Tampilkan postingan dengan label Budaya Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Daerah. Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 Agustus 2015

Asal Usul Raja Bugis

0 komentar

Asal Usul Raja Bugis 

Dipercaya bahwa asal-usul raja-raja di Sulawesi Selatan berasal dari To Manurung(orang bunian) manusia yang berasal dari langit, turun ke bumi. To Manurung ini membawa segala kebesaran, kehormatan, dan kesaktiannya. Menurut riwayat kuno, daratan Sulawesi mengalami 3 kali kedatangan To Manurung. Siapa saja mereka?

PERISTIWA ‘pendaratan’ pertama:

dipercaya bahwa yang mula-mula menjejakkan kakinya di daratan Sulawesi ialah “Tamboro Langi”. Lelaki perkasa ini berdiri di puncak gunung Latimojong. Ketika itu, daratan Sulawesi masih tergenang air, hanya puncak gunung Lompobattang yang mencuat di sebelah selatan, dan puncak gunung Latimojong di tengah-tengah.

Tamboro Langi lalu memproklamirkan diri sebagai utusan dari langit untuk memimpin manusia. Dengan kata lain, dia mengangkat dirinya sebagai raja dan rakyat harus tunduk padanya.

Tamboro Langi kawin dengan Tande Bilik, yaitu seorang dewi yang muncul dari busa air sungai Saddang. Puteranya yang sulung bernama Sandaboro, beranakkan La Kipadada. La Kipadada inilah yang membangun 3 buah kerajaan besar, yakni: di Rongkong asal mulanya kerajaan Toraja, di Luwu asal mulanya kerajan Bugis, dan di Gowa asal mulanya kerajaan Makassar.

Laksana garis nasib setiap peradaban, setelah keturunannya mengalami masa kejayaan, kerajaan-kerajaan tersebut mengalami kemunduran yang berakibat kekacauan.

Untuk mengatasi kekacauan ini, ‘pendaratan’ kedua terjadi. Kali ini yang diutus masih seorang laki-laki bernama Batara Guru. Batara Guru kawin dengan We Nyilitimo, puteri dari Pertiwi (Bumi bawah) dan memperoleh putera yang diberi nama Batara Lattu. Batara Lattu kawin dengan We Opu Sengngeng, puteri dari Masyrik. Dari perkawinan mereka ini maka lahirlah puteranya yang bernama Sawerigading.

Sawerigading membentuk sebuah kerajaan besar (negara) yaitu kerajan Luwu di Palopo, yang di bawahnya terdiri dari kerajaan-kerajaan yang masing-masing merdeka dan berdaulat, seperti: Kerajaan Toraja, Palu, Ternate, Bone, Gowa, dll.

Kejayaan masa Sawerigading menemui pula kemunduran dan berakhir vakum; tujuh turunan lamanya tak ada raja si Sulawesi Selatan yang memerintah, sehingga yang memegang pemerintahan hanya penduduk isi dunia yang asli.

‘Pendaratan’ ketiga pun akhirnya tiba. Namun pendaratan kali ini terdapat beberapa orang To Manurung sekaligus pada beberapa tempat di tanah yang berbeda-beda, seperti di Toraja, Luwu, Bugis, dan Makassar, yang menjadi pokok asal raja-raja yang memangku kerajaan hingga saat ini.

To Manurung di Luwu bernama Sempurusiang, kawin dengan Pattiajala, puteri yang muncul dari air. To manurung di Bone bernama Matasilompoe, kawin dengan To Manurung perempuan di Toro. To Manurung di Gowa adalah seorang perempuan, kawin dengan Karaeng Bayo dari Pertiwi. To Manurung di Bacukiki memperistrikan To Manurung di Lawaramparang, dan turunannya menjadi raja di tanah-tanah sebelah barat danau Tempe (Ajatapparang) dan di sepanjang lereng gunung (Massinrinpulu).

