Tampilkan postingan dengan label Kareba Wanuatta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kareba Wanuatta. Tampilkan semua postingan
Senin, 24 Agustus 2015

Prinsip Kerja orang Bugis

0 komentar
Etos kerja Orang Bugis

Oleh : Andi Cambang Petta Janggo
 
Prinsip yang saya pengang adalah sebuah prinsip leluhur tau panritata" riolo "resopa temmanginggie na malomo naletei pammase dewata" jangan salah kalau kami dari suku bugis adalah pekerja keras.. Pakkareso tedde"..

Orang Bugis adalah suku perantau. di mana pun di nusantara ini kita selalu menjumpai orang Bugis. Bagi sebagian orang Bugis menjadi Saudagar adalah pilihan profesi utamanya. Di beberapa tempat, banyak saudagar Bugis yang maju dalam berusaha. Tentunya segala kemajuan yang dicapainya itu berdasarkan hasil kerja kerasnya, bermandikan keringat dan air mata.

Lalu apa yang membuat orang Bugis selalu bekerja keras? ini dikarenakan Bugis adalah salah satu suku yang paling banyak kebutuhannya . Orang Bugis ketika memasuki usia dewasa ia berpikir untuk mulai menikah, dan pernikahan di Bugis tidak murah. Setelah menikah tentunya ia berpikir untuk memiliki rumah dan kendaraan. Setelah itu tercapai mereka mulai berpiikir untuk naik Haji. Menjadi Haji adalah tujuan tertinggi dari orang Bugis.

Setelah itu tercapai, maka kebutuhannya kembali lagi ke dasar dan ingin menikah lagi, mulai lagi punya rumah baru, kendaraan baru, naik Haji lagi dan begitu seterusnya. Karena kebutuhan yang tinggi itulah yang membuat orang Bugis memiliki etos kerja keras.

Saya waktu ke papua, pernah Bilang sama Gubernur Papua, Barnabas Webu “Pak Bas…anda kalau mau memajukan orang Papua secara ekonomi maka rubahlah kultur orang papua, menjadi orang yang memiliki banyak kebutuhan, dengan begitu mereka akan jadi pekerja keras”. Ini karena rakyat di Papua meski alamnya kaya, anggarannya besar karena ada dana OTSUS 29 Triliun tapi rakyatnya tetap miskin. Banyak yang mengira bahwa Pusat selama ini menghisap kekayaan tanah papua, padahal kalau mau jujur, PAD Papua hanya 17 Triliun, sementara anggaran OTSUS yang diberikan oleh Pusat adalah 29 Triliun. Jumlah penduduk 2.9 Juta, dibagi saja uang itu maka setiap orang papua bisa dapat 10 juta per kepala.

Jadi begitulah keadaan di tanah Papua, mereka miskin karena memiliki kebutuhan sedikit. bagi mereka asal ada sagu untuk dimakan, Umbi-umbian untuk dibakar, dan sagero untuk diminum maka itu sudah lebih dari cukup. Coba bandingkan dengan orang Bugis, anak mudanya akan malu kalau tidak pakai celana merek Levi’s 505, sementara orang Papua cukup dengan menggunakan Koteka saja.

Jadi ketika saya ditanya bagaimana mengentaskan kemiskinan di Papua? saya bilang rubah kultur mereka, buat mereka punya banyak kebutuhan tapi jangan sampai konsumtif, dengan begitu mereka akan menjadi pekerja keras, untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka itu.
Minggu, 23 Agustus 2015

KESUKAAN LELAKI BUGIS

1 komentar

EMPAT KESUKAAN LELAKI BUGIS
Serta konsepsi keseimbangannya

Entah karena konstruk budaya atau karena keturunan, lelaki Bugis identik dengan empat hal. Sehingga dengan kegemaran pada salah satu, dua, tiga atau keempat-empatnya menjadi kelengkapan kelelakian seorang lelaki Bugis.

Bukan berarti bahwa keempat hal tersebut milik lelaki Bugis belaka. Akan tetapi, lelaki Bugis selalu menyenangi memiliki dan menjaga salah satu, dua, tiga atau keempat-empatnya. Adapun keempat hal itu antara lain, Batu, Besi, Ayam dan Istri.

Tulisan ini bermaksud untuk mengurai aspek keseimbangan dari keempat hal tersebut secara filosofis. Bukan pada konteks melakukan penilaian pada perspektif agama yang sepenuhnya penulis serahkan pada pembaca. Tulisan ini hanya mencoba memotret dan menafsir sisi kehidupan lelaki bugis, tidak bermaksud untuk bias gender. Atau mengagungkan kultur patriarki.

1. Batu

Jangan heran jika menemui lelaki Bugis yang gemar menyimpan dan mengoleksi batu. Tentu bukan sembarang batu. Batu yang dimaksud adalah batu mulia yang dipercaya memiliki aura atau kekuatan magis. Batu kegemaran orang Bugis adalah jenis Feroz, Akik, Akok, dan Jamrud.

Batu mulia ini sering diikat dan dijadikan cincin. Adapula yang dipasang di wanua polobessinya. Juga hiasan-hiasan yang sering digunakan pada pesta pernikahan seperti kalung.

Biasanya penggemar batu, lama-kelamaan tertarik dan menjadi penggemar besi. Begitu pula sebaliknya, penggemar besi, lama-kelamaan tertarik pada batu. Hal ini bukan kebetulan. Sebab keduanya adalah benda mati yang dipercaya memiliki tuah, kekuatan supranatural, yang sangat dibutuhkan untuk membangun citra diri seorang lelaki bugis.


Batu ini juga pada konteks, mustika atau yang sering disebut kulawu. Seringkali mustika ini didapatkan secara tak sengaja yang disebut were=keberuntungan. Bermacam-macam kulawu ini memiliki fungsi yang berbeda. Ada kulawu bessi, yang jika digunakan pemakainya tidak mempan senjata tajam. Ada kulawu air, kulawu ikan, kulawu rusa, dan sebagainya.

Pada konteks yang diperluas, batu juga berarti perhiasan emas dan perak yang sangat digemari lelaki bugis terutama kaum aristokratnya. Pusaka-pusakanya sering berhias emas dan perak. Pada sisi lain, lelaki bugis akan menemukan kesempurnaan sosialnya jika berhasil menghiasi istrinya dengan emas, perak beserta batu mulia lainnya. Makanya sangat lazim ditemukan istri-istri bugis yang memakai perhiasan emas seperti gelang, kalung dan cincin emas. Sementara lelaki bugis, paling memakai cincin emas.

Tak jarang lelaki bugis mengumpulkan beberapa batu mulia sebagai koleksi pribadinya. Selain membawa kesenangan tersendiri ketika menatap keindahan batu-batu tersebut, juga memberikan beberapa pilihan tentang kesesuaian aura dan aspek mistik batu tersebut dengan kepentingan lelaki Bugis sang pemilik batu tersebut.

2. Besi

Besi adalah hal yang sangat identik dengan lelaki bugis. Sehingga tanpa besi seperti badik, kelewang, keris, tombak ataupun parang seseorang tidak dapat disebut lelaki bugis. bahkan begitu dekatnya orang bugis dengan besi, sehingga badik dianggap sebagai saudara sendiri.

Badik biasanya disisipkan dipinggang kiri. Ini menyimbolkan sebagai tulang rusuk kiri yang disempurnakan oleh sebilah Badik. Selain itu, badik juga dianggap sebagai saudara sejati. Ketika seorang lelaki bugis mendapati masalah, maka hanya badiknyalah yang tidak akan meninggalkannya hingga akhir hayatnya.

Secara umum ada tiga jenis badik di sulawesi selatan. Antara lain, badik jenis Makassar. Cirinya, dibagian depan lancip dan bagian tengahnya agak besar. Sering juga disebut lompobattang=besar perut sebab dibagian perutnya agak membesar. Jenis kedua yaitu gecong. Badik model ini cenderung lebih langsing. Lancip didepan, agak membesar kemudian mengecil lagi didekat gagang. Badik ini umumnya digunakan didaerah Bugis. Jenis ketiga adalah badik luwu. Model ini lancip didepan kemudian dibagian tengah hingga belakang rata.

Dalam khazanah perbesian, dikenal pamoro = pamor yang merupakan teknik panre=tukang besi dalam membuat urat-urat besi yang kelihatan indah. Beberapa pamor yang terkenal seperti bunga pejje, bori bojo, daung ase, kurissi, uleng-mpuleng dan ure tuo. Pamor-pamor tersebut dianggap mengandung kekuatan tertentu terhadap pemakainya.

Selain pamor, juga dikenal istilah mausso. Yaitu tingkat kekuatan besi dalam mematikan lawan. Tingkat maussonya sebuah besi dapat diuji sendiri dengan menempelkan ujung besi dengan ujung jari. Besi yang mausso akan terasa gatal dan seperti ada sengatan listrik kecil.

