikan sebagai sasaran lontaran permainan dan sebuah batu agak kecil dan pipih sebesar genggaman tangan untuk masing-masing pemain sebagai alat pelempar.

16. Rengngeng

Dewasa ini, rengngeng lebih populer dengan nama perburuan rusa. Masyarakat tradisional Bugis melakukan secara kolektif sesudah panen atau pada waktu jagug sudah hampir berbuah. Pada masa silam, merupakan permainan kegemaran kaum bangsawan, dimana Rusa adalah salah satu binatang liar yang digemari karena dagingnya enak. sebagai suatu kegemaran pada mulanya timbul dan dilakukan oleh kaum bangsawan sebagai suatu hiburan kreatif sekaligus melatih ketangkasan personal untuk menghdapi kemungkinan perang. Perburuan Rusa juga digunakan pula untuk mencari bibit-bibit Tobarani yang tangguh dan gesit.

17. Mattojang

Mattojang adalah penamaan permainan di daerah Bugis, berasal dari kata tojang. Dalam bahasa Bugis lainnya disebut Mappare, berasal dari kata pere. Kata Tojang dan pere mempunyai arti yang sama, yaitu ayunan. Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan permainan ini adalah permainan ayunan atau berayun. Pada umumnya Mattojang diselenggarakan dalam rangka memeriahkan pesta-pesta tertentu, yaitu pesta panen, pernikahan dan kelahiran seorang bayi. Dalam masyarakat Bugis tradisional, permainan ini diselenggarakan oleh kalangan bangsawan/raja-raja atau penguasa adat. Kehadiran permainan ini tidak bias dilepaskan dari kepercayaan masyarakat Bugis kuno. Menurut mitos yang melatarbelakangi penyelenggaraan permainan bahwa dimaksudkan untuk mengingatkan kembali prosesi diturunkannya manusia yang pertama yaitu Batara Guru dari Boting Langiq atau kayangan ke bumi. Beliau diturunkan ke bumi dengan tojang pulaweng atau ayunan emas. Batara Guru inilah yang dianggap sebagai nenek moyang manusia dan merupakan nenek dari Sawerigading, tokoh legendaris yang terkenal dalam mitos rakyat Bugis. Kemudian berkembang dalam bentuk permainan sebagai tanda syukur atas berhasilnya panen. Menurut Kauderen bahwa permainan ayunan kemungkinan berasal dari Jawa yang mulai masuk dan berkembang di Indonesia bersamaan dengan kedatangan pengaruh Hindu. Hal ini didasarkan pada persamaan waktu penyelenggaraannya serta cara pelaksanaannya, baik di Jawa maupun di India. Adapun perlengkapan Mattojang kuno terdiri atas dua batang kelapa atau bambu betung dengan tinggi kurang lebih 10 meter untuk tiang ayunan. Tali yang terbuat ari kulit kerbau yang dililit dan panjangnya sedikit lebih pendek dari tiang ayunan. Tudangeng merupakan tempat duduk yang terbuat dari kayu. Peppa yaitu alat penarik ayunan yang terbuat dari rotan atau tali sabut yang panjangnya 3-4 meter, dimana salah satu ujung peppa dikaitkan pada bagian bawah larik. Mattojang dilakukan oleh minimal 3 orang. Seorang berayun dan dua orang yang menarik dan mengayun-ayunkan kemuka dan ke belakang silih berganti. Pengayunan ini disebut Padere.

18. Mappadendang


Berasal dari kata dendang yang berarti irama atau alunan bunyi. Pada masa silam, mappadendang dilakukan di malam hari sewaktu bulan purnama. Selain itu diselenggarakan dalam kaitannya dengan upacara tertentu yakni pernikahan dan panen yang berhasil. Mappadendang hanya dilakukan oleh gadis-gadis dan pemuda-pemuda dari kalangan masyarakat biasa. Pada dasarnya permainan ini berasal dari bunyi tumbukan alu ke lesung yang silih berganti sewaktu menumbuk padi. Irama ini kemudian dikembangkan mnjadi mappadendang dengan menambah bobot irama tumbukan alu ke lesung. Pada fase berikutnya, permainan ini lebih dikembangkan lagi, dimana alunan irama lebih teratur disertai dengan variasi bunyi dan gerakan bahkan diiringi dengan tarian.

19. Makkurung Manu


Berasal dari kata kurungeng yang artinya kurungan dan manuk yang berarti ayam. Jadi yang dimaksudkan adalah permainan mengurung ayam. Penamaan permainan ini lebih bersifat simbolis. Termasuk jenis permainan rakyat untuk golongan anak-anak. Pada mulanya hanya merupakan permainan sembunyi-sembunyian. Akan tetapi karena kepercayaan masyarakat dulu bahwa banyak anak-anak yang hilang disembunyikan oleh mahluk halus yang bernama nasobbu talimpau. Maka pada umumnya anak-anak dilarang bermain sembunyi-sembunyian di malam hari. Kemudian muncullah permainan Makkurung Manuk yang dianggap lebih praktis dan berguna.

20. Maggunreco

Maggunreco adalah penamaan permainan ini didaerah Bugis umumnya. Di daerah Bugis Sidenreng Rappang lebih dikenal dengan nama Majepe atau Attele. Permainan ini dilakukan sewaktu suatu keluarga berkabung, yaitu pada malam pertama jenazah dimakamkan sampai pada waktu-waktu tertentu, seperti malam ketujuh, keempat puluh dan keseratus. Lamanya penyelenggaraan permainan bergantung kepada derajat kebangsawanan dan kemampuan materil seseorang. Pada masyarakat Bugis tradisional, permainan ini hanya diselenggarakan apabila yang berkabung adalah golongan bangsawan. Adapun yang bermain dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa pembatasan status sosial seseorang. Puncak acara ini ialah pada malam hari malam keempat puluh. Menjelang esok harinya diselenggarakan upacara Mattampung yaitu penyusunan batu bata dan nisan permanen. Penyelenggaraannya berhubungan erat dengan kepercayaan masyarakat Bugis tradisional, bahwa orang yang mati sebelum cukup empat puluh hari empat puluh malam, masih berada disekitar rumah dan keluarganya. Sesudah itu barulah san roh pergi ke tempatnya yang abadi. Dengan demikian, puncak acara yang diselenggarakan pada malam keempat puluh tersebut merupakan perpisahan agar perjalanan rohnya selamat. Pada mulanya permainan ini bersifat religius, pantang dilakukan pada hari-hari lain karena mengundang kematian. Namun dengan masuknya Islam, permainan ini kemudian dilakukan disembarang waktu.

21. Massempek

Berasal dari kata sempek yang berarti sepak. Dengan demikian yang dimaksudkan adalah permainan saling menyepak atau berlaga dengan menggunakan kaki. Diselenggarakan pada pesta atau upacara adat, misalnya panen, pernikahan, pelantikan raja dan kadang-kadang dilakukan untuk mengisi waktu senggang. Dalam masyarakat Bugis tradisional, permainan ini hanya dilakukan oleh kalangan budak (ata’). Pada mulanya penyelenggaraan permainan ini hanya sekedar keisengan dari kalangan bangsawan untuk menghibur diri dengan jalan mengadu hamba sahayanya. Dikemudian hari berkembang menjadi permainan yang digemari oleh masyarakat umum.

22. Mallanca

Berasal dari kata lanca, yaitu menyepak dengan menggunakan tulang kering, yang sasarannya ialah ganca-ganca, yakni bagian kaki diatas tumit. Permainan ini termasuk yang digemari oleh masyarakat Bugis tradisional dalam rangkaian penyelenggaraan pesta-pesta adat dan hanya dilakukan oleh kalangan budak (ata’). Sebagaimana halnya dengan Massempek, maka Mallanca ini pada mulanya hanya sekedar hiburan kalangan bangsawan yang kemudian turut digemari oleh masyarakat luas.

23. Mammencak

Berasal dari kata mencak yang artinya pencak atau silat. Jadi yang dimaksud adalah permainan pencak silat. Dilakukan pada pesta-pesta/keramaian adat yang diselenggarakan oleh suatu keluarga serta upacara adat lainnya yang diselenggarakan oleh masyarakat. Asal permainan ini diperkirakan dari Semenanjung Malayu melalui Sumatera, dengan perantaraan dari orang-orang Melayu yang dating ke Sulawesi Selatan dimasa silam. Hal ini didasarkan pada penamaannya yang juga disebut dengan Silak Melayu atau Silat Melayu.

24. Maccubbu

Berasal dari kata cubbu yang berarti sembunyi, atau dengan kata lain Maccubbu berarti bermain sembunyi-sembunyian. Termasuk kedalam permainan ini adalah Mallojo-lojo, Enggo, Mappajolekka dan Mallonci. Pada zaman dahulu, dimainkan pada bulan purnama, dimana ketika itu anak-anak keluar rumah bermain bersuka cita. Merupakan permainan rakyat yang sangat disukai oleh kalangan anak-anak.

Asal Usul Raja Bugis

0 komentar

Asal Usul Raja Bugis 

Dipercaya bahwa asal-usul raja-raja di Sulawesi Selatan berasal dari To Manurung(orang bunian) manusia yang berasal dari langit, turun ke bumi. To Manurung ini membawa segala kebesaran, kehormatan, dan kesaktiannya. Menurut riwayat kuno, daratan Sulawesi mengalami 3 kali kedatangan To Manurung. Siapa saja mereka?