Lalu, bagaimana corak pemerintahan mereka? Era Tamboro Langi’ adalah era pemerintahan yang absolute monarchi, yaitu kehendak raja saja yang jadi; rakyat cuma tahu tunduk dan menerima titah raja. Sementara pada peristiwa To manurung ketiga, corak pemerintahannya sudah agak demokrasi mesti diakui belum sempurna.

Peribahasa Bugis menyebutkan: “Makkeda tenribali, mette tenrisumpalang.” Artinya: “Berkata tak dapat dilawan, menyahut tak dapat disalahkan”. Gambaran akan sifat Absolute monarchie; apa yang dikatakan raja, itulah yang benar.

Namun sedikit berbeda ketika kejadian To Manurung di Gowa. Ketika To manurung menjejakkan kakinya di Tamalate, Patcallaya atas nama rakyat Gowa datang ke hadapan To Manurung, dan berkata: “Ana’mang, bainemang, iapa nakulle nipela, punna buttaya angkaeroki.” Artinya: Anak kami, istri kami, hanya dapat disingkirkan kalau tanah (rakyat) yang menghendaki.

Nampak di sini sifat-sifat demokrasi yang mulai berkembang ketika itu, bahwa seorang raja tidak bisa berbuat semaunya saja tanpa persetujuan adat. Hal ini dikuatkan oleh bukti ketika Tepu Karaeng Daeng Tarabung, Karaeng Bontolangkasa, raja Gowa ke XIII (1590-1593) diterjang gelombang pemberontakan oleh rakyatnya sendiri, lantaran memerintah secara zalim. Beliau ‘diusir’ dari kerajaannya pada tahun 1593.

Lipa Sa'bbe / Sarung Bugis

0 komentar

Lipa Sa'bbe / Sarung Bugis 


Dahulu, sarung dipakai oleh orang-orang yang berlayar di sekitar Semenanjung Malaka, dekat pulau Sumatra dan Jawa. Mengingat orang-orang yang berlayar tersebut biasanya  pada saudagar serta pedagang Muslim dari India, dan Agama Islam menyebar dari dekat pantai, maka diperkirakan bahwa dahulu sarung ditenun oleh pria-pria Muslim. Sementara dalam perkembangannya, di Indonesia sarung cukup berperan dalam kehidupan setiap lapisan masyarakat tanpa memandang umur, jenis kelamin, maupun status sosialnya. Sarung sering terlihat sebagai bawahan busana tradisonal pada beberapa daerah, juga sebagai tenunan yang bersifat sacral.

Dari sudut fungsi dan pemakaiannya, Kuncaraningrat (1986) membagi kedalam empat golongan, yaitu pakaian sematamata sebagai alat untuk menahan pengaruh dari alam sekitar, lambang keunggulan dan gengsi, lambang yang dianggap suci, serta sebagai perhiasan tubuh.Sementara dari segi sosial, secara umum sarung digambarkan sebagai kepandaian menenun seorang wanita, berdasarkan dominannya kaum wanita pada kegiatan pertenunan. Kemampuannya dalam menenun, diidentikkan dengan kesabaran, ketekunan, dan keuletan. Bagi masyarakat yang masih memegang teguh tradisi, hal ini merupakan sesuatu yang dapat dibanggakan.

Pada zaman modern ini pergeseran fungsi sarung saat ini tenunan tersebut hanya berfungsi sebagai bagian dari pakaian tradisional masyarakat setempat yang banyak digunakan dalam acara-acara adat terutama pernikahan.

Namun saat ini masyarakat Kabupaten Wajo pun sudah banyak yang tidak menggunakan pakaian tradisional mereka ketika menghadiri sebuah pernikahan. Sehingga dapat dikatakan fungsi utama dari tenunan sutra tradisional di Kabupaten Wajo saat ini lebih cenderung bersifat ekonomi. Karena tenunan gedogan ini sangat membantu ekonomi perajinnya, sebab mayoritas mata pencaharian suami mereka ialah bertani di sawah tadah hujan (agraris) sehingga ketika suami mereka bertani kebutuhan sehari-hari ditutupi oleh hasil menenun istri/anakanak wanitanya.