Bentuk dan tujuan pembuatan besi juga sangat diperhatikan oleh lelaki bugis. Misalnya besi yang terbelah didepan disebut massumpang buaja=bermulut buaya dan terbelah dipunggung badik disebut Cappa sikadong. Cappa sikadong ini dianggap bertuah untuk dipakai melamar atau berdagang. Ini yang disebut sissi’. Yaitu efek langsung yang dapat dirasakan pengguna ketika membawa besi tersebut. Ada besi yang memang didesain untuk penjaga rumah, untuk bertarung, untuk merantau, untuk berdagang dan sebagainya.


Selain sissi’ dan pamor besi, lelaki bugis juga memperhatikan kesesuaian ukuran besi dengan proporsi tubuhnya. Untuk mengukur hal itu, dipakai teknik massuke dengan berbagai variasinya. Bila dilihat dari ukuran panjang besi dari ujung hingga ke gagang, suke yang sering digunakan adalah dua jari, atau empat jari, atau hitungan jempol. Ukuran yang dianggap ideal adalah satu jengkal untuk badik atau sepanjang (maaf) kelamin pria. Sepanjang lengan atas dan bawah untuk parang dan alameng. Dan sesiku untuk keris.

Ada juga teknik massuke dengan menggunakan daun. Lidi dan kain, juga dipakai sebagai teknik massuke untuk mengetahui arah geografis (utara,timur,barat dan selatan) penggunaan besi saat bertarung. Dan masih banyak lainnya teknik massuke yang tidak sempat dipaparkan disini.

Biasanya lelaki bugis mendapatkan besi sebagai warisan dari leluhur. Namun, lelaki bugis tidak berhenti hanya dengan menyimpan warisannya. Lelaki bugis selalu tertarik untuk memiliki lebih dari satu besi. Sehingga lama-kelamaan lelaki bugis biasanya memiliki beberapa besi dengan spesifikasi tertentu. Beberapa lelaki bugis ketika hendak keluar rumah, ia berkomunikasi dengan besi-besinya yang dianggap cocok untuk menemaninya, sesuai spesifikasi besi dengan urusannya diluar rumah. Sehingga ia memberi kesempatan untuk “menggilir” besi-besi yang dipakainya.
Untuk senjata besi silakan kunjungi artikel "Terjemah dan Transliterasi Lontara Bessi" "Cara Membersihkan Polobessi" "Pamor dan Sissi pada Polobessi Sulawesi" dan "5 Rahasia Keunggulan Badik dan Parewa Bessi Sulawesi"

3. Ayam

Orang bugis dulu hingga sekarang sangat gemar dengan ayam. Rumah tiang orang bugis ditinggali dibagian tengah dan dijadikan penyimpanan dibagian atas. Sementara dibagian bawah selalu dijadikan kandang ayam.

Hampir di tiap bawah rumah orang bugis kita temukan Tarata’=tempat bertenggernya ayam dan baka=tempat bertelurnya ayam. Artinya, hampir semua orang bugis memelihara ayam. Ayam ini umumnya untuk dikomsumsi terutama pada acara ritual (maccera), acara keagamaan (lebaran) dan menghormati tamu (menu ayam). Ayam dibiarkan mencari makannya sendiri. Adapun telurnya dimanfaatkan untuk konsumsi seperti kue-kue, menu makanan dan obat kuat dicampur madu asli.

Selain aspek konsumsinya, ayam juga sering dijadikan aduan. Sejak zaman dulu, orang bugis menyukai ayam aduan. Sampai-sampai, adu ayam selalu menjadi acara wajib tiap pesta. Seperti halnya besi, orang bugis sangat memperhatikan sissi dari ayamnya. Sissi dapat dilihat dari bulu (bakka, barumpung, buri dst), proporsi badan ayam, bentuk pial, ekor, kaki, bentuk paruh dan sebagainya. Lelaki bugis juga memperhatikan waktu yang tepat bagi ayamnya untuk duel. Sehingga tidak sembarang waktu ia mengadu ayamnya.

Seiring perkembangan zaman, saat ini populer Manu Gaga atau ayam gagap. Ayam ini tidak dinilai dari kemampuan bertarungnya, atau pada bulunya. Namun pada kualitas suara yang dihasilkan. Baik ayam aduan untuk disabung maupun untuk dipertandingkan suaranya, sama-sama membutuhkan perawatan khusus. Mulai dari pemilihan pakan, mengurut ayam, memandikan, melatih, hingga mengawinkan ayamnya dengan ayam betina yang ideal dalam menurunkan bibit-bibit unggul. Bagi pecinta ayam, proses ini adalah sebuah seni. Ada kenikmatan tersendiri bagi yang bersangkutan. Mungkin bagi orang lain, adalah hal yang membosankan. Namun sekali lagi, hal ini adalah kenikmatan bagi pecintanya.

Biasanya lelaki bugis penggemar ayam, lama kelamaan akan menjadi pengkoleksi ayam. Memiliki beberapa ayam merupakan kesenangan tersendiri. Bagi sesama pengkoleksi ayam, pengetahuan tentang spesifikasi ayam masing-masing menjadi informasi berharga dalam transaksi, pertukaran maupun perkawinan ayam-ayam mereka.Ayam aduan adalah sisi maskulin dan ayam konsumsi adalah sisi feminim.

Pada konteks yang lebih luas, ayam disini juga berarti unggas lain seperti burung perkutut. Selain karena kemerduan suaranya, sebagian lelaki bugis juga memelihara burung perkutut karena sisi mistis yang terkandung didalamnya seperti mencegah pencurian atau kebakaran. Sebagaimana layaknya ayam, perkutut ini juga membutuhkan perawatan ekstra. Kemerduan suara perkutut adalah sisi feminimnya, sedang fungsi mistis perkutut adalah sisi maskulinnya.

4. Perempuan

Tentu kelelakian seseorang akan dipertanyakan bila tidak memiliki ketertarikan pada perempuan. Bagi lelaki bugis, perempuan memiliki arti yang sangat dalam. Satu sisi, perempuan adalah hal berharga yang harus dijaga dan dianggap siri. Di sisi lain, memiliki beberapa istri adalah salah satu kebanggaan lelaki bugis. hingga muncul plesetan BUGIS= Banyak Uang Gandakan Istri.

Proses menemukan pasangan ini bermakna maskulin. Dalam artian, usaha-usaha dan perjuangan lelaki adalah sesuatu yang sangat dihargai. Hingga muncul prinsip 3A, Akurangsiriseng (ketidakmaluan), Awaraningeng (keberanian) dan Atemmanginggireng (sikap pantang menyerah). Bahwa lelaki bugis, tak boleh malu menyatakan perasaannya pada perempuan yang disenanginya. Citra lelaki bugis akan jatuh jika ia kehilangan keberanian untuk menyatakan cintanya. Dan lelaki bugis akan dianggap pecundang jika ia gampang putus asa dalam mendapatkan cintanya.

Epos Ilagaligo secara singkat mengisahkan perjalan dan perjuangan Sawerigading mendapatkan cinta sejatinya yaitu We Cudai. Dikisahkan bahwa, Sawerigading harus berlayar 40 hari 40 malam. Bertarung melawan 7 bajak laut. Terakhir, harus berperang melawan We Cudai sebelum lamarannya diterima. Itupun, Sawerigading harus menyamar untuk bertemu dengan We Cudai.

Nampaknya, cuplikan kisah cinta Sawerigading dan We Cudai sangat mempengaruhi cara berpikir lelaki bugis. sehingga perjuangan mendapatkan cinta adalah sesuatu yang sangat diapresiasi oleh orang bugis. untuk itu, seorang lelaki bugis dilengkapi berbagai media untuk memudahkan perjuangannya seperti mantra dan gaukeng cenning rara, kawali cappa sikadong dan berbagai media mistis lainnya. Namun tidak melulu di ranah metafisik, di ranah teks, lelaki bugis (tempo dulu) terkenal terampil merayu dalam bahasa sastra yang indah yang hingga kini tersimpan dalam sebuah galigo

Gellang ri wata majekko (kuningan bengkok yang ditarik=pancing=MENG)
Anrena menre’e (makanan khas orang mandar=pisang=LOKA)
Bali ulu bale (lawan kepala ikan=ekor=IKKO)
MENG+LOKA+IKO = saya mau kepada anda

Poligami dizaman dulu merupakan hal wajar. Selain disebabkan aspek politik dan perkembangan generasi (sebab populasi manusia masih sedikit dimasa lalu sementara alam masih banyak yang belum tergarap), juga memiliki banyak istri menyimbolkan kekuatan unsur maskulin seorang lelaki bugis.


Bagan 1
Unsur maskulin dan feminim pada empat hal yang berkaitan dengan lelaki bugis.