PERISTIWA ‘pendaratan’ pertama:

dipercaya bahwa yang mula-mula menjejakkan kakinya di daratan Sulawesi ialah “Tamboro Langi”. Lelaki perkasa ini berdiri di puncak gunung Latimojong. Ketika itu, daratan Sulawesi masih tergenang air, hanya puncak gunung Lompobattang yang mencuat di sebelah selatan, dan puncak gunung Latimojong di tengah-tengah.

Tamboro Langi lalu memproklamirkan diri sebagai utusan dari langit untuk memimpin manusia. Dengan kata lain, dia mengangkat dirinya sebagai raja dan rakyat harus tunduk padanya.

Tamboro Langi kawin dengan Tande Bilik, yaitu seorang dewi yang muncul dari busa air sungai Saddang. Puteranya yang sulung bernama Sandaboro, beranakkan La Kipadada. La Kipadada inilah yang membangun 3 buah kerajaan besar, yakni: di Rongkong asal mulanya kerajaan Toraja, di Luwu asal mulanya kerajan Bugis, dan di Gowa asal mulanya kerajaan Makassar.

Laksana garis nasib setiap peradaban, setelah keturunannya mengalami masa kejayaan, kerajaan-kerajaan tersebut mengalami kemunduran yang berakibat kekacauan.

Untuk mengatasi kekacauan ini, ‘pendaratan’ kedua terjadi. Kali ini yang diutus masih seorang laki-laki bernama Batara Guru. Batara Guru kawin dengan We Nyilitimo, puteri dari Pertiwi (Bumi bawah) dan memperoleh putera yang diberi nama Batara Lattu. Batara Lattu kawin dengan We Opu Sengngeng, puteri dari Masyrik. Dari perkawinan mereka ini maka lahirlah puteranya yang bernama Sawerigading.

Sawerigading membentuk sebuah kerajaan besar (negara) yaitu kerajan Luwu di Palopo, yang di bawahnya terdiri dari kerajaan-kerajaan yang masing-masing merdeka dan berdaulat, seperti: Kerajaan Toraja, Palu, Ternate, Bone, Gowa, dll.

Kejayaan masa Sawerigading menemui pula kemunduran dan berakhir vakum; tujuh turunan lamanya tak ada raja si Sulawesi Selatan yang memerintah, sehingga yang memegang pemerintahan hanya penduduk isi dunia yang asli.

‘Pendaratan’ ketiga pun akhirnya tiba. Namun pendaratan kali ini terdapat beberapa orang To Manurung sekaligus pada beberapa tempat di tanah yang berbeda-beda, seperti di Toraja, Luwu, Bugis, dan Makassar, yang menjadi pokok asal raja-raja yang memangku kerajaan hingga saat ini.

To Manurung di Luwu bernama Sempurusiang, kawin dengan Pattiajala, puteri yang muncul dari air. To manurung di Bone bernama Matasilompoe, kawin dengan To Manurung perempuan di Toro. To Manurung di Gowa adalah seorang perempuan, kawin dengan Karaeng Bayo dari Pertiwi. To Manurung di Bacukiki memperistrikan To Manurung di Lawaramparang, dan turunannya menjadi raja di tanah-tanah sebelah barat danau Tempe (Ajatapparang) dan di sepanjang lereng gunung (Massinrinpulu).

Lalu, bagaimana corak pemerintahan mereka? Era Tamboro Langi’ adalah era pemerintahan yang absolute monarchi, yaitu kehendak raja saja yang jadi; rakyat cuma tahu tunduk dan menerima titah raja. Sementara pada peristiwa To manurung ketiga, corak pemerintahannya sudah agak demokrasi mesti diakui belum sempurna.

Peribahasa Bugis menyebutkan: “Makkeda tenribali, mette tenrisumpalang.” Artinya: “Berkata tak dapat dilawan, menyahut tak dapat disalahkan”. Gambaran akan sifat Absolute monarchie; apa yang dikatakan raja, itulah yang benar.

Namun sedikit berbeda ketika kejadian To Manurung di Gowa. Ketika To manurung menjejakkan kakinya di Tamalate, Patcallaya atas nama rakyat Gowa datang ke hadapan To Manurung, dan berkata: “Ana’mang, bainemang, iapa nakulle nipela, punna buttaya angkaeroki.” Artinya: Anak kami, istri kami, hanya dapat disingkirkan kalau tanah (rakyat) yang menghendaki.

Nampak di sini sifat-sifat demokrasi yang mulai berkembang ketika itu, bahwa seorang raja tidak bisa berbuat semaunya saja tanpa persetujuan adat. Hal ini dikuatkan oleh bukti ketika Tepu Karaeng Daeng Tarabung, Karaeng Bontolangkasa, raja Gowa ke XIII (1590-1593) diterjang gelombang pemberontakan oleh rakyatnya sendiri, lantaran memerintah secara zalim. Beliau ‘diusir’ dari kerajaannya pada tahun 1593.

Pribahasa Bugis, Ada-adanna tho riolota"

0 komentar

Pribahasa Bugis, Ada-adanna tho riolota"

  • tEpEtuu mao ePeG, tEpolo msElomoea. Teppettu maoompennge’, teppolo massellomoe’.

(Tak akan putus yang kendur, tak akan patah yang lentur).

Artinya: Peringatan agar bijaksana menghadapi suatu permasalahan. Toteransi dan tenggang rasa perlu dipupuk supaya keinginan tercapai tanpa kekerasan.

  • turukiea ainpEsu pdai tonGiea lopi sEbo. Turukie’ inapessu, padai tonangie’ lopi sebbok. 

(Menuruti hawa nafsu ibarat menumpang perahu bocor).

Artinya: Jika menuruti hawa nafsu, lenyaplah pengendalian diri. Oleh karena itu, setiap usaha yang dilandasi hawa nafsu, yang berlebihan bisa berakhir dengan kegagalan.  

  • rEb siptoKo, mli siprep ; siruai emRE tE siruai no, mlilu sipkaiGE maiGEpi mupj.Rebba sipatokkong, mali siparappe’, sirui me’nre tessurui nok, malilusipakainge, maingeppi mupaja. 

(Rebah saling menegakkan, hanyut saling mendamparkan, saling menarik ke atas dan tidak saling menekan ke bawah, terlupa saling mengingatkan, nanti sadar atau tertolong barulah berhenti).

Artinya: Pesan agar orang selalu berpijak dengan teguh dan berdiri kokoh dalam mengarungi kehidupan. Harus tolong-menolong ketika menghadapi rintangan, dan saling mengingatkan untuk menuju ke jalan yang benar. Hal itu akan akan tenwujud masyarakat yang aman dan sejahtera.

  • pl aurgea, tEbek toGEeG tEcau meagea, tEsieaw siyulea. Pala uragae’, tebakke’ tongennge’ teccau mae’gae’, tessie’wa siyulae’.

(Berhasil tipu daya, tak akan musnah kebenaran, tak akan kalah yang banyak, tak akan berlawanan yang berpantangan).

Artinya: Tipu day, mungkin berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran tidak akan hilang. Kebenaran akan tetap hidup bersinar terus dalam kalbu manusia karena akan ia datang dari sumber yang hakiki, yaitu Tuhan YME.

  • troai tElE linoea, tElai epsonku ri msglea.  Taroi telleng linoe’, tellaing pe’sonaku ri masagalae’. 

(Biar dunia tenggelam, tak akan berubah keyakinanku kepada Tuhan).

Artinya: Apapun yang terjadi, keyakinan yang sudah dihayati kebenarannya tidak boleh bergeser, karena segala kesulitan di dunia ini hanyalah tantangan untuk menguji keimanan sescorang.

  • aj mupoloai aolon tauea. Ajak mapoloi olona tauwe’. (Jangan memotong (mengambil) hak orang lain.

Artinya: Memperjuangkan kehidupan adalah sesuatu yang wajar, tetapi jangan menjadikan perjuangan itu pertarungan dengan kekerasan yaitu saling merampas rezeki orang lain.
nerko mealoko medec ri jm jmmu atGko ri bet lea. aj muaolai betl sigru gruea tutuGi betl mkEsieG tuPun.
Nare’kko mae’lokko made’ceng ri jama-jamammu, attanngakko ri bate’lak-e’. Ajak muolai bate’lak sigaru-garue’, tuttungngi bate’lak makessingnge’ tumpukna. (Kalau mau berhasil dalam usaha atau pekerjaanmu, amatilah jejak-jejak. Jangan mengikuti jejak yang simpang siur, tetapi ikutlah jejak yang baik urutannya).

Artinya: Jejak yang simpang siur adalah jejak orang yang tidak tentu arah tujuan. Jejak yang baik urutannya adalah jejak orang yang berhasil dalam kehidupan. Sukses tak dapat diraih dengan semangat saja, melainkan harus dibarengi dengan tujuan yang pasti dan jalan yang benar.
tuupuai n tEri tuRuGi n micw.
Tuppui naterri, turungngi name’cawa. (Mendaki ia menangis, menurun ia tertawaun).