Ragam hias sarung sutera Lipa Sabbe

Pada tenunan sutra tradisional Gedogan diKabupaten Wajo, ragam hias (atau dalam
bahasa Bugis disebut balo) terbagi dua jenis. Yaitu ragam hias pada jalur benang pakan yang disebut balo makkaluk yang berarti ragam hias melingkar, serta ragam hias pada jalur benang lungsi disebut balo metettong yang berarti ragam hias berdiri.

Menurut Album Seni Budaya Sulawesi Selatan: Seri Tenun Budaya Bugis dan Tenun
Tradisional Bugis Makassar, pada mulanya tenunan sutra tradisional Gedogan
diKabupaten Wajo hanya mengenal tiga ragam hias geometris, yakni balo renni (kotak-kotak kecil),balo tengnga (kotak-kotak sedang), dan balo lobang/lebbak(kotak-kotak besar). Ragam hias pada tenunan sutra tradisional Gedogan khas Sulawesi Selatan umumnya memang berupa bidang kotak yang berwarna-warni yang disebut tenun palekat, yakni salah satu dari ragam hias kotak-kotak diatas maupun perpaduan dari ragam hias-ragam hias tersebut, yang terbentuk dari jalinan benang lungsi dan benang pakan yang beraneka warna. Seperti pada tenunan Mandar, ragam hias pada tenunan sutra tradisional Bugis di Kabupaten Wajo juga terbagi atas bidang kepala (puncang) dan tubuh. Dalam penggunaannya sehari-hari, bagian kepala selalu dibelakang. Kira-kira pada tahun 1920 dikenal ragam hias beso, yakni ragam hias yang dihasilkan dari teknik menarik benang tenun sehingga tergeser dari posisi jalur lurus. Dan pada tahun 1950, ada perkembangan ragam hias yang disebut panji, yang merupakan stilasi dari huruf S.

Tahun 1958, ragam hias beso dikembangkan menjadi bentuk lancip atas dasar garis
zigzag, ragam hias ini disebut balo cobo(coboartinya lancip) atau ragam hias pucuk
rebung. Dan selanjutnya lahir ragam hias jiki/subik(artinya mencukil) yang dihasilkan
dengan teknik mencukil benang pada waktu ditenun. Di samping motif-motif tersebut,
ada pula ragam hias cebang (artinya ditaburi), yang berukuran kecil-kecil dan diletakkan di seluruh bidang tenunan dengan teratur.
Perkembangan ragam hias ini tidak hanya pada bentuk namun juga pada penggunaan
warna yang tidak lagi terbatas pada warna hitam, merah, dan putih saja, melainkan juga warna-warna cerah seperti kuning, ungu, hijau, dan sebagainya. Tenunan sutra tradisional Gedogan di Kabupaten Wajo memang khas dengan warna-warna cerah yang manis dan kontras.

Pada perkembangan ini, bentuk ragam hias pun sudah mulai dipadukan dengan lebih
berani sesuai kreasi perajin. Pemaduan ini tidak dilakukan berdasarkan satu prinsip
tertentu, dan diberi nama sesuai keinginan perajin. Contohnya ragam hias balo saputangan, dimana ragam hias hanya terdapat di bagian pucangnya saja sementara bidang tenunan lainnya polos. Atau balo mapan giling
(artinya pulang kembali),
yang merupakan perpaduan dari balo panji ,jiki/subik dan beso. Sehingga, saat ini ragam hias tenunan sutra tradisional Gedogan jarang disebut lagi dengan nama-nama ragam hias dasar, melainkan dengan nama-nama baru, yang diambil dari suatu peristiwa yang terjadi pada waktu menenun.

Beberapa perajin yang ditemui di lapangan, bahkan memadupadankan beberapa agam
hias dasar dan diberi nama sesuai kejadian-kejadian yang sedang diminati saat itu,
contohnya ragam hias KDI, ragam hias AFI,ragam hias Soeharto, ragam hias Titik
Sandora, dan lain sebagainya.