Bagan 2

Unsur maskulin dan feminim pada empat hal yang berkaitan dengan lelaki bugis

Diantara semua ritual adat bugis, pernikahan adalah ritual yang terlama dan paling rumit. Hal ini tidak lepas dari pentingnya konsepsi keseimbangan aspek maskulin dan feminim dalam paradigma berpikir orang Bugis. Sengkang, 27 september 2012. 03.07 am wita

Kamis, 20 Agustus 2015

Lipa Sa'bbe / Sarung Bugis

0 komentar

Lipa Sa'bbe / Sarung Bugis 


Dahulu, sarung dipakai oleh orang-orang yang berlayar di sekitar Semenanjung Malaka, dekat pulau Sumatra dan Jawa. Mengingat orang-orang yang berlayar tersebut biasanya  pada saudagar serta pedagang Muslim dari India, dan Agama Islam menyebar dari dekat pantai, maka diperkirakan bahwa dahulu sarung ditenun oleh pria-pria Muslim. Sementara dalam perkembangannya, di Indonesia sarung cukup berperan dalam kehidupan setiap lapisan masyarakat tanpa memandang umur, jenis kelamin, maupun status sosialnya. Sarung sering terlihat sebagai bawahan busana tradisonal pada beberapa daerah, juga sebagai tenunan yang bersifat sacral.

Dari sudut fungsi dan pemakaiannya, Kuncaraningrat (1986) membagi kedalam empat golongan, yaitu pakaian sematamata sebagai alat untuk menahan pengaruh dari alam sekitar, lambang keunggulan dan gengsi, lambang yang dianggap suci, serta sebagai perhiasan tubuh.Sementara dari segi sosial, secara umum sarung digambarkan sebagai kepandaian menenun seorang wanita, berdasarkan dominannya kaum wanita pada kegiatan pertenunan. Kemampuannya dalam menenun, diidentikkan dengan kesabaran, ketekunan, dan keuletan. Bagi masyarakat yang masih memegang teguh tradisi, hal ini merupakan sesuatu yang dapat dibanggakan.

Pada zaman modern ini pergeseran fungsi sarung saat ini tenunan tersebut hanya berfungsi sebagai bagian dari pakaian tradisional masyarakat setempat yang banyak digunakan dalam acara-acara adat terutama pernikahan.

Namun saat ini masyarakat Kabupaten Wajo pun sudah banyak yang tidak menggunakan pakaian tradisional mereka ketika menghadiri sebuah pernikahan. Sehingga dapat dikatakan fungsi utama dari tenunan sutra tradisional di Kabupaten Wajo saat ini lebih cenderung bersifat ekonomi. Karena tenunan gedogan ini sangat membantu ekonomi perajinnya, sebab mayoritas mata pencaharian suami mereka ialah bertani di sawah tadah hujan (agraris) sehingga ketika suami mereka bertani kebutuhan sehari-hari ditutupi oleh hasil menenun istri/anakanak wanitanya.

Ragam hias sarung sutera Lipa Sabbe

Pada tenunan sutra tradisional Gedogan diKabupaten Wajo, ragam hias (atau dalam
bahasa Bugis disebut balo) terbagi dua jenis. Yaitu ragam hias pada jalur benang pakan yang disebut balo makkaluk yang berarti ragam hias melingkar, serta ragam hias pada jalur benang lungsi disebut balo metettong yang berarti ragam hias berdiri.

Menurut Album Seni Budaya Sulawesi Selatan: Seri Tenun Budaya Bugis dan Tenun
Tradisional Bugis Makassar, pada mulanya tenunan sutra tradisional Gedogan
diKabupaten Wajo hanya mengenal tiga ragam hias geometris, yakni balo renni (kotak-kotak kecil),balo tengnga (kotak-kotak sedang), dan balo lobang/lebbak(kotak-kotak besar). Ragam hias pada tenunan sutra tradisional Gedogan khas Sulawesi Selatan umumnya memang berupa bidang kotak yang berwarna-warni yang disebut tenun palekat, yakni salah satu dari ragam hias kotak-kotak diatas maupun perpaduan dari ragam hias-ragam hias tersebut, yang terbentuk dari jalinan benang lungsi dan benang pakan yang beraneka warna. Seperti pada tenunan Mandar, ragam hias pada tenunan sutra tradisional Bugis di Kabupaten Wajo juga terbagi atas bidang kepala (puncang) dan tubuh. Dalam penggunaannya sehari-hari, bagian kepala selalu dibelakang. Kira-kira pada tahun 1920 dikenal ragam hias beso, yakni ragam hias yang dihasilkan dari teknik menarik benang tenun sehingga tergeser dari posisi jalur lurus. Dan pada tahun 1950, ada perkembangan ragam hias yang disebut panji, yang merupakan stilasi dari huruf S.

Tahun 1958, ragam hias beso dikembangkan menjadi bentuk lancip atas dasar garis
zigzag, ragam hias ini disebut balo cobo(coboartinya lancip) atau ragam hias pucuk
rebung. Dan selanjutnya lahir ragam hias jiki/subik(artinya mencukil) yang dihasilkan
dengan teknik mencukil benang pada waktu ditenun. Di samping motif-motif tersebut,
ada pula ragam hias cebang (artinya ditaburi), yang berukuran kecil-kecil dan diletakkan di seluruh bidang tenunan dengan teratur.
Perkembangan ragam hias ini tidak hanya pada bentuk namun juga pada penggunaan
warna yang tidak lagi terbatas pada warna hitam, merah, dan putih saja, melainkan juga warna-warna cerah seperti kuning, ungu, hijau, dan sebagainya. Tenunan sutra tradisional Gedogan di Kabupaten Wajo memang khas dengan warna-warna cerah yang manis dan kontras.

Pada perkembangan ini, bentuk ragam hias pun sudah mulai dipadukan dengan lebih
berani sesuai kreasi perajin. Pemaduan ini tidak dilakukan berdasarkan satu prinsip
tertentu, dan diberi nama sesuai keinginan perajin. Contohnya ragam hias balo saputangan, dimana ragam hias hanya terdapat di bagian pucangnya saja sementara bidang tenunan lainnya polos. Atau balo mapan giling
(artinya pulang kembali),
yang merupakan perpaduan dari balo panji ,jiki/subik dan beso. Sehingga, saat ini ragam hias tenunan sutra tradisional Gedogan jarang disebut lagi dengan nama-nama ragam hias dasar, melainkan dengan nama-nama baru, yang diambil dari suatu peristiwa yang terjadi pada waktu menenun.

Beberapa perajin yang ditemui di lapangan, bahkan memadupadankan beberapa agam
hias dasar dan diberi nama sesuai kejadian-kejadian yang sedang diminati saat itu,
contohnya ragam hias KDI, ragam hias AFI,ragam hias Soeharto, ragam hias Titik
Sandora, dan lain sebagainya.

Filosophy sarung sutera lipak sabbe

Filosofi yang terkandung pada tenunan sutra tradisional Gedogan di Kabupaten Wajo tidak terletak pada ragam hias melainkan pada warna, seperti berikut:
1.Bangsawan menggunakan warna merah atau hijau.
2.Gadis menggunakan warna-warna muda dan lembut seperti merah muda,
hijau muda, dan lain-lain.

3.Janda menggunakan warna-warna cerah seperti jingga.
4.Orang tua, maupun wanita yang sudah berkeluarga, menggunakan warna-
warna gelap seperti hitam, dan lain-lain.

Kain tradisional Bugis yang berupa sarung ini memiliki corak garis-garis yang cantik, dan terbuat dari sutra yang diproduksi oleh masyarakat bugis sendiri. Masyarakat Bugis dari desa Tajuncu di Sulawesi Selatan sudah menggunakan cara modern dalam pengembangbiakan ulat sutra, untuk memenuhi kebutuhan benang para penenun di desa Sempange, Sengkang yang merupakan pusat pembuatan kain tenun di Sulawesi Selatan.
Menurut legenda, masyarakat Bugis percaya bahwa keterampilan menenun nenek moyang masyarakat Bugis diilhami oleh sehelai sarung yang ditinggalkan oleh para dewa di pinggir danau Tempe. Dan di desa-desa yang terletak di pinggiran danau Tempe itulah kain tenun Bugis yang sangat bagus itu dibuat.

Bahan sandang pada masa lampau, tidak pernah bisa lepas dari fungsi sebagai pelengkap kebutuhan budaya. Ini pula yang terjadi pada kain sarung Bugis. Selain menjadi pakaian sehari-hari, kain sarung Bugis, digunakan untuk kelengkapan upacara yang bersifat sakral, juga sebagai hadiah untuk mempelai perempuan dari mempelai laki-laki.

Corak kain sarung Bugis ada beberapa macam, di antaranya adalah corak kotak-kotak kecil yang disebut balo renni. Sementara itu, corak kotak-kotak besar seperti kain tartan Skotlandia, diberi nama balo lobang. Selain corak kotak-kotak, terdapat pula corak zig-zag yang diberi nama corak bombang. Corak ini menggambarkan gelombang lautan. Pola zig-zag ini dapat diterapkan di seluruh permukaan sarung atau di bagian kepala sarung saja, adapun bagian kepala sarung justru terletak di area tengah sarung, dan sering juga corak bombang ini digabungkan dengan corak kotak-kotak.