Artinya: Setiap keadaan ada timbal baliknya. Ada dua hal yang silih berganti dalam kehidupan. Maka bersiaplah menghadapi dua kemungkinan itu. Jangan takabur (sombong) jika sedang merasakan kebahagiaan, karena nanti akan merasakan kesedihan juga. Demikian pula sebaliknya, jangan terlampau bersedih jika dirundung malang, karena dari situlah proses terjadinya kebahagiaan bakal dimulai.
mN mN muai ealomu tbolo bErE iaiymi npitoko mnu.
Manya manya mui ellokmu tabbollo berrek, iami napittokko manuk. (Berhati-hatilah dengan hasratmu, kelak tertumpah bagaikan beras lalu engkau dicotok ayam).

Artinya: Memperlihatkan hasrat yang berlebihan sama halnya nunjukkan kepribadian yang lemah. Dengan menampakkan kelemahan berarti membuka peluang bagi orang yang bermaksud jahat melaksanakan niatnya.
aiy medeceG mbua tsrm.
Ia de’ce’nnge’ mabuang tassanrama. (Kebaikan itu meski pun jatuh tersangkut jua).

Artinya: Kebaikan kadang tertutup oleh gelapnya keadaan. Akan tetapi suatu saat akan tampak dalam nurani manusia yang mencintai kebaikan.

siedec edecn ad edea riyolon aEK rimuRi. sijn ad eaK riyolo ed ri muRi.
Side’ce’ng-de’ce’nna ada de’k-e’ riolona, engka rimumnri. Sijakna ada engka riolona de’k-e’ rimunri. (Sebaik-baiknya bicara ialah yang kurang komentar tetapi didukung oleh kenyataan. Seburuk-buruk bicara adalah yang banyak komentar tetapi tidak didukung oleh kenyataan).

Artinya: Sedikit bicara tetapi banyak kerja lebih baik daripada banyak bicara tetapi tidak bekerja.
auG tbkea ri subuea nerko noPoki aEso pjni baun.
Unga tabbakkae’ ri subue’ nare’kko nompokni essoe’ pajani baunna. (Kembang mekar di waktu subuh, di kala matahari terbit baunya pun hilang).

Artinya: Jangan langsung percaya atau gembira mendengar berita atau janji yang muluk-muluk, sebab berita tersebut mungkin saja tidak sesuai dengan kenyaataan.
ecec pon ekl ekl tEGn spu ri plE cpn.
Cecceng Ponna, kella-kella tenngana, sapuripalek cappakna. (Serakah awalnya, tamak pertengahannya, licin tandas akhirnya).

Artinya: Sejauh keserakahan bertambah, sejauh itu pula menghanyutkan yang baik dan akan berakhir dengan kehancuran.
sd mpbti ad, ad mpbti gau, gau mpbti tau.
Sadda mappabati' ada, ada mappabati' gau, gau’ mappabati' tau. (Bunyi mewujudkan kata, kata menandakan perbuatan, perbuatan menunjukkan manusia).

Artinya: Kedudukan dan peranan orang Bugis lebih ditentukan oleh perbuatan daripada nama yang bersangkutan. Dengan kata lain, kata dan perbuatan seseorang akan menentukan derajat nilai seseorang dalam masyarakat.

Iyya nanigesara’ ada' 'biyasana buttaya tammattikamo balloka, tanaikatonganngamo jukuka, annyalotongi ase’yo. (Jika dirusak adat kebiasaan negeri maka tuak berhenti menitik, ikan menghilang pula, dan padi pun tidak menjadi).

Artinya: Jika adat dilanggar berarti melanggar kehidupan manusia. Akibatnya bukan hanya dirasakan oleh yang bersangkutan, tetapi juga oleh seluruh anggota masyarakat, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan alam semesta.
pur bbr soPEku pur tKisi goliku aulEbirEni tElEeG nto wliea.
Pura babbara' sompekku, pura tangkisi' golikku, ulebbirenni tellennge’ nato'walie’.(Layarku sudah berkembang, kemudiku sudah terpasang, lebih baik tenggelam daripada kembali).

Artinya: Semangat yang mengandung makna kehati-hatian dan didasarkan atas acca (mendahulukan pertimbangan yang matang). Pelaut Bugis tak akan berlayar sebelum tiang, jangkar, serta tali-temali diperiksa cermat dan teliti. Di samping itu juga memperhatikan waktu dan musim yang tepat untuk berlayar. Setelah segala sesuatunya meyakinkan, barulah berlayar.
alai eced riesesn aEKai mepedec sePyGi meagea ri esesn aEKai meag mksol
Alai cedde'e risesena engkai mappedeceng, sampeanngi maegae risesena engkai maega makkasolang. (Ambil yang sedikit jika yang sedikit itu mendatangkan kebaikan, tolak yang banyak apabila yang banyak itu mendatangkan kebinasaan).

Artinya: Mengambil sesuatu dari tempatnya dan meletakkan sesuatu pada tempatnya, termasuk perbuatan mappasitinaja (kepatutan). Kewajiban yang dibaktikan memperoleh hak yang sepadan merupakan suatu perlakuan yang patut. Banyak atau sedikit tidak dipersoalkan oleh kepatutan, kepantasan, dan kelayakan.
blC mnEmuai wrprmu aebena mnEmuai aiy kiy aj muplaoai modlmu aEREeG beg lbmu.
Balanca manemmui waramparammu, abbeneng manemmui, iyakiya aja' mupalaowi moodala'mu enrennge’ bagelabamu. (Boleh engkau belanjakan harta bendamu, dan pakai untuk beristri, namun janganlah sampai kamu menghabiskan modal dan labamu).

Artinya: Peringatan pada para pedagang (pengusaha) agar dalam menggunakan harta tidak berlebihan sehingga kehabisan modal dan membangkrutkan usahanya.
siri eami riaorow ri lino.
Siri'e’ mi rionrowong ri-lino. (Hanya untuk siri'itu sajalah kita tinggal di dunia).

Artinya: Dalam pepatah ini ditekankan bahwa siri’ sebagai identitas sosial dan martabat pada orang Bugis, dan jika memiliki martabat itulah, hidup menjadi berarti.
adEea tEmek an tEmek apo.
Ade'e’ temmakke-anak' temmakke’-e’po. (Adat tak mengenal anak, tak mengenal cucu).

Artinya: Dalam menjalankan norma-norma adat tidak boleh pilih kasih (tak pandang bulu). Misalnya, anak sendiri jelas-jelas melakukan pelanggaran, maka harus dikenakan sanksi (hukumman) sesuai ketentuan adat yang berlaku.

Ka-antu jekkongan kammai batu nibuanga naung rilikua; na-antu lambu suka kammai bulo ammawanga ri je’ne’ka, nuassakangi poko’na ammumbai appa’na, nuasakangi appa’na ammumbai poko’na. (kecurangan itu sama dengan batu yang dibuang kedalam lubuk; sedangkan kejujuran laksana bambu yang terapung di air, engkau tekan pangkalnya maka ujungnya timbul, engkau tekan ujungnya maka pangkalnya timbul).

Artinya: Kecurangan mudah disembunyikan, namun kejujuran akan senantiasa tampak dan muncul ke permukaan.
mtulu pEerjo tEpEtu sirRE pdpi mpEtu iaiy.
Mattulu’ perejo te’pe’ttu siranreng, padapi mape’ettu iya. (Terjalin laksana tali pengikat batang bajak pada luku yang selalu bertautan, tak akan putus sebelum putus ketiganya)

Artinya: Ungkapan ini melambangkan eratnya persahabatan. Masing-masing saling mempererat dan memperkuat, sehingga tidak putus jalinannya. Apabila putus satu, maka semua putus.
naiy riysEeG pnw nw mpciGi riatin spai ri nwnan nloloGEGi sinin adea aEREeG gauea npoelai j aEREeG npoelai edec.
Naia riyasennge’ pannawanawa, mapaccingi riatinna, sappai rinawanawanna, nalolongenngi sininna adae’ enrenge’ gau’e’ napolei’ ja’ enrenge’ napolei’ de’ceng.(Cendekiawan (pannawanawa) ialah orang yang ikhlas, yang pikirannya selalu mencari-cari samapai dia menemukan pemecahan persoalan yang dihadapi demikian pula perbuatan yang menjadi sumber bencana dan sumber kebajikan).

Artinya: Ungkapan ini menggambarkan posisi orang pandai di masyarakatnya.
aj mumtEbE ad ap aiytu adea meag bEtuwn muatutuaiwi lilmu ap iaiy lilea pewrE ewrE.
Aja' mumatebek ada, apak iyatu adae’ mae’ga bettuwanna. Muatutuiwi lilamu, apak iya lilae’ pawere’-were’.(Jangan banyak bicara, sebab bicara itu banyak artinya. Jaga lidahmu, sebab lidah itu sering mengiris).

Artinya: Peringatan agar setiap orang selalu menjaga kata-kata yang diucapkan jangan sampai menyakiti hati orang lain.
aju mluruea mi riwl perw bol.
Aju malurue’mi riala parewa bola. (Hanyalah kayu yang lurus dijadikan ramuan rumah).

Artinya: Rumah sebagai perlambang dad pemimpin yang melindungi rakyat. Hanya orang yang memiliki sitat jujur yang layak dijadikan pemimpin, agar yang bersangkutan dapat menjalankan fungsi perannya dengan baik.
duuw lalE tEPEdi ri yol aiynritu llEn psriea aEREeG llEn p golea.
Duwa laleng tempekding riola, iyanaritu lalenna passarie’ enrennge’ lalenna. Paggollae’. (Dua cara tak dapat ditiru, ialah cara penyadap enau dan cara pembuat gula merah).

Artinya: Jalan yang ditempuh penyadap enau tidak tentu, kadang dari pohon ke pohon lain melalui pelepah atau semak belukar, sehingga dikiaskan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Pembuat gula merah umumnya tak menghiraukan kebersihan, lantaran itu banyak tak diketahui orang.

Lapa nakulle’ taue’ mabbaina narekko naulle’ni magguli-lingiwi dapurenge’ we’kka pitu. (Apabila se orang ingin beristeri, harus sanggup mengelilingi dapur tujuh kali).

Artinya: Di sini dapur merupakan perlambang dari masalah pokok data, kehidupan rumah tangga. Sedangkan tujuh kali merupakan padanan terhadap jumlah hari yang juga tujuh (Senin sampai Minggu). Maksudnya, sebelum berumah tangga harus memiliki kesanggupan memikul tanggung jawab menghidupi keluarga setiap hari.
ed nlbu aEsoea ri tEGn bitrea.
De’k nalabu essoe’ ri tenngana bitarae’. (Tak akan tenggelam matahari di tengah langit).

Artinya: Manusia tidak akan mati sebelum takdirnya sampai. Oleh karena itu, keraguan harus disingkirkan dalam menghadapi segala tantangan hidup.
jgai wi blimu sisE mualitutuai rGEmu ewk sEpulo nsb rGEmu ritu bias mCji bli.
Jagaiwi balimmu siseng mualitutui rangemmu wekka seppulo nasaba rangemmu ritu biasa mancaji bali. (Jagalah lawanmu sekali dan jagalah sekutumu sepuluh kali lipat sebab sekutu itu bisa menjadi lawan).

Artinya: Terhadap lawan sikap kita sudah jelas, namun yang harus lebih diwaspadai jangan sampai ada kawan berkhianat. Sebab, lawan menjadi bertambah dan membuat posisi rentan karena yang bersangkutan mengetahui rahasia (kelemahan) kita.
lEbi ai cau caurEeG n pElorEeG.
Lebbik-i cau-caurennge’ napellorennge’. (Lebih baik sering kalah daripada pengecut).

Artinya: Orang yang sering kalah, masih memiliki semangat juang meskipun lemah dalam menghadapi tantangan. Sedangkan seorang pengecut, sama sekali tak memiliki keberanian ataupun semangat untuk berusaha menghadapi tantangan.
mlai bukurup ri cauea mplib ri mej ri pGRoea.
Malai bukurupa ricau’e, mappalimbang ri maje’ ripanganroe’. (Memalukan kalau dikalahkan, mematikan kalau ditaklukkan).

Artinya: Dikalahkan karena keadaan memaksa memang memalukan. Sedangkan takluk sama halnya menyerahkan seluruh harga diri, dan orang yang tidak memiliki harga diri sama halnya mati.
naiy tau mlEPuea mGuru mnai tau sogiea.
Naiya tau malempuk-e’ manguruk manak-i tau sugi-e. (Orang jujur sewarisan dengan rang kaya).

Artinya: Orang jujur tidak sutit memperoleh kepercayaan dari orang kaya karena kejujurannya.
mess pG tEmess api mess api tE mess botorE.
Masse’sa panga, temmase’sa api, masse’sa api temmas’esa botoreng. (Bersisa pencuri tak bersisa api, bersisa api tak barsisa penjudi).

Artinya: Sepintar-pintarnya pencuri, dia tidak mampu mengambil semua barang (misalnya mengambil rumah atau tanah). Akan tetapi sebesar-besarnya kebakaran hanya mampu menghancurkan barang-barang (tanah masih utuh). Akan tetapi seorang penjudi dapat menghabiskan seluruh barang miliknya (termasuk tanah dalam waktu singkat).
mau meag pbiesn nboGo po lopin etaw n lurE.
Mau mae’ga pabbise’na nabonngo ponglopinna te’a wa' nalureng. (Biar banyak pendayungnya, tetapi badoh juru mudinya takkan ku jadi penumpangnya).

Artinya: Kebahagiaan rumah tangga ditentukan oleh banyak ha , tetapi yang paling menentukan adalah kecakapan dan rasa tanggung jawab kepala rumah tangga itu sendiri.
naiy acea riptopoki ejko agto aliri etyai mrEdu mpoloai.
Naiya accae ripatoppoki je’kko, aggato aliri, nare’kko te’yai maredduk, mapoloi.(Kepandaian yang disertai kecurangan ibarat tiang rumah, lalu tidak tercerabut ia akan patah).

Artinya: Di Bugis, tiang rumah dihubungkan satu dengan yang lain menggunakan pasak. Jika pasak itu bengkok sulit masuk ke dalam lubang tiang, dan patah kalau dipaksakan. Kiasan terhadap orang pandai tetapi tidak jujur. Ilmunya tak akan mendatangkan kebaikan (berkah), bahkan dapat membawa bencana (malapetaka).
nerko mealoko tikE esauw aolokolo spai betln. nerko del spai meagn betl tau.
Narekko mae’lokko tikkeng se’uwa olokolok sappak-i bate’lana. Narekko sappakko dalle’k sappak-i mae’gana bate’la tau. (Kalau ingin menangkap seekor binatang, carilah jejaknya. Kalau mau rezeki, carilah di mana banyak jejak manusia).

Artinya: Pada hakikatnya, manusialah yang menjadi pengantar rezeki, sehingga di mana banyak manusia akan ditemui banyak rezeki.
Kamis, 06 Agustus 2015

Pemandian Alam Air Panas Lejja

1 komentar
Pemandian Alam Air Panas Lejja


Suhu air di pemandian ini bisa mencapai 60 derajat celcius sehingga sering dipercayai dapat menyembuhkan penyakit gatal-gatal dan rematik. Pemandian ini berada di daerah pegunungan, memiliki panorama alam yang indah, sejuk dan sangat menarik untuk dikunjungi untuk berrekreasi. Terletak di Desa Bulu, Kecamatan Marioriwa sekitar 44 Km dari kota Watansoppeng.

Lejja, bukan kata dari bahasa India, tapi kata dari bahasa Bugis yang berarti 'pijak'. Merupakan nama sebuah tempat wisata permandian nun jauh di tengah hutan sana, di kecamatan Marioriawa, sekira 30 kilometer jaraknya dari Watansoppeng, ibu kota Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan.

Hutannya bukan sembarang hutan, tapi hutan yang masih perawan dan dilindungi oleh pemerintah. Pelbagai peringatan dipasang, salah satunya berbunyi: Satu Batang Korek Api Dapat Memusnahkan Ribuan Pohon. Biaya Rp 1.500 per orang juga dipungut untuk biaya pemeliharaan hutan yang terdiri dari pohon beragam jenis: jati, palem, putat, dan lainnya.
Pengunjung disediakan tiga kolam untuk berenang, satu untuk anak-anak dan dua untuk orang dewasa. Airnya bersumber dari mata air alami pegunungan yang mengalir terus-menerus, 'tak pernah berhenti. Yang unik dari air itu adalah suhunya yang panas. Saking panasnya, kata orang, telur bisa masak jika ditaruh di atasnya.
Tiket masuk Lejja hanya Rp 5.000 untuk orang dewasa dan Rp 2.500 untuk anak-anak. Fasilitasnya cukup lengkap: musholla, ban untuk berenang, tikar untuk duduk-duduk santai, toilet, tempat penginapan, dan ruang meeting. Kalau lapar, jajaran pedagang kaki lima siap melayani. 

Lejja, dengan hutan alami dan mata air panasnya, merupakan tempat wisata permandian andalan Sulawesi Selatan.

Kabupaten Soppeng yang berjarak 200 km di utara kota Makassar menyimpan obyek wisata yang tak kalah menariknya dengan obyek wisata lainnya di sekitar kota Makassar. Kabupaten Soppeng ini mendapat julukan Kota Kalong karena di ditempat ini banyak terdapat kelelawar di setiap pohon yang ada di sepanjang kota ini. Di Kota Kalong ini terdapat wisata air panas dengan nama Pemandian Alam Air Panas Lejja.
Pemandian Alam Air Panas Lejja berada di kawasan hutan lindung berbukit dengan panorama yang indah di Desa Bulu, Kecamatan Marioriawa, 44 km utara Kota Watansopeng yang merupakan ibukota Kabupaten Soppeng. Di tempat ini memiliki sumber air panas dengan suhu mencapai 60�C yang dipercaya bisa menyembuhkan gatal-gatal dan rematik. Pemandian ini merupakan obyek wisata andalan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Fasilitas di Pemandian Alam Air Panas Lejja ini cukup memadai dengan adanya kolam pemandian umum dan private, toilet, ruang bilas, tempat ganti pakaian, pondok peristirahatan, lapangan tenis dan baruga wisata sebagai tempat pertemuan yang bisa menampung 300 orang. Untuk kolam pemandian private disediakan dengan rumah panggung kecil yang memiliki kolam di belakangnya dengan lebar 3 meter. Sedangkan untuk kolam pemandian umumnya terdapat 5 kolam dengan fungsi yang berbeda :

Kolam I: airnya sangat panas, harus berhati-hati jika berada di tempat ini karena telur yang dicelupkan di kolam ini bisa menjadi setengah matang.
Kolam II: kolam dangkal dengan air suam-suam kuku yang bisa dipakai untuk anak-anak kecil atau bagi kamu yang tidak bisa berenang bisa juga memakai kolam ini.
Kolam III: kolam dengan kedalaman sebatas leher dan air suam-suam kuku untuk orang dewasa. Ada pelampung yang disewakan jika kamu takut berenang di kolam ini.
Kolam IV: air di kolam ini sudah normal, tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin dan kolam ini khusus orang dewasa saja.