Selain corak-corak tersebut, ada pula pola kembang besar yang disebut sarung Samarinda. Meskipun Samarinda berada di Kalimantan Timur, rupanya, kebudayaan menenun sarung di Samarinda, dibawa oleh masyarakat Bugis yang mencari suaka ke Kerajaan Kutai Kartanegara akibat perjanjian Bungaja antara Kerajaan Gowa dan Belanda sekitar abad ke-16. Dan orang Bugis pendatang itulah yang mengembangkan corak asli tenun Bugis, menjadi tenun Samarinda, yang kemudian malah memperkaya seni kain tradisional Bugis.
Kamis, 06 Agustus 2015

Pemandian Alam Air Panas Lejja

1 komentar
Pemandian Alam Air Panas Lejja


Suhu air di pemandian ini bisa mencapai 60 derajat celcius sehingga sering dipercayai dapat menyembuhkan penyakit gatal-gatal dan rematik. Pemandian ini berada di daerah pegunungan, memiliki panorama alam yang indah, sejuk dan sangat menarik untuk dikunjungi untuk berrekreasi. Terletak di Desa Bulu, Kecamatan Marioriwa sekitar 44 Km dari kota Watansoppeng.

Lejja, bukan kata dari bahasa India, tapi kata dari bahasa Bugis yang berarti 'pijak'. Merupakan nama sebuah tempat wisata permandian nun jauh di tengah hutan sana, di kecamatan Marioriawa, sekira 30 kilometer jaraknya dari Watansoppeng, ibu kota Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan.

Hutannya bukan sembarang hutan, tapi hutan yang masih perawan dan dilindungi oleh pemerintah. Pelbagai peringatan dipasang, salah satunya berbunyi: Satu Batang Korek Api Dapat Memusnahkan Ribuan Pohon. Biaya Rp 1.500 per orang juga dipungut untuk biaya pemeliharaan hutan yang terdiri dari pohon beragam jenis: jati, palem, putat, dan lainnya.
Pengunjung disediakan tiga kolam untuk berenang, satu untuk anak-anak dan dua untuk orang dewasa. Airnya bersumber dari mata air alami pegunungan yang mengalir terus-menerus, 'tak pernah berhenti. Yang unik dari air itu adalah suhunya yang panas. Saking panasnya, kata orang, telur bisa masak jika ditaruh di atasnya.
Tiket masuk Lejja hanya Rp 5.000 untuk orang dewasa dan Rp 2.500 untuk anak-anak. Fasilitasnya cukup lengkap: musholla, ban untuk berenang, tikar untuk duduk-duduk santai, toilet, tempat penginapan, dan ruang meeting. Kalau lapar, jajaran pedagang kaki lima siap melayani. 

Lejja, dengan hutan alami dan mata air panasnya, merupakan tempat wisata permandian andalan Sulawesi Selatan.

Kabupaten Soppeng yang berjarak 200 km di utara kota Makassar menyimpan obyek wisata yang tak kalah menariknya dengan obyek wisata lainnya di sekitar kota Makassar. Kabupaten Soppeng ini mendapat julukan Kota Kalong karena di ditempat ini banyak terdapat kelelawar di setiap pohon yang ada di sepanjang kota ini. Di Kota Kalong ini terdapat wisata air panas dengan nama Pemandian Alam Air Panas Lejja.
Pemandian Alam Air Panas Lejja berada di kawasan hutan lindung berbukit dengan panorama yang indah di Desa Bulu, Kecamatan Marioriawa, 44 km utara Kota Watansopeng yang merupakan ibukota Kabupaten Soppeng. Di tempat ini memiliki sumber air panas dengan suhu mencapai 60�C yang dipercaya bisa menyembuhkan gatal-gatal dan rematik. Pemandian ini merupakan obyek wisata andalan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Fasilitas di Pemandian Alam Air Panas Lejja ini cukup memadai dengan adanya kolam pemandian umum dan private, toilet, ruang bilas, tempat ganti pakaian, pondok peristirahatan, lapangan tenis dan baruga wisata sebagai tempat pertemuan yang bisa menampung 300 orang. Untuk kolam pemandian private disediakan dengan rumah panggung kecil yang memiliki kolam di belakangnya dengan lebar 3 meter. Sedangkan untuk kolam pemandian umumnya terdapat 5 kolam dengan fungsi yang berbeda :

Kolam I: airnya sangat panas, harus berhati-hati jika berada di tempat ini karena telur yang dicelupkan di kolam ini bisa menjadi setengah matang.
Kolam II: kolam dangkal dengan air suam-suam kuku yang bisa dipakai untuk anak-anak kecil atau bagi kamu yang tidak bisa berenang bisa juga memakai kolam ini.
Kolam III: kolam dengan kedalaman sebatas leher dan air suam-suam kuku untuk orang dewasa. Ada pelampung yang disewakan jika kamu takut berenang di kolam ini.
Kolam IV: air di kolam ini sudah normal, tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin dan kolam ini khusus orang dewasa saja.

Kolam V: kolam yang berada di sebelah timur ini dilengkapi dengan papan loncatan.
Kamu juga bisa melihat sumber air panasnya. Ada jalan setapak di sebelah kolam pemandian menuju bukit. Di sana akan ada sungai kecil dengan air panas dan bebatuan yang dialiri air panas dan mengeluarkan asap. Sampai di ujung jalan kamu bisa menemui pohon yang dibawah akarnya terdapat lubang dengan diameter sekitar 50 cm. Disitulah sumber air panas Pemandian Air Panas Lejja berasal Jangan heran kalau di sekitar pohon tersebut banyak terdapat kaleng dan botol yang diikat karena menurut informasi hal itu merupakan simbol pengharapan bagi yang menggantunggkan botol atau kaleng tersebut, dimana ketika harapan tersebut sudah terwujud maka orang tersebut akan datang lagi ke Lejja untuk melepas ikatan botol atau kalengnya dan juga sebagai simbol pengikatan hubungan pasangan sejoli yang datang ke tempat ini.

Akses ke Pemandian Alam Air Panas Lejja transport

Untuk mencapai tempat ini  harus melalui jalanan yang berliku dan terjal. Sebaiknya kamu menggunakan kendaraan bermotor untuk menuju tempat ini agar bisa menikmati keindahan alam sepanjang perjalanan menuju Pemandian Air Panas Lejja. Sesampainya di pintu gerbang pemandian ini kamu bisa memilih salah satu dari 2 pilihan jalan masuknya: melalui jalan dengan kendaraan yang bisa langsung sampai di dekat kolam pemandian atau melalui jalan dengan menyusuri tangga dengan panorama alam sekitar yang indah. Tiket untuk masuk ke pemandian ini seharga Rp. 5.000,-/orang untuk orang dewasa dan Rp. 2.500,-/orang untuk anak-anak.

Pulau Dutungan, Pesona Tak Tertandingi Kabupaten Barru.

0 komentar
Pulau Dutungeng


Pulau Dutungan, Pesona Tak Tertandingi Kabupaten Barru.

Pulau dengan luas sekitar 9 Ha ini memiliki hamparan pasir putih yang indah di sisi luarnya. Dikelilingi pemandangan laut yang biru anda dijamin akan merasa betah untuk tinggal berlama-lama di tempat ini. Berlokasi di Desa Cilelang sekitar 48 Km dari Kota Barru.
Beberapa hari sebelumnya, saya dan teman-teman memutuskan untuk melakukan one day trip ke pulau. Awalnya kami ingin mengunjungi Pulau Cangke, cuma waktu tempuhnya memakan waktu 3 jam dan cuaca sedang tidak bersahabat. Oleh karena itu, kami ganti haluan ke Pulau Dutungan.

Pulau Dutungan letaknya di Kab. Barru. Untuk menuju ke sana, kita memerlukan waktu 2,5 jam (menggunakan mobil pribadi) dari Makassar ke dermaga penyeberangan di Kab. Barru, kemudian 10 menit menyeberang ke pulau Dutungan menggunakan perahu. Harga tiket untuk menyeberang ke Pulau Dutungan pulang-pergi adalah Rp. 30.000,- / orang. Cukup terjangkau. Untuk rutenya tersendiri, cukup mengikuti jalan poros Makassar menuju Kab. Barru. Sebelum mencapai perbatasan antara Kab. Barru dan Kota Pare-pare, akan ada papan petunjuk Lokasi Pulau Dutungan, kemudian belok kiri dan lurus saja, sekitar 800 M kemudian kita akan sampai di dermaga penyeberangannya.

Pulau Dutungan sendiri sangat indah dan tenang. Di bagian depan pulau dibangun penginapan-penginapan yang ditata dengan cantik. Harga penginapannya dibanderol dengan harga 250.000-350.000. Toilet umum dan air bersih juga tersedia dengan gratis. Bagi pengunjung yang tidak ingin menginap, bisa menggunakan bale-bale (tempat duduk) yang disediakan untuk beristirahat. Di bagian belakang pulau, tidak berpenghuni, terdapat jalan setapak yang menuju hutan kecil yang pada akhirnya akan tembus ke pantai depan.

Untuk sekedar bersantai atau bosan dengan hiruk pikuk perkotaan, saya merekomendasikan pulau ini. Akan tetapi, sebaiknya sebelum ke Pulau Dutungan ada baiknya menyediakan bekal terlebih dahulu karena di sana tidak terdapat satupun pedagang. Bagi yang suka snorkeling, Pulau Dutungan lumayan bagus juga, cuma diharapkan membawa peralatan sendiri, karena di sana tidak ada penyewaan alat-alat snorkeling.