Kolam V: kolam yang berada di sebelah timur ini dilengkapi dengan papan loncatan.
Kamu juga bisa melihat sumber air panasnya. Ada jalan setapak di sebelah kolam pemandian menuju bukit. Di sana akan ada sungai kecil dengan air panas dan bebatuan yang dialiri air panas dan mengeluarkan asap. Sampai di ujung jalan kamu bisa menemui pohon yang dibawah akarnya terdapat lubang dengan diameter sekitar 50 cm. Disitulah sumber air panas Pemandian Air Panas Lejja berasal Jangan heran kalau di sekitar pohon tersebut banyak terdapat kaleng dan botol yang diikat karena menurut informasi hal itu merupakan simbol pengharapan bagi yang menggantunggkan botol atau kaleng tersebut, dimana ketika harapan tersebut sudah terwujud maka orang tersebut akan datang lagi ke Lejja untuk melepas ikatan botol atau kalengnya dan juga sebagai simbol pengikatan hubungan pasangan sejoli yang datang ke tempat ini.

Akses ke Pemandian Alam Air Panas Lejja transport

Untuk mencapai tempat ini  harus melalui jalanan yang berliku dan terjal. Sebaiknya kamu menggunakan kendaraan bermotor untuk menuju tempat ini agar bisa menikmati keindahan alam sepanjang perjalanan menuju Pemandian Air Panas Lejja. Sesampainya di pintu gerbang pemandian ini kamu bisa memilih salah satu dari 2 pilihan jalan masuknya: melalui jalan dengan kendaraan yang bisa langsung sampai di dekat kolam pemandian atau melalui jalan dengan menyusuri tangga dengan panorama alam sekitar yang indah. Tiket untuk masuk ke pemandian ini seharga Rp. 5.000,-/orang untuk orang dewasa dan Rp. 2.500,-/orang untuk anak-anak.

Pulau Dutungan, Pesona Tak Tertandingi Kabupaten Barru.

0 komentar
Pulau Dutungeng


Pulau Dutungan, Pesona Tak Tertandingi Kabupaten Barru.

Pulau dengan luas sekitar 9 Ha ini memiliki hamparan pasir putih yang indah di sisi luarnya. Dikelilingi pemandangan laut yang biru anda dijamin akan merasa betah untuk tinggal berlama-lama di tempat ini. Berlokasi di Desa Cilelang sekitar 48 Km dari Kota Barru.
Beberapa hari sebelumnya, saya dan teman-teman memutuskan untuk melakukan one day trip ke pulau. Awalnya kami ingin mengunjungi Pulau Cangke, cuma waktu tempuhnya memakan waktu 3 jam dan cuaca sedang tidak bersahabat. Oleh karena itu, kami ganti haluan ke Pulau Dutungan.

Pulau Dutungan letaknya di Kab. Barru. Untuk menuju ke sana, kita memerlukan waktu 2,5 jam (menggunakan mobil pribadi) dari Makassar ke dermaga penyeberangan di Kab. Barru, kemudian 10 menit menyeberang ke pulau Dutungan menggunakan perahu. Harga tiket untuk menyeberang ke Pulau Dutungan pulang-pergi adalah Rp. 30.000,- / orang. Cukup terjangkau. Untuk rutenya tersendiri, cukup mengikuti jalan poros Makassar menuju Kab. Barru. Sebelum mencapai perbatasan antara Kab. Barru dan Kota Pare-pare, akan ada papan petunjuk Lokasi Pulau Dutungan, kemudian belok kiri dan lurus saja, sekitar 800 M kemudian kita akan sampai di dermaga penyeberangannya.

Pulau Dutungan sendiri sangat indah dan tenang. Di bagian depan pulau dibangun penginapan-penginapan yang ditata dengan cantik. Harga penginapannya dibanderol dengan harga 250.000-350.000. Toilet umum dan air bersih juga tersedia dengan gratis. Bagi pengunjung yang tidak ingin menginap, bisa menggunakan bale-bale (tempat duduk) yang disediakan untuk beristirahat. Di bagian belakang pulau, tidak berpenghuni, terdapat jalan setapak yang menuju hutan kecil yang pada akhirnya akan tembus ke pantai depan.

Untuk sekedar bersantai atau bosan dengan hiruk pikuk perkotaan, saya merekomendasikan pulau ini. Akan tetapi, sebaiknya sebelum ke Pulau Dutungan ada baiknya menyediakan bekal terlebih dahulu karena di sana tidak terdapat satupun pedagang. Bagi yang suka snorkeling, Pulau Dutungan lumayan bagus juga, cuma diharapkan membawa peralatan sendiri, karena di sana tidak ada penyewaan alat-alat snorkeling.

Ke’te Kesu

0 komentar
Ke’te Kesu


Ke’te Kesu berarti pusat kegiatan, dimana terdapatnya perkampungan, tempat kerajinan ukiran, dan kuburan. Pusat kegiatannya adalah berupa deretan rumah adat yang disebut Tongkonan, yang merupakan obyek yang mempesona di desa ini. Selain Tongkonan, disini juga terdapat lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. Terletak sekitar 4 Km dari tenggara Rantepao.

Sebagai salah satu desa yang berlokasi di Toraja, di Sulawesi Selatan, tempat ini menyajikan berbagai ragam unsur-unsur kebudayaan masyarakat Toraja yang tidak selalu ditemui di beberapa tempat. Di tempat ini Anda bisa melihat tongkonan (rumah), alang (lumbung padi), tempat pembuatan kerajinan tangan hingga kuburan khas Toraja.

Kata ‘Kete Kesu’ sendiri adalah ‘pusat kegiatan’, dimana di sinilah tempat utama untuk menjadi obyek wisata, dan dimana wisatawan lokal maupun internasional datang untuk untuk melihat bangunan rumah penduduk asli yang masih terjaga dengan baik. Anda pun juga bisa melihat ukiran untuk rumah adapt seperti hiasan dinding, souvenir dan tau-tau (patung untuk menghormati orang yang sudah meninggal). Di tempat ini pun memiliki dua jenis kuburan, yaitu yang di letakkan di bukit batu dan yang berupa bangunan. Untuk I-Listeners yang ingin datang ke tempat ini, dikenakan biaya sekitar Rp 5000,-

Salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi jika berkunjung ke Toraja, Sulawesi Selatan adalah perkampungan Kete’kesu. Kata kete’kesu berarti “pusat kegiatan”. Daya tarik utama dari kete’kesu adalah rumah khas penduduk Toraja yang masih terjaga keasliannya. Namun yang tak kalah menarik dari Kete’kesu adalah keberadaan kuburan keluarga penduduk setempat. Penduduk Toraja memiliki adat budaya yang cukup unik dalam hal makam keluarga. Mereka sengaja meletakkan jasad seluruh anggota keluarga mereka dalam satu Erong. Erong adalah peti mati orang Toraja jaman dulu. Erong terbuat dari kayu dengan corak berbentuk hewan. Dikarenakan umur kuburan yang sudah sangat tua, banyak tumpukan erong ‘peti mati’ yang melapuk sehingga nampak tulang- belulang berserakan di alam terbuka. Salah satunya yang saya dokumentasikan dalam foto ini. Tulang-belulang dalam foto ini merupakan tulang- belulang yang berasal dari satu keluarga utuh. Mereka dikumpulkan dalam satu erong ‘peti mati’. Sungguh kebudayaan yang menarik untuk kita ketahui.

Kampung Adat Ammatoa

0 komentar
Kampung Adat Ammatoa


Keindahan alam berupa kelestarian kawasan hutan merupakan ciri dari kawasan adat ini, serta budaya hidup masyarakatnya yang jauh dari pola hidup modern. Ciri masyarakat kajang yang ada di Desa Tana Toa yang tampak sehari-hari yaitu pakaian dengan warna serba hitam, sedangkan ciri bangunan rumahnya seragam menghadap ke Utara. Masyarakatnya dipimpin oleh seorang yang bergelar Amma Toa dengan masa kepemimpinan seumur hidup. Terletak di Kecamatan Kajang, sekitar 56 Km dari kota Bulukumba.
Kampung Adat Ammatoa

Jalan-jalan ke Sulawesi Selatan LAGI. Ga tau kenapa, jalan” ke tempat ini ga pernah bosen. Selalu ada objek menarik yang harus di kunjungin. Salah satunya Kampung Adat Ammatoa ini. Salah satu tempat wisata adat yang wajib banget dikunjungin kl maen ke Sulawesi Selatan. Tempatnya ada di Kajang, masih termasuk wilayah Bulukumba.