Ke’te Kesu

0 komentar
Ke’te Kesu


Ke’te Kesu berarti pusat kegiatan, dimana terdapatnya perkampungan, tempat kerajinan ukiran, dan kuburan. Pusat kegiatannya adalah berupa deretan rumah adat yang disebut Tongkonan, yang merupakan obyek yang mempesona di desa ini. Selain Tongkonan, disini juga terdapat lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. Terletak sekitar 4 Km dari tenggara Rantepao.

Sebagai salah satu desa yang berlokasi di Toraja, di Sulawesi Selatan, tempat ini menyajikan berbagai ragam unsur-unsur kebudayaan masyarakat Toraja yang tidak selalu ditemui di beberapa tempat. Di tempat ini Anda bisa melihat tongkonan (rumah), alang (lumbung padi), tempat pembuatan kerajinan tangan hingga kuburan khas Toraja.

Kata ‘Kete Kesu’ sendiri adalah ‘pusat kegiatan’, dimana di sinilah tempat utama untuk menjadi obyek wisata, dan dimana wisatawan lokal maupun internasional datang untuk untuk melihat bangunan rumah penduduk asli yang masih terjaga dengan baik. Anda pun juga bisa melihat ukiran untuk rumah adapt seperti hiasan dinding, souvenir dan tau-tau (patung untuk menghormati orang yang sudah meninggal). Di tempat ini pun memiliki dua jenis kuburan, yaitu yang di letakkan di bukit batu dan yang berupa bangunan. Untuk I-Listeners yang ingin datang ke tempat ini, dikenakan biaya sekitar Rp 5000,-

Salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi jika berkunjung ke Toraja, Sulawesi Selatan adalah perkampungan Kete’kesu. Kata kete’kesu berarti “pusat kegiatan”. Daya tarik utama dari kete’kesu adalah rumah khas penduduk Toraja yang masih terjaga keasliannya. Namun yang tak kalah menarik dari Kete’kesu adalah keberadaan kuburan keluarga penduduk setempat. Penduduk Toraja memiliki adat budaya yang cukup unik dalam hal makam keluarga. Mereka sengaja meletakkan jasad seluruh anggota keluarga mereka dalam satu Erong. Erong adalah peti mati orang Toraja jaman dulu. Erong terbuat dari kayu dengan corak berbentuk hewan. Dikarenakan umur kuburan yang sudah sangat tua, banyak tumpukan erong ‘peti mati’ yang melapuk sehingga nampak tulang- belulang berserakan di alam terbuka. Salah satunya yang saya dokumentasikan dalam foto ini. Tulang-belulang dalam foto ini merupakan tulang- belulang yang berasal dari satu keluarga utuh. Mereka dikumpulkan dalam satu erong ‘peti mati’. Sungguh kebudayaan yang menarik untuk kita ketahui.

Kampung Adat Ammatoa

0 komentar
Kampung Adat Ammatoa


Keindahan alam berupa kelestarian kawasan hutan merupakan ciri dari kawasan adat ini, serta budaya hidup masyarakatnya yang jauh dari pola hidup modern. Ciri masyarakat kajang yang ada di Desa Tana Toa yang tampak sehari-hari yaitu pakaian dengan warna serba hitam, sedangkan ciri bangunan rumahnya seragam menghadap ke Utara. Masyarakatnya dipimpin oleh seorang yang bergelar Amma Toa dengan masa kepemimpinan seumur hidup. Terletak di Kecamatan Kajang, sekitar 56 Km dari kota Bulukumba.
Kampung Adat Ammatoa

Jalan-jalan ke Sulawesi Selatan LAGI. Ga tau kenapa, jalan” ke tempat ini ga pernah bosen. Selalu ada objek menarik yang harus di kunjungin. Salah satunya Kampung Adat Ammatoa ini. Salah satu tempat wisata adat yang wajib banget dikunjungin kl maen ke Sulawesi Selatan. Tempatnya ada di Kajang, masih termasuk wilayah Bulukumba.

MENARIK. Tempat ini punya tradisi khusus,  yaitu yang masuk tempat ini harus menggunakan pakaian berwarna hitam. HARUS! Sebelum masuk ke tempat ini, kita harus mengisi buku tamu dulu di rumah Kepala Desa Tanah Towa. Disini kita bisa tau pengantar mengenai Kampung adat ini secara singkat dari kepala desanya atau para pemuda atau tokoh daerah tersebut yang suka berkumpul disini. sekilas pengantar yang saya tau tentang kampung adat ini adalah mereka memang menggunakan pakaian serba hitam, tidak menggunakan alas kaki, dan juga semua teknologi tidak masuk ke sana. WAW. Bisa dibayangkan kehidupan tanpa teknologi, buat saya, susaaaah!


Dengan menggunakan pakaian yang serba hitam dan tanpa menggunakan alas kaki, kami datang mengunjugi tempat ini. HIAAA. Kesan pertama, SEPI, HENING, dan NYAMAN.

Gak ada kendaraan, hanya ada kuda. Ga ada teknologi (lampu, listrik, tv apalagi hp) yang masuk ke kampung adat ini. Saya KAGUM. Memasuki tempat ini tanpa menggunakan alas kaki itu, wah banget, banyak banget batu”, tapi itung” treatment lah ya *katanya. :D semua rumah disini merupakan rumah panggung kayu. Disini ada 1 sumber air yang biasa digunakan untuk mencuci.


Disini ada pemimpin kampungnya, namanya Ammatoa. Belum beruntung, karena beliau sedang keluar menghadiri sebuah acara. Tapi ada sepupunya yang bersedia membagi cerita. Di dalam rumah Ammatoa dilarang mengambil foto. Ga tau kenapa tapi memang itu aturannya. Tapi selidik punya selidik, kata teman ada yg suka mencoba ambil foto diam” (termasuk mengambil foto Ammatoa), hasilnya itu pasti hilang Ammatoanya. Meskipun sudah jelas” tadi di foto *katannya.

Disetiap rumah di sini mempunyai susunan ruangan yg sama. Di paling depan pasti dapur dan kamar mandi (ini katanya supaya org yg bertamu tau kl pemiliknya sedang membuat sesuatu untuk tamunya) soalnya kan kl kita biasanya bertamu ke rumah orang, kita di tinggalkan ke belakang, kadang lama, kita ga tau itu yg punya rumah lagi ngapain, dan pengen cepet” pergi. Taunya itu yg punya rumah lagi bikini minuman. Itu sih contoh kejadiannya kenapa mereka mempunyai tata letak dapur di depan. Rumahnya tidak ada sekatnya, rumah luas berbentuk persegi. Kita bisa langsung melihat kamar tidur. Di lantai 2 tempat menumpuk hasil panen. Dan seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, ga ada teknologi.

Yang menarik buat saya adalah pemilihan Ammatoa, beliau bilang kalo Ammatoa itu adalah orang “terpilih”. Yang ada di benak saya, orang terpilih berarti melalui proses voting atau sejenisnya. Tetapi ternyata belum cukup samapi disitu, beliau bilang, meskipun sudah ada calonnya, dia harus melalui ujian dulu, ujiannya yang saya tangkap seperti mereka harus mandi dengan air, dan siapa yg masih bisa berdiri itu yg menjadi Ammatoa. Herannya adalah hanya benar-benar orang “terpilih” aja yang habis mandi dengan air itu yang masih bisa berdiri. Mungkin kata teman saya, calon yang lainnya itu bisa saja tiba” jadi tidak bisa berdiri/ lumpuh. Memang haya orang” yang berhati bersih aja yang bisa menjadi Ammatoa.

Sebelum keluar dari tempat ini atau sama dengan pintu masuknya, kita bisa melihat tempat pemakamam Ammatoa sebelumnya. Dilihat dari masa kepemimpinanya, rata-rata puluhan taun. Ada juga rumah tenun di tempat ini, digunakan untuk menenun kain khas penduduk Ammatoa ini, kata temen saya sih, harganya 500 ribu per kain.


Sedikit yang mengkhawatirkan adalah sebelum pulang, saya sempat melihat penduduk Ammatoa ini ada yg menggunakan alas kaki (mudah”an Cuma pendatang). Mungkin ini ciri dari mulai terjadi degradasi. Who knows, tapi semoga Ammatoa akan selalu menjadi tempat wisata yang tidak akan pernah luntur adatnya. Ini INDONESIA

Pantai Tanjung Bira

0 komentar
Pantai Tanjung Bira.



Tanjung Bira merupakan pantai pasir putih yang halus dan bersih dengan air laut yang jernih yang sangat terkenal di Sulawesi Selatan. pengunjung juga dapat menyaksikan matahari terbit dan terbenam serta keindahan dua pulau yang ada didepannya yaitu pulau Liukang loe dan pulau Kambing (tidak berpenghuni). Tanjung Bira terletak sekitar 200 km dari Kota Makassar atau 40 km dari Kabupaten Bulukumba. Tempat ini telah dilengkapi fasilitas berupa tempat parkir, penginapan, hotel, villa, bungalow, dan restaurant dan lain-lain. Di kawasan pantai juga terdapat pelabuhan fery yang siap mengantar pengunjung yang ingin berwisata ke pulau Selayar.