MENARIK. Tempat ini punya tradisi khusus,  yaitu yang masuk tempat ini harus menggunakan pakaian berwarna hitam. HARUS! Sebelum masuk ke tempat ini, kita harus mengisi buku tamu dulu di rumah Kepala Desa Tanah Towa. Disini kita bisa tau pengantar mengenai Kampung adat ini secara singkat dari kepala desanya atau para pemuda atau tokoh daerah tersebut yang suka berkumpul disini. sekilas pengantar yang saya tau tentang kampung adat ini adalah mereka memang menggunakan pakaian serba hitam, tidak menggunakan alas kaki, dan juga semua teknologi tidak masuk ke sana. WAW. Bisa dibayangkan kehidupan tanpa teknologi, buat saya, susaaaah!


Dengan menggunakan pakaian yang serba hitam dan tanpa menggunakan alas kaki, kami datang mengunjugi tempat ini. HIAAA. Kesan pertama, SEPI, HENING, dan NYAMAN.

Gak ada kendaraan, hanya ada kuda. Ga ada teknologi (lampu, listrik, tv apalagi hp) yang masuk ke kampung adat ini. Saya KAGUM. Memasuki tempat ini tanpa menggunakan alas kaki itu, wah banget, banyak banget batu”, tapi itung” treatment lah ya *katanya. :D semua rumah disini merupakan rumah panggung kayu. Disini ada 1 sumber air yang biasa digunakan untuk mencuci.


Disini ada pemimpin kampungnya, namanya Ammatoa. Belum beruntung, karena beliau sedang keluar menghadiri sebuah acara. Tapi ada sepupunya yang bersedia membagi cerita. Di dalam rumah Ammatoa dilarang mengambil foto. Ga tau kenapa tapi memang itu aturannya. Tapi selidik punya selidik, kata teman ada yg suka mencoba ambil foto diam” (termasuk mengambil foto Ammatoa), hasilnya itu pasti hilang Ammatoanya. Meskipun sudah jelas” tadi di foto *katannya.

Disetiap rumah di sini mempunyai susunan ruangan yg sama. Di paling depan pasti dapur dan kamar mandi (ini katanya supaya org yg bertamu tau kl pemiliknya sedang membuat sesuatu untuk tamunya) soalnya kan kl kita biasanya bertamu ke rumah orang, kita di tinggalkan ke belakang, kadang lama, kita ga tau itu yg punya rumah lagi ngapain, dan pengen cepet” pergi. Taunya itu yg punya rumah lagi bikini minuman. Itu sih contoh kejadiannya kenapa mereka mempunyai tata letak dapur di depan. Rumahnya tidak ada sekatnya, rumah luas berbentuk persegi. Kita bisa langsung melihat kamar tidur. Di lantai 2 tempat menumpuk hasil panen. Dan seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, ga ada teknologi.

Yang menarik buat saya adalah pemilihan Ammatoa, beliau bilang kalo Ammatoa itu adalah orang “terpilih”. Yang ada di benak saya, orang terpilih berarti melalui proses voting atau sejenisnya. Tetapi ternyata belum cukup samapi disitu, beliau bilang, meskipun sudah ada calonnya, dia harus melalui ujian dulu, ujiannya yang saya tangkap seperti mereka harus mandi dengan air, dan siapa yg masih bisa berdiri itu yg menjadi Ammatoa. Herannya adalah hanya benar-benar orang “terpilih” aja yang habis mandi dengan air itu yang masih bisa berdiri. Mungkin kata teman saya, calon yang lainnya itu bisa saja tiba” jadi tidak bisa berdiri/ lumpuh. Memang haya orang” yang berhati bersih aja yang bisa menjadi Ammatoa.

Sebelum keluar dari tempat ini atau sama dengan pintu masuknya, kita bisa melihat tempat pemakamam Ammatoa sebelumnya. Dilihat dari masa kepemimpinanya, rata-rata puluhan taun. Ada juga rumah tenun di tempat ini, digunakan untuk menenun kain khas penduduk Ammatoa ini, kata temen saya sih, harganya 500 ribu per kain.


Sedikit yang mengkhawatirkan adalah sebelum pulang, saya sempat melihat penduduk Ammatoa ini ada yg menggunakan alas kaki (mudah”an Cuma pendatang). Mungkin ini ciri dari mulai terjadi degradasi. Who knows, tapi semoga Ammatoa akan selalu menjadi tempat wisata yang tidak akan pernah luntur adatnya. Ini INDONESIA

Pantai Tanjung Bira

0 komentar
Pantai Tanjung Bira.



Tanjung Bira merupakan pantai pasir putih yang halus dan bersih dengan air laut yang jernih yang sangat terkenal di Sulawesi Selatan. pengunjung juga dapat menyaksikan matahari terbit dan terbenam serta keindahan dua pulau yang ada didepannya yaitu pulau Liukang loe dan pulau Kambing (tidak berpenghuni). Tanjung Bira terletak sekitar 200 km dari Kota Makassar atau 40 km dari Kabupaten Bulukumba. Tempat ini telah dilengkapi fasilitas berupa tempat parkir, penginapan, hotel, villa, bungalow, dan restaurant dan lain-lain. Di kawasan pantai juga terdapat pelabuhan fery yang siap mengantar pengunjung yang ingin berwisata ke pulau Selayar.


Tidak sulit untuk mengagumi pantai ini, hamparan pasir putih dan hijau toska laut memanjakan pandangan sejauh mata memandang. Panorama itu membayar 5 Jam perjalanan berkendara dengan mobil dari Makassar. Memang tidak berapa lama, namun kondisi jalanan yang rusak dan perbaikan jembatan disana-sini cukup membuat pegal badan.

Saat itu pukul 06.30 pagi di Pantai Bira Barat, Pantai ini disibukan oleh nelayan yang baru saja pulang melaut. Tidak banyak memang, namun melihat para nelayan menurunkan hasil tangkapan mereka membuat saya sadar betapa kaya laut negeri kita ini. Bagaimana tidak, sangat beragam hasil tangkapan mereka, kakap merah, ikan pari dan banyak lagi tangkapan yang bahkan saya tidak tahu namanya. Namun nampaknya ada saja yang berbeda dari setiap tangkapan nelayan pagi itu.

Tanjung bira terbagi kedalam dua pantai, Tanjung Bira Barat yang merupakan tempat wisata yang terkenal dan sudah di komersialisasi dan tanjung Bira Timur yang tenang dan tersebunyi. Asiknya, kita bisa melihat sunrise di pantai Bira Timur dan sunset di pantai Bira barat, yang hanya berjarak 5 menit berkendara.

Ketika menyentuh pasir putihnya saya termenung untuk beberapa saat, pasirnya belum pernah saya temukan sebelumnya, begitu halus seperti tepung, bukan butiran seperti biasanya. Bahkan ketika angin berhembus kencang terkadang pasirnya berterbangan terbawa angin.

Saya memiliki kebiasaan aneh menumpulkan pasir pantai yang saya kunjungi, lalu saya simpan dalam toples dan melabelinya sebagai kenangan, terkadang di waktu senggang saya melihat kembali koleksi saya, seperti time capsule untuk memicu lamunan saya akan pengalaman yang saya simpan di dalam otak. Namun untuk pantai Tanjuang Bira, saya urungkan niat saya untuk mengambil pasirnya, jujur saja saya takut di bandara nanti pasir itu dikira sebagai heroin, saking bersih putih dan lembutnya.
Ayo berenang,tunggu apa lagi! Ince, seorang teman saya yang asli pulau Selayar menepuk bahu saya, membangunkan lamunan tentang pasir tepung pantai ini. Tidak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk merasakan segarnya air laut di pagi itu, air laut yang terbentang berwarna hijau bersih dan pantai yang sepi memang bukan untuk disia-siakan.

Diujung horizon, terlihat sebuah pulau yang menggelitik rasa penasaran, adakah yang tinggal disana?indahkah panorama pulau tersebut?budaya unik apakah yang dimiliki oleh pulau tersebut?. Nama pulau itu adalah Liukang Liu, sulit bagi saya untuk memendam rasa penasaran saya setelah disodori pantai seindah Tanjung Bira, pasti di “pulau itu ada yang lebih menarik lagi” otomatis angan saya berandai.

Saat makan siang nasi bungkus di warung, Ince menceritakan akan indahnya koral dan kehidupan bawah laut di dekat pulau Liukang Liu, pulau yang terlihat dari pantai tadi. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa kapal untuk mengunjungi pulau tersebut sekalian snorkeling. “250 ribu” seorang bapak menawarkan jasa kapal kecil untuk snorkeling, ke pulau liukang dan mengunjungi penangkaran penyu dimana kita bisa berenang bersama beberapa ekor penyu besar. “tidak bisa ditawar, harga pas…bonusnya saya pinjamkan lagi snorkeling 2 buah” tegasnya lagi setelah kami mencoba menawar. Kami bukan negotiator handal, terlebih ketika bayangan snorkeling bersama penyu sudah tertanam di benak kami.
Arus lumayan kuat saat itu, jadi pemandangan sedikit keruh dan sulit untuk berenang snorkeling, namun tidak mengurangi keindahan koral yang ada di tepian pulau Liukang Liu. Setelah 20 menit bersenorkel ria, kami pun tiba di penangkaran penyu yang sebenarnya lebih cocok dibilang kolam penyu, karena tidak ada fasilitas penamngkaran dan pengelolaan penyu. Hanya kolam sebesar kira-kira 30 meter persegi diisi oleh beberapa ikan penyu yang berenang lemas kebingungan. Dibuat sebagai daya tarik wisata agar pelancong bisa berenang dan berfoto bareng penyu. Sedih.