Tidak sulit untuk mengagumi pantai ini, hamparan pasir putih dan hijau toska laut memanjakan pandangan sejauh mata memandang. Panorama itu membayar 5 Jam perjalanan berkendara dengan mobil dari Makassar. Memang tidak berapa lama, namun kondisi jalanan yang rusak dan perbaikan jembatan disana-sini cukup membuat pegal badan.

Saat itu pukul 06.30 pagi di Pantai Bira Barat, Pantai ini disibukan oleh nelayan yang baru saja pulang melaut. Tidak banyak memang, namun melihat para nelayan menurunkan hasil tangkapan mereka membuat saya sadar betapa kaya laut negeri kita ini. Bagaimana tidak, sangat beragam hasil tangkapan mereka, kakap merah, ikan pari dan banyak lagi tangkapan yang bahkan saya tidak tahu namanya. Namun nampaknya ada saja yang berbeda dari setiap tangkapan nelayan pagi itu.

Tanjung bira terbagi kedalam dua pantai, Tanjung Bira Barat yang merupakan tempat wisata yang terkenal dan sudah di komersialisasi dan tanjung Bira Timur yang tenang dan tersebunyi. Asiknya, kita bisa melihat sunrise di pantai Bira Timur dan sunset di pantai Bira barat, yang hanya berjarak 5 menit berkendara.

Ketika menyentuh pasir putihnya saya termenung untuk beberapa saat, pasirnya belum pernah saya temukan sebelumnya, begitu halus seperti tepung, bukan butiran seperti biasanya. Bahkan ketika angin berhembus kencang terkadang pasirnya berterbangan terbawa angin.

Saya memiliki kebiasaan aneh menumpulkan pasir pantai yang saya kunjungi, lalu saya simpan dalam toples dan melabelinya sebagai kenangan, terkadang di waktu senggang saya melihat kembali koleksi saya, seperti time capsule untuk memicu lamunan saya akan pengalaman yang saya simpan di dalam otak. Namun untuk pantai Tanjuang Bira, saya urungkan niat saya untuk mengambil pasirnya, jujur saja saya takut di bandara nanti pasir itu dikira sebagai heroin, saking bersih putih dan lembutnya.
Ayo berenang,tunggu apa lagi! Ince, seorang teman saya yang asli pulau Selayar menepuk bahu saya, membangunkan lamunan tentang pasir tepung pantai ini. Tidak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk merasakan segarnya air laut di pagi itu, air laut yang terbentang berwarna hijau bersih dan pantai yang sepi memang bukan untuk disia-siakan.

Diujung horizon, terlihat sebuah pulau yang menggelitik rasa penasaran, adakah yang tinggal disana?indahkah panorama pulau tersebut?budaya unik apakah yang dimiliki oleh pulau tersebut?. Nama pulau itu adalah Liukang Liu, sulit bagi saya untuk memendam rasa penasaran saya setelah disodori pantai seindah Tanjung Bira, pasti di “pulau itu ada yang lebih menarik lagi” otomatis angan saya berandai.

Saat makan siang nasi bungkus di warung, Ince menceritakan akan indahnya koral dan kehidupan bawah laut di dekat pulau Liukang Liu, pulau yang terlihat dari pantai tadi. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa kapal untuk mengunjungi pulau tersebut sekalian snorkeling. “250 ribu” seorang bapak menawarkan jasa kapal kecil untuk snorkeling, ke pulau liukang dan mengunjungi penangkaran penyu dimana kita bisa berenang bersama beberapa ekor penyu besar. “tidak bisa ditawar, harga pas…bonusnya saya pinjamkan lagi snorkeling 2 buah” tegasnya lagi setelah kami mencoba menawar. Kami bukan negotiator handal, terlebih ketika bayangan snorkeling bersama penyu sudah tertanam di benak kami.
Arus lumayan kuat saat itu, jadi pemandangan sedikit keruh dan sulit untuk berenang snorkeling, namun tidak mengurangi keindahan koral yang ada di tepian pulau Liukang Liu. Setelah 20 menit bersenorkel ria, kami pun tiba di penangkaran penyu yang sebenarnya lebih cocok dibilang kolam penyu, karena tidak ada fasilitas penamngkaran dan pengelolaan penyu. Hanya kolam sebesar kira-kira 30 meter persegi diisi oleh beberapa ikan penyu yang berenang lemas kebingungan. Dibuat sebagai daya tarik wisata agar pelancong bisa berenang dan berfoto bareng penyu. Sedih.

Selain wisata bahari, saya juga mengunjungi salah satu daya tarik Tanjung Bira lainnya yang unik, yaitu pembuatan kapal phinisi tradisional. Yang terkenal memang di desa Tana Beru, sekitar 20 menit dari Tanjung Bira, namun di Dusun Tanetang yang terletak di Pantai Bira Timur, juga terdapat pembutan kapal phinisi. Dan asyiknya lagi, kapal dibuat di bibir pantai yang menawan. Kesempatan untuk menikmati indahnya pantai sekaligus belajar dari budaya pembuatan phinisi tradisional.

Ketika itu ada 2 kapal phinisi yang sedang dibuat, beruntungnya kapal yang sedang dibuat adalah kapal paling besar, yaitu sepanjang 50m pesanan orang Portugal yang dipesan dari Bali. Kala itu pengerjaan baru 7 bulan dari target 10 bulan, jadi bentuk kapal sudah terlihat dan bisa dinaiki. Pembuatan kapal phinisi dilakukan dengan cara tradisional, dengan mengadopsi teknologi dan bahan yang modern sesuai pesanan.

Sore hari, kembali saya menunggu sunset di pantai Bira Barat, tentunya dengan kembali berenang di laut yang sudah mulai sepi. Lamunan saya membawa jauh menerawang ketika saya berendam di pantai ini. Pasir pantai ini memang Heroin, ketenangan pantai yang selaras dengan keindahan panoramanya dapat membius pikiran saya untuk membawa angan ini melayang mengenang apa saja yang membuat saya tersenyum.

Malino

0 komentar
Malino.

Tempat Wisata di Sulawesi Selatan - Malino Selain terkenal dengan keindahan panorama lautnya, Sulawesi Selatan juga menyediakan panorama alam pegunungan yang tak kalah indahnya salah satunya adalah Malino. Malino merupakan tempat wisata di Sulawesi Selatan yang memberikan pemandangan alam pegunungan dan dataran tinggi yang sangat sejuk dan memanjakan mata. Tempat wisata yang berada sekitar 90 km dari pusat kota Makassar ini menyajikan keindahan pegunungan bahkan sebelum anda mencapai tempat tujuan. Selama perjalanan anda akan dimanjakan dengan hutan pinus serta keindahan batu kapur yang indah. tempat wisata yang sudah terkenal sejak zaman Belanda ini selain menyajikan panorama pegunungan juga memberikan keindahan banyak air terjun yang tidak boleh anda lewatkan. selain itu, karena udara pegunungan yang dingin tempat ini juga memberikan wisata lainnya seperti perkebunan teh, lembah biru serta wisata sejarah berupa bunker peninggalan jepang yang menarik. 

Malino adalah kelurahan yang terletak di Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Daerah yang terletak 90 km dari Kota Makassar ke arah selatan ini merupakan salah satu objek wisata alam yang mempunyai daya tarik luar biasa.

Di kawasan wisata Malino sendiri, terdapat hutan wisata, berupa pohon pinus yang tinggi berjejer di antara bukit dan lembah. Jalan menanjak dan berkelok-kelok dengan melintasi deretan pegunungan dan lembah yang indah bak lukisan alam, akan mengantarkan Anda ke kota Malino. Kawasan tersebut terkenal sebagai kawasan rekreasi dan wisata sejak zaman penjajahan Belanda.

Malino memiliki gunung-gunung yang sangat kaya dengan pemandangan batu gamping dan pinus. Berbagai jenis tanaman tropis yang indah,tumbuh dan berkembang di kota yang dingin ini. Selain itu, Malino pun menghasilkan buah-buahan dan sayuran khas yang tumbuh di lereng gunung Bawakaraeng. Sebagian masyarakat Sulawesi Selatan masih mengkulturkan gunung itu sebagai tempat suci dan keramat. Suhu di kota Malino ini mulai dari 10°C sampai 26°C. dan ketika musim hujan, berhati hati sedang berkendara karena, kota ini sering berkabut dan jarak pandangnya 100meter saja.

Perjalanan dari kota Makassar menuju daerah ini memakan waktu sekitar 2 jam. Wisata air terjun seribu tangga, air terjun Takapala, Kebun Teh Nittoh, Lembah Biru, bungker peninggalan Jepang, dan Gunung Bawakaraeng menjadi ciri khas kota Malino. Oleh-oleh khas daerah ini adalah buah Markisa ,dodol ketan, Tenteng Malino, apel, wajik, dll. Malino juga menjadi daerah penghasil beras bagi wilayah Sulawesi Selatan.