Selain wisata bahari, saya juga mengunjungi salah satu daya tarik Tanjung Bira lainnya yang unik, yaitu pembuatan kapal phinisi tradisional. Yang terkenal memang di desa Tana Beru, sekitar 20 menit dari Tanjung Bira, namun di Dusun Tanetang yang terletak di Pantai Bira Timur, juga terdapat pembutan kapal phinisi. Dan asyiknya lagi, kapal dibuat di bibir pantai yang menawan. Kesempatan untuk menikmati indahnya pantai sekaligus belajar dari budaya pembuatan phinisi tradisional.

Ketika itu ada 2 kapal phinisi yang sedang dibuat, beruntungnya kapal yang sedang dibuat adalah kapal paling besar, yaitu sepanjang 50m pesanan orang Portugal yang dipesan dari Bali. Kala itu pengerjaan baru 7 bulan dari target 10 bulan, jadi bentuk kapal sudah terlihat dan bisa dinaiki. Pembuatan kapal phinisi dilakukan dengan cara tradisional, dengan mengadopsi teknologi dan bahan yang modern sesuai pesanan.

Sore hari, kembali saya menunggu sunset di pantai Bira Barat, tentunya dengan kembali berenang di laut yang sudah mulai sepi. Lamunan saya membawa jauh menerawang ketika saya berendam di pantai ini. Pasir pantai ini memang Heroin, ketenangan pantai yang selaras dengan keindahan panoramanya dapat membius pikiran saya untuk membawa angan ini melayang mengenang apa saja yang membuat saya tersenyum.

Malino

0 komentar
Malino.

Tempat Wisata di Sulawesi Selatan - Malino Selain terkenal dengan keindahan panorama lautnya, Sulawesi Selatan juga menyediakan panorama alam pegunungan yang tak kalah indahnya salah satunya adalah Malino. Malino merupakan tempat wisata di Sulawesi Selatan yang memberikan pemandangan alam pegunungan dan dataran tinggi yang sangat sejuk dan memanjakan mata. Tempat wisata yang berada sekitar 90 km dari pusat kota Makassar ini menyajikan keindahan pegunungan bahkan sebelum anda mencapai tempat tujuan. Selama perjalanan anda akan dimanjakan dengan hutan pinus serta keindahan batu kapur yang indah. tempat wisata yang sudah terkenal sejak zaman Belanda ini selain menyajikan panorama pegunungan juga memberikan keindahan banyak air terjun yang tidak boleh anda lewatkan. selain itu, karena udara pegunungan yang dingin tempat ini juga memberikan wisata lainnya seperti perkebunan teh, lembah biru serta wisata sejarah berupa bunker peninggalan jepang yang menarik. 

Malino adalah kelurahan yang terletak di Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Daerah yang terletak 90 km dari Kota Makassar ke arah selatan ini merupakan salah satu objek wisata alam yang mempunyai daya tarik luar biasa.

Di kawasan wisata Malino sendiri, terdapat hutan wisata, berupa pohon pinus yang tinggi berjejer di antara bukit dan lembah. Jalan menanjak dan berkelok-kelok dengan melintasi deretan pegunungan dan lembah yang indah bak lukisan alam, akan mengantarkan Anda ke kota Malino. Kawasan tersebut terkenal sebagai kawasan rekreasi dan wisata sejak zaman penjajahan Belanda.

Malino memiliki gunung-gunung yang sangat kaya dengan pemandangan batu gamping dan pinus. Berbagai jenis tanaman tropis yang indah,tumbuh dan berkembang di kota yang dingin ini. Selain itu, Malino pun menghasilkan buah-buahan dan sayuran khas yang tumbuh di lereng gunung Bawakaraeng. Sebagian masyarakat Sulawesi Selatan masih mengkulturkan gunung itu sebagai tempat suci dan keramat. Suhu di kota Malino ini mulai dari 10°C sampai 26°C. dan ketika musim hujan, berhati hati sedang berkendara karena, kota ini sering berkabut dan jarak pandangnya 100meter saja.

Perjalanan dari kota Makassar menuju daerah ini memakan waktu sekitar 2 jam. Wisata air terjun seribu tangga, air terjun Takapala, Kebun Teh Nittoh, Lembah Biru, bungker peninggalan Jepang, dan Gunung Bawakaraeng menjadi ciri khas kota Malino. Oleh-oleh khas daerah ini adalah buah Markisa ,dodol ketan, Tenteng Malino, apel, wajik, dll. Malino juga menjadi daerah penghasil beras bagi wilayah Sulawesi Selatan.

 Sebelum muncul nama Malino, dulu rakyat setempat mengenalnya dengan nama kampung ‘Lapparak’. Laparrak dalam bahasa Makassar berarti datar, yang berarti pula hanya di tempat itulah yang merupakan daerah datar, di antara gunung-gunung yang berdiri kokoh. Kota Malino mulai dikenal dan semakin popular sejak zaman penjajahan Belanda, lebih-lebih setelah Gubernur Jenderal Caron pada tahun 1927 memerintah di “Celebes on Onderhorighodon” telah menjadikan Malino pada tahun 1927 sebagai tempat peristirahatan bagi para pegawai pemerintah.


Taman Nasional Bantimurung

0 komentar
Taman Nasional Bantimurung

 
Tempat wisata di Sulawesi Selatan yang wajib untuk anda kunjungi selanjutnya adalah taman nasional Bantimurung. Taman nasional yang terletak di kabupaten Maros atau kurang lebih 45 km dari pusat kota Makassar ini sangat terkenal sebagai kerajaan kupu-kupu karena ada sekitar 250 jenis kupu-kupu yang ada di sana sehingga kupu-kupu dijadikan mascot sebagai tempat wisata ini. Sehingga anda tidak hanya akan disajikan dengan panorama keindahan alam yang menawan akan tetapi juga akan menambah pengetahuan anda. taman dengan luas mencapai 43.750 ha ini selain terkenal dengan jutaan kupu-kupunya yang menawan juga memberikan keindahan alam dengan bukit kapur, air terjun serta gua yang tidak kalah menawan. 

Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung memiliki berbagai keunikan, yaitu: karst, goa-goa dengan stalaknit dan stalakmit yang indah, dan yang paling dikenal adalah kupu-kupu. Bantimurung oleh Alfred Russel Wallace dijuluki sebagai The Kingdom of Butterfly (kerajaan kupu-kupu. Taman Nasional ini merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang menyuguhkan wisata alam berupa lembah bukit kapur yang curam dengan vegetasi tropis, air terjun, dan gua yang merupakan habitat beragam spesies [termasuk [kupu-kupu]].

Taman Nasional ini memang menonjolkan kupu-kupu sebagai daya tarik utamanya. Di tempat ini sedikitnya ada 20 jenis kupu-kupu yang dilindungi pemerintah dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No. 7/1999. Beberapa spesies unik bahkan hanya terdapat di Sulawesi Selatan, yaitu Troides Helena Linne, Troides Hypolitus Cramer, Troides Haliphron Boisduval, Papilo Adamantius, dan Cethosia Myrana. Antara tahun 1856-1857, Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di kawasan tersebut untuk meneliti berbagai jenis kupu-kupu. Wallace menyatakan Bantimurung merupakan The Kingdom of Butterfly (kerajaan kupu-kupu). Menurutnya di lokasi tersebut terdapat sedikitnya 250 spesies kupu-kupu.

Lokasi wisata ini juga memeliki dua buah gua yang bisa dimanfaatkan sebagai wisata minat khusus. Kedua gua itu adalah Gua Batu dan Gua Mimpi.

Selain di kawasan Bantimurung, Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung memiliki berbagai macam lokasi ekowisata yang menarik. Di sana terdapat lebih dari 80 Gua alam dan Gua prasejarah yang tersebar di kawasan karst TN Bantimurung-Bulusaraung.

Taman Laut TakaBonerate Kepulauwan Selayar

0 komentar
Taman Laut TakaBonerate


Bagi anda yang menyukai wisata dalam air, taman laut taka bonerate mampu menjadi pilihan bagi anda. taman laut yang menjadi salah satu unggulan tempat wisata di Sulawesi Selatan ini berada di Kepulauan Selayar ini merupakan surga bagi para penyelam untuk menikmati pemandangan bawah laut serta sangat cocok bagi anda yang mempunyai hobi snorkeling. Anda dapat menikmati berbagai panorama kehidupan bawah laut dengan turut berenang bersama ratusan ikan, penyu, kura-kura serta keindahan terumbu karang yang sangat cantik. Selain indah dengan panorama bawah lautnya, wisata ini juga memberikan harga yang sangat terjangkau. Tarif yang diberikan untuk menikmati keindahan taman ini adalah 25.000 untuk wisatawan domestic serta 60.000 untuk wisatawan mancanegara. Tidak hanya itu, anda dapat menyewa berbagai perlengkapan menyelam hanya dengan 250.000 sehingga anda tidak perlu repot-repot untuk membawa perlengkapannya dari rumah.

Taman Nasional Takabonerate yang terletak di Takabonerate Kabupaten Selayar Sulawesi Selatan merupakan salah satu taman laut yang paling indah di Indonesia. Takabonerate dikenal memiliki karang atol terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, dan terbesar ketiga di dunia setelah Atol Kwajalein dan Suvadiva.

Takabonerate adalah pulau yang menawarkan kelimpahan pemandangan dasar laut yang menakjubkan, seperti kontur dinding tebing, kemiringan, dan dasar laut datarnya. Atolnya membentuk terumbu karang dengan berbagai spesies tanaman laut yang sangat indah yang diketahui ada sebanyak 261 spesies. Atol ini terbentuk dari sisi pegunungan terendam sekitar 2.000 meter di bawah permukaan laut.. Semua adalah terumbu karang yang indah dan relatif masih utuh.Semua itu akan memberi pengalaman yang luar biasa terutama bagi para penggemar penyelam atau dive. Taman laut Takabonerate menyimpan kekayaan alam laut yang murni dan belum terjamah.

Di dalam laut Takabonerate masih bisa ditemukan spesies langka seperti cacing pipih, nudibranch, udang, ikan buaya, kura-kura, cumi-cumi, di hampir setiap titik penyelaman. Pemandangan alamnya pun sangat eksotik dengan hamparan pasir putih yang luas dan air laut bening bak kristal berwarna biru kehijauan.

Sejak 8 tahun yang lalu, investor asing telah mendirikan sebuah investasi usaha patungan dengan Takabonerate Islands Nationals Park atau perusahaan yang terdaftar di Sulawesi Selatan sebagai media untuk memfasilitasi perkembangan objek wisata di daerah ini.

Wisatawan dapat menikmati dan merasakan keindahan Takabonarate selama perjalanan musim terbaik, yaitu dibulan April sampai Juni dan bulan Oktober sampai Desember setiap tahun.

Menjelang bulan November, kembali digelar festival Takabonerate yang ke empat untuk kembali mengeksplorasi keindahannya yang akan digelar pada tanggal 17 – 22 November 2012.

Kegiatan festival Takabonerate ini antara lain :

Fun Dive / Dive Trip
fam Tour / Land Tour
Lomba Underwater Photography
Lomba Tourism Object Photography
Lomba Penulisan Blog
Parade Joloro Hias
Art Performance

Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp.1.900.000/orang mencakup :

– Flight Return (Makasar – Selayar)
– Hotel 4 malam
– Meals 12x
– Dive trip (2 days) – bila belum ada license, tetap bisa ikutan dive discovery
– Dive Gear
– Land tour (2 days)
– Akomodasi lokal
– Art Performance
– Guide lokal
Biaya tidak termasuk :
Flight Return (Lokasi luar – Mks)
Personal Expenses

Pantai Losari Makassar

2 komentar
Keindahan Wisata Pantai Losari di Makasar.


Pantai Losari adalah sebuah pantai yang terletak di sebelah barat kota Makassar, provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Pantai ini menjadi tempat bagi warga Makassar untuk menghabiskan waktu pada pagi, sore dan malam hari menikmati pemandangan matahari tenggelam yang sangat indah.

Dahulu, pantai ini dikenal dengan pusat makanan laut dan ikan bakar di malam hari (karena para penjual dan pedagang hanya beroperasi pada malam hari), serta disebut-sebut sebagai warung terpanjang di dunia (karena warung-warung tenda berjejer di sepanjang pantai yang panjangnya kurang lebih satu kilometer).[butuh rujukan]

Salah satu penganan khas Makassar yang dijajak di warung-warung tenda itu adalah pisang epe (pisang mentah yang dibakar, kemudian dibuat pipih, dan dicampur dengan air gula merah. Paling enak dimakan saat masih hangat).

Saat ini warung-warung tenda yang menjajakan makanan laut tersebut telah dipindahkan pada sebuah tempat di depan rumah jabatan Walikota Makassar yang juga masih berada di sekitar Pantai Losari.
Pada sore hari, semua orang bisa menikmati proses atau detik-detik tenggelamnya matahari.

Tahun 2006 pantai Losari tampil dengan wajah baru, dengan nama ikon: "Pelataran bahari". Ini menambah ikon baru bagi Makassar
Kota Makassar merupakan ibu kota provinsi Sulawesi Selatan yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Kota dengan luas wilayah 175,77 km persegi ini merupakan salah satu kota dengan berbagai keindahan di dalamnya (Lihat: Daftar Tempat Wisata di Makassar). Selain terkenal dengan coto makassarnya yang khas, Makassar juga menyajikan berbagai pilihan tempat wisata yang tidak kalah menarik dengan Bali. Jika anda sedang merencanakan liburan bersama keluarga, kerabat ataupun teman Makassar mampu menjadi salah satu tujuan yang patut untuk anda pertimbangkan. Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa tempat wisata di Sulawesi Selatan yang paling indah untuk anda kunjungi.


Berbicara masalah keindahan wisata pantai di Indonesia memang tidak ada habisnya, salah satu pantai yang menyimpan keindahan alami adalah pantai Losari. Keindahan Pantai Losari terdengar sampai keseluruh pulau di Indonesia. Pantai yang terletak di Jalan Penghibur sebelah barat kota Makassar.

Pantai ini menjadi tempat bagi warga Makassar dan pendatang untuk menghabiskan waktu pada pagi, sore dan malam hari dengan menikmati pemandangan matahari tenggelam yang sangat indah. Pantai ini memiliki keunikan dan keistimewaan yang mempesona. Salah satu ciri khas Pantai Losari adalah para pengunjung dapat menyaksikan Matahari terbit dan terbenam di satu posisi yang sama.

Wisata Pantai Losari Makasar

Para pengunjung juga dapat menikmati indahnya deburan ombak yang memecah tanggul pantai dan kesejukan angin laut yang bertiup sepoi-sepoi, sambil menyaksikan detik-detik terbenamnya matahari secara utuh di balik cakrawala, yaitu mulai dari perubahan warna hingga pergeseran posisinya sampai benar-benar hilang dari pandangan.

Selain keindahan pantainya Losari juga dikenal sebagai pusat kuliner yang menjual pangan dan jajanan yang khas. Berbagai macam kuliner lezat tersedia bagi anda yang suka berburu makan khas. Salah satunya yang digemari di pantai Losari ini adalah pisang epe.

Pisang mentah yang dibakar kemudian dipipihkan dan diberi campuran air gula merah ini bisa untuk menghangatkan badan sambil kita memandangi lautan di pantai Losari. Para pengunjung yang datang ke pantai ini juga dapat menikmati berbagai macam makanan laut yang segar. Di bagian selatan pantai Losari, terdapat sebuah kafe dan restoran terapung yang menggunakan kapal tradisional dengan berbagai macam menu, seperti masakan ikan pari, cumi-cumi dan lobster dengan harga berkisar antara Rp 10.000, – hingga Rp 30.000, – per porsi.

Dulunya selain di kafe restoran apung, di pinggir pantai juga terdapat warung tenda yang berjejer yang panjangnya kurang lebih satu kilometer, namun sekarang -warung tenda yang menjajakan makanan laut tersebut telah dipindahkan pada sebuah tempat di depan rumah jabatan Walikota Makassar yang juga masih berada di sekitar Pantai Losari.

Kelebihan lainnya dari pantai ini adalah pengunjung bisa mengakses Internet secara gratis dengan Hot Spot di sepanjang pantai Losari. Selain sarana kuliner dan wisata pantai, pantai Losari juga berfungsi sebagai sarana olahraga yaitu pada pagi hari pantai ini penuh dengan orang yang jogging sambil menikmati keindahan dari pantai Losari.

Untuk menikmati keindahan pantai Losari ini gratis dan tidak dipungut biaya. Apabila anda berkunjung ke pantai ini maka jangan lupa untuk berfoto di depan tulisan “Pantai Losari”. Akses menuju pantai Losari sangatlah mudah. Bila anda dari Bandar Udara Hasanuddin, maka hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit dengan mengendarai kendaraan bermotor, dan bila dari pelabuhan Soekarno-Hatta membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit.

Banyak hotel dekat pantai losari sehingga mempermudah anda dalam memilih hotel saat berkunjung ke pantai Losari, beberapa hotel yang berbintang yang berada disekitar dipantai Losari adalah hotel Amaris Hotel Pankkukang yang berada di jalan Bougenville, Losari Beach Hotel yang berada tepat di depan pantai losari atau di jalan Penghibur no 10, Hotel Celebes yang ada di jalan Sultan Hasanudin.

Sementara itu bagi anda yang menginginkan penginapan murah Pantai Losari anda bisa menuju Losmen Semeru yang bertarif dibawah Rp. 100.000 namun dengan pelayanan yang cukup lumayan yang berada di jalan Jampea dekat China Town. Selain itu anda bisa juga menuju ke Wisma Merapi yang memiliki tarif sedikit  lebih mahal yang berada di jalan Merapi.
 

PALING DISUKAI

POLLING ANDA :