 Sebelum muncul nama Malino, dulu rakyat setempat mengenalnya dengan nama kampung ‘Lapparak’. Laparrak dalam bahasa Makassar berarti datar, yang berarti pula hanya di tempat itulah yang merupakan daerah datar, di antara gunung-gunung yang berdiri kokoh. Kota Malino mulai dikenal dan semakin popular sejak zaman penjajahan Belanda, lebih-lebih setelah Gubernur Jenderal Caron pada tahun 1927 memerintah di “Celebes on Onderhorighodon” telah menjadikan Malino pada tahun 1927 sebagai tempat peristirahatan bagi para pegawai pemerintah.


Taman Nasional Bantimurung

0 komentar
Taman Nasional Bantimurung

 
Tempat wisata di Sulawesi Selatan yang wajib untuk anda kunjungi selanjutnya adalah taman nasional Bantimurung. Taman nasional yang terletak di kabupaten Maros atau kurang lebih 45 km dari pusat kota Makassar ini sangat terkenal sebagai kerajaan kupu-kupu karena ada sekitar 250 jenis kupu-kupu yang ada di sana sehingga kupu-kupu dijadikan mascot sebagai tempat wisata ini. Sehingga anda tidak hanya akan disajikan dengan panorama keindahan alam yang menawan akan tetapi juga akan menambah pengetahuan anda. taman dengan luas mencapai 43.750 ha ini selain terkenal dengan jutaan kupu-kupunya yang menawan juga memberikan keindahan alam dengan bukit kapur, air terjun serta gua yang tidak kalah menawan. 

Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung memiliki berbagai keunikan, yaitu: karst, goa-goa dengan stalaknit dan stalakmit yang indah, dan yang paling dikenal adalah kupu-kupu. Bantimurung oleh Alfred Russel Wallace dijuluki sebagai The Kingdom of Butterfly (kerajaan kupu-kupu. Taman Nasional ini merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang menyuguhkan wisata alam berupa lembah bukit kapur yang curam dengan vegetasi tropis, air terjun, dan gua yang merupakan habitat beragam spesies [termasuk [kupu-kupu]].

Taman Nasional ini memang menonjolkan kupu-kupu sebagai daya tarik utamanya. Di tempat ini sedikitnya ada 20 jenis kupu-kupu yang dilindungi pemerintah dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No. 7/1999. Beberapa spesies unik bahkan hanya terdapat di Sulawesi Selatan, yaitu Troides Helena Linne, Troides Hypolitus Cramer, Troides Haliphron Boisduval, Papilo Adamantius, dan Cethosia Myrana. Antara tahun 1856-1857, Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di kawasan tersebut untuk meneliti berbagai jenis kupu-kupu. Wallace menyatakan Bantimurung merupakan The Kingdom of Butterfly (kerajaan kupu-kupu). Menurutnya di lokasi tersebut terdapat sedikitnya 250 spesies kupu-kupu.

Lokasi wisata ini juga memeliki dua buah gua yang bisa dimanfaatkan sebagai wisata minat khusus. Kedua gua itu adalah Gua Batu dan Gua Mimpi.

Selain di kawasan Bantimurung, Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung memiliki berbagai macam lokasi ekowisata yang menarik. Di sana terdapat lebih dari 80 Gua alam dan Gua prasejarah yang tersebar di kawasan karst TN Bantimurung-Bulusaraung.

Taman Laut TakaBonerate Kepulauwan Selayar

0 komentar
Taman Laut TakaBonerate


Bagi anda yang menyukai wisata dalam air, taman laut taka bonerate mampu menjadi pilihan bagi anda. taman laut yang menjadi salah satu unggulan tempat wisata di Sulawesi Selatan ini berada di Kepulauan Selayar ini merupakan surga bagi para penyelam untuk menikmati pemandangan bawah laut serta sangat cocok bagi anda yang mempunyai hobi snorkeling. Anda dapat menikmati berbagai panorama kehidupan bawah laut dengan turut berenang bersama ratusan ikan, penyu, kura-kura serta keindahan terumbu karang yang sangat cantik. Selain indah dengan panorama bawah lautnya, wisata ini juga memberikan harga yang sangat terjangkau. Tarif yang diberikan untuk menikmati keindahan taman ini adalah 25.000 untuk wisatawan domestic serta 60.000 untuk wisatawan mancanegara. Tidak hanya itu, anda dapat menyewa berbagai perlengkapan menyelam hanya dengan 250.000 sehingga anda tidak perlu repot-repot untuk membawa perlengkapannya dari rumah.

Taman Nasional Takabonerate yang terletak di Takabonerate Kabupaten Selayar Sulawesi Selatan merupakan salah satu taman laut yang paling indah di Indonesia. Takabonerate dikenal memiliki karang atol terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, dan terbesar ketiga di dunia setelah Atol Kwajalein dan Suvadiva.

Takabonerate adalah pulau yang menawarkan kelimpahan pemandangan dasar laut yang menakjubkan, seperti kontur dinding tebing, kemiringan, dan dasar laut datarnya. Atolnya membentuk terumbu karang dengan berbagai spesies tanaman laut yang sangat indah yang diketahui ada sebanyak 261 spesies. Atol ini terbentuk dari sisi pegunungan terendam sekitar 2.000 meter di bawah permukaan laut.. Semua adalah terumbu karang yang indah dan relatif masih utuh.Semua itu akan memberi pengalaman yang luar biasa terutama bagi para penggemar penyelam atau dive. Taman laut Takabonerate menyimpan kekayaan alam laut yang murni dan belum terjamah.

Di dalam laut Takabonerate masih bisa ditemukan spesies langka seperti cacing pipih, nudibranch, udang, ikan buaya, kura-kura, cumi-cumi, di hampir setiap titik penyelaman. Pemandangan alamnya pun sangat eksotik dengan hamparan pasir putih yang luas dan air laut bening bak kristal berwarna biru kehijauan.

Sejak 8 tahun yang lalu, investor asing telah mendirikan sebuah investasi usaha patungan dengan Takabonerate Islands Nationals Park atau perusahaan yang terdaftar di Sulawesi Selatan sebagai media untuk memfasilitasi perkembangan objek wisata di daerah ini.

Wisatawan dapat menikmati dan merasakan keindahan Takabonarate selama perjalanan musim terbaik, yaitu dibulan April sampai Juni dan bulan Oktober sampai Desember setiap tahun.

Menjelang bulan November, kembali digelar festival Takabonerate yang ke empat untuk kembali mengeksplorasi keindahannya yang akan digelar pada tanggal 17 – 22 November 2012.

Kegiatan festival Takabonerate ini antara lain :

Fun Dive / Dive Trip
fam Tour / Land Tour
Lomba Underwater Photography
Lomba Tourism Object Photography
Lomba Penulisan Blog
Parade Joloro Hias
Art Performance

Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp.1.900.000/orang mencakup :

– Flight Return (Makasar – Selayar)
– Hotel 4 malam
– Meals 12x
– Dive trip (2 days) – bila belum ada license, tetap bisa ikutan dive discovery
– Dive Gear
– Land tour (2 days)
– Akomodasi lokal
– Art Performance
– Guide lokal
Biaya tidak termasuk :
Flight Return (Lokasi luar – Mks)
Personal Expenses
Jumat, 05 Juni 2015

AHMAD RISAL ANDI CAMBANG

0 komentar
AHMAD RISAL SM, S.Pd,I Pemuda cendekiawan 
Sidrap Yang dijuluki ANDI CAMBANG


Nama Lengkap     : Ahmad Risal SM S,Pd,i

Nama Lain           : Andi Cambang Petta Janggo"

Tempat Lahir       : Desa Carawali Kec,Watang Pulu Kab, sidrap

Tanggal Lahir      : Selasa | 24 Agustus 1990

 Kebangsaan       : Indonesia

Agama                 : Islam


BIOGRAFI LENGKAP ANDI CAMBANG
   
Profil dan Biografi ANDI CAMBANG merupakan sosok pahlawan nasional. Beliau lahir pada tanggal 24 Agustus pada tahun 1990 di Desa Carawali, tepatnya di RSUD Aripin Nu'mang. Beliau lahir dari sosok ayah yang bernama Andi Janggo, danseorang ibu yang bernama Andi Tenri. Ayah dari Andi Cambang ini merupakan seorang pekerja di Pabrik Berasr, PT RESKI, dan ibunya merupakan keturunan UWWA' .

Profil dan Biografi ANDI CAMBANG mengenyam pendidikan keguruan yang bernama HIK. Beliau belajar di tempat tersebut selama satu tahun. Hal ini beliau lakukan setelah selesai melaksanakan belajarnya di Wirotomo. ANDI CAMBANG diangkat menjadi seorang Jendral pada umurnya yang menginjak 20 tahun. Beliau merupakan orang termuda dan sekaligus pertama di Indonesia. Sejak kecil, beliau merupakan seorang anak yang pandai dan juga sangat menyukai organisasi. Dimulai dari organisasi yang terdapat di sekolahnya dahulu, beliau sudah menunjukkan criteria pemimpin yang disukai di masyarakat. Keaktifan beliau pada pramuka hizbul watan menjadikan beliau seorang guru PPM RAMA ASRI. Lalu beliau berlanjut menjadi seorang kepala sekolah.

Profil dan Biografi ANDI CAMBANG juga pernah masuk ke dalam belajar militer di PETA (Pembela Tanah Air) yang berada di Kab SIDRAP. Pendidikan di PETA dilakukan oleh tentara Jepang pada sat itu. Ketika sudah menyelesaikan pendidikannya di PETA, kemudian beliau menjadi seorang Komandan Batalyon yang berada di Kroya, Jawa Tengah. Kepemimpinan beliau tidak berhenti sampai situ, beliau juga menjadi seorang panglima di kota Banyumas.

Profil dan Biografi ANDI CAMBANG beliau pernah menjadi seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat di SUL-SEL. ANDI CAMBANG terpilih menjadi seorang panglima angkatan perang pada tanggal 12 November 1999. Beberapa perang melawan penjajah telah beliau pimpin seperti perang melawan tentara Inggris di Ambarawa, memimpin pasukannya untuk membela Kab SIDRAP dari serangan Sabu-sabu. Pada tahun 1995 beliau ini wafat. Beliau wafat karena terjangkit penyakit tuberculosis. Panglima besar Sudirman ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta.


   PENDIDIKAN ANDI CAMBANG
  
Sekolah Taman Siswa
SD 3 Carawali
SMP PPM Rahmatul Asri
SMA PPM Rahmatul Asri
STAI DDI PangSid
Pasca serjana UMI Makassar


   KARIR ANDI CAMBANG

Ustaz Laskar Islam
BNN Rehabilitasi Badoka Makassar
BNK Sidrap
Blogger Top Sidrap

   PENGHARGAAN ANDI CAMBANG
  
Pahlawan Daerah
Cendekiawan Sidrap
Blogger Sidrap
Pemuda Cedekiawan sidrap
Rabu, 03 Juni 2015

Ayu RMM Model Mahasiswa Terbaik Dan Model Di Sidrap

0 komentar
Ayu RMM Model Mahasiswa Terbaik Dan Model  Di Sidrap - Republik Gaul


Berparas Ayu nan jelita, dialah Ayu RMM model berbakat asal Bumi Nene' Mallomo Sidrap yang selalu menjadi pusat perhatian disetiap bola mata kaum adam yang memandangannya.

Terjun didunia modeling telah menjadi pilihan karirnya, murah senyum nan bersahabat menjadi ciri khas tersendiri bagi model kelahiran 1993 ini saat siapa saja yang hendak menyapanya."Bukan model biasa" ujar Rendy bagian pemasaran Republik Gaul saat pemotretan iklan produk distro yang digelar beberapa hari yang lalu.

Pengalamannya saat berpose didepan kamera sudah tidak diragukan lagi, sehingga sangat wajar jika Republik Gaul mengundang Ayu RMM tuk dapat hadir dan berpartisipasi pada pemotretan Model Pilihan Sidrap 28 mei lalu. "Kami telah menerima 22 usulan model yang nantinya akan hadir di Red Carpet Republik Gaul dan walhasil hanya dua model yang menurut kami telah memenuhi kriteria perwakilan target pasar produk kami, salah satunya Ayu RMM"ujar Andi Akbar Pimpinan Republik Gaul Sidrap.

Meskipun demikian, kontroversi dan bergulirnya isu-isu kurang bersahabat acapkali menjadi virus pengganggu yang sulit tuk dijinakkan. Banyak yang mempertanyakan soal mengapa harus berpenampilan minim dan terlalu terbuka. Apalagi jika dikaitkan dengan background pendidikannya yang bisa dikatakan kampus islami.

Republik Gaul sebagai panggung aksinya tentu kesulitan menepis ungkapan diatas, "Namanya juga Model Pakaian Gaul, yaa.. wajar tohh kalau minim, lagian kami juga masih memperhatikan sisi etika dan norma-norma hukum yang berlaku" tambah RTP photographer RG. (29/05)

Berikut kami sertakan koleksi foto Ayu RMM saat pemotretan promo produk distro Repulik Gaul 2015:





Minggu, 31 Mei 2015

REPUBLIK GAUL Markas Pakaiaan Distro No 1 di Sidrap

0 komentar
REPUBLIK GAUL Markas Pakaiaan Distro No 1 di Sidrap

Dengan Launchingnya Republik Gaul akan mampu menjawab masalah fashion & style terkhususnya anak muda Sidrap, fashion sudah jadi pengetahuan umum bagi anak-anak muda sidrap, ibarat tanaman subur yang setiap saat tumbuh dan berkembang. Meski dunia fashion kerap mengalami perubahan namun tak membuat membuat manager Republik Gaul tergelincir. Justru karena arus fashion yang bergelombang yang tentu arah ini menjadikan bisnis ini semakin menggeliat.

Fashion yang kami maksud disini bukan semata fashion gaya busana trendy, tetapi juga fashion sebagai simbol kebersamaan komunitas, seperti kaos, topi, jaket, atau sekedar membuat sablon, dan lain-lain hanya sebagai simbol adanya persamaan kegiatan.

MENGAPA HARUS DISTRO & KONVESI ?
REPUBLIK GAUL hadir dengan aroma yang berbeda, keunggulan kreatifitas dan inovasi di bidang disain dan kualitas produk menjadi salahsatu prioritas utama kami. Kami yakin bisa..!!! Dengan memfokuskan diri dan menekuni industri distro, mulai dari pakaian hasil konveksi (Sablon) hingga pakaian jadi siap pakai maka tidak salah lagi, jika Republik Gaul sudah siap berkiprah di barisan terdepan trendy fashion Gaul.

Dengan mengandalkan kreatifitas dan inovasi desain produk itulah, Republik Gaul sebagai bisnis distro & konveksi dapat meraih nilai tambah yang cukup tinggi Sehingga konsumen sendiri merasa puas dengan produk distro kami karena memiliki desain dan merek yang eksklusif.

TRAGEDI PADA SAAT LAUNCHING
Adapun tragaedi yang terjadi pada saat launching yaitu situs malaikat komputer di serang hacker yang tidak di ketahui, ketua dan seluruh anggota malaikat komputer turun tangan karena adanya penyerangan situs dan menggunakan semua software andalannya dan kemudian berbalik menyerang.

    Serangan DDoS Attacks : Melumpuhkan, menghancurkan hingga mengambil alih Web/situs.
    Serangan Buffer Overflow, mengirimkan data yang melebihi kapasitas sistem, misalnya paket ICMP yang berukuran sangat besar.
    Serangan SYN, mengirimkan data TCP SYN dengan alamat palsu.
    Serangan Teardrop, mengirimkan paket IP dengan nilai offsetyang membingungkan.

Mahardika Alena Model Cantik, Sponsor Republik Gaul Sidrap

0 komentar
Model Cantik Asal Sidrap

Dunia modeling memang selalu menyisahkan kisah tersendiri, bagaikan gelombang magnet yang saling tarik menarik dengan paduan gerak sentuhan yang berbeda. Mahardika Alena, ganis imut siswi sekolah menengah atas asal kota beras Sidrap belakangan ini mulai ramai diperbincangkan, baik dari kalangan model Sidrap hingga menjalar dari telinga ke telinga dan menembus dinding nomor wahid top search google.com

Dianugrahi paras wajah nan ayu, Mahardika Alena yang akrab disapa Dhika kini semakin mematangkan konsentrasinya dibidang modeling pasca keikut sertaannya sebagai model utama pada launching distro dan konveksi Republik Gaul beberapa pekan yang lalu. Dan yang takkalah hebohnya lagi, saat pihak Republik Gaul yang didukung ratusan web master memamerkan foto Mahardika didinding utama situs resminya.

Apresiasi yang berdatangan menjadi penanda bahwa simodel cantik Dhika telah menjadi bintang dalam sekejap. Dan saat dikonfirmasi ke pihak Republik Gaul prihal foto-foto Mahardika yang bertengger dihalaman teratas google.com, "Kami sangat senang mengundang Mahardika tuk menjadi model utama pemotretan promo produk distro yang kami gelar 28 mei lalu dan tentu anda bisa lihat sendiri, Dhika punya bakat yang sulit kita jumpai dilapangan, gerak tubuhnya saat didepan kamera sangat natural dengan tingkat kemistri yang... wow...!!! saya bingung mau bilang apa lagi" ungkap Andi Akbar Pimpinan Republik Gaul.

"Yaa,, SMA Negeri 1 Pangsid, tapi lihat caranya berpose didepan kamera,, mantab toch..!!!" tambah AndiGem Ketua Malaikat Komputer saat berbincang-bincang dengan kami diselah-selah pemotretan. Mungkin anda dan pembaca web/blog ini juga penasaran, seperti apa sihh foto-foto Mahardika yang mereka maksud. Berikut kami sertakan beberapa penampakannya :




 

PALING DISUKAI

POLLING ANDA :