Filosophy sarung sutera lipak sabbe

Filosofi yang terkandung pada tenunan sutra tradisional Gedogan di Kabupaten Wajo tidak terletak pada ragam hias melainkan pada warna, seperti berikut:
1.Bangsawan menggunakan warna merah atau hijau.
2.Gadis menggunakan warna-warna muda dan lembut seperti merah muda,
hijau muda, dan lain-lain.

3.Janda menggunakan warna-warna cerah seperti jingga.
4.Orang tua, maupun wanita yang sudah berkeluarga, menggunakan warna-
warna gelap seperti hitam, dan lain-lain.

Kain tradisional Bugis yang berupa sarung ini memiliki corak garis-garis yang cantik, dan terbuat dari sutra yang diproduksi oleh masyarakat bugis sendiri. Masyarakat Bugis dari desa Tajuncu di Sulawesi Selatan sudah menggunakan cara modern dalam pengembangbiakan ulat sutra, untuk memenuhi kebutuhan benang para penenun di desa Sempange, Sengkang yang merupakan pusat pembuatan kain tenun di Sulawesi Selatan.
Menurut legenda, masyarakat Bugis percaya bahwa keterampilan menenun nenek moyang masyarakat Bugis diilhami oleh sehelai sarung yang ditinggalkan oleh para dewa di pinggir danau Tempe. Dan di desa-desa yang terletak di pinggiran danau Tempe itulah kain tenun Bugis yang sangat bagus itu dibuat.

Bahan sandang pada masa lampau, tidak pernah bisa lepas dari fungsi sebagai pelengkap kebutuhan budaya. Ini pula yang terjadi pada kain sarung Bugis. Selain menjadi pakaian sehari-hari, kain sarung Bugis, digunakan untuk kelengkapan upacara yang bersifat sakral, juga sebagai hadiah untuk mempelai perempuan dari mempelai laki-laki.

Corak kain sarung Bugis ada beberapa macam, di antaranya adalah corak kotak-kotak kecil yang disebut balo renni. Sementara itu, corak kotak-kotak besar seperti kain tartan Skotlandia, diberi nama balo lobang. Selain corak kotak-kotak, terdapat pula corak zig-zag yang diberi nama corak bombang. Corak ini menggambarkan gelombang lautan. Pola zig-zag ini dapat diterapkan di seluruh permukaan sarung atau di bagian kepala sarung saja, adapun bagian kepala sarung justru terletak di area tengah sarung, dan sering juga corak bombang ini digabungkan dengan corak kotak-kotak.

Selain corak-corak tersebut, ada pula pola kembang besar yang disebut sarung Samarinda. Meskipun Samarinda berada di Kalimantan Timur, rupanya, kebudayaan menenun sarung di Samarinda, dibawa oleh masyarakat Bugis yang mencari suaka ke Kerajaan Kutai Kartanegara akibat perjanjian Bungaja antara Kerajaan Gowa dan Belanda sekitar abad ke-16. Dan orang Bugis pendatang itulah yang mengembangkan corak asli tenun Bugis, menjadi tenun Samarinda, yang kemudian malah memperkaya seni kain tradisional Bugis.

Baju Bodo

4 komentar
Baju Bodo

Baju Bodo adalah pakaian tradisional perempuan suku Bugis Makassar, Sulawesi, dan Bugis Pagatan, Kalimantan, Indonesia. Baju bodo juga dikenali sebagai salah satu busana tertua di dunia

Baju bodo berbentuk segi empat, biasanya berlengan pendek, yaitu setengah atas bagian siku lengan.

Dulu, baju bodo bisa dipakai tanpa penutup payudara. Hal ini sudah sempat diperhatikan James Brooke (yang kemudian diangkat sultan Brunei menjadi raja Sarawak) tahun 1840 saat dia mengunjungi istana Bone.

Perempuan Bugis mengenakan pakaian sederhana. Sehelai sarung menutupi pinggang hingga kaki dan baju tipis longgar dari kain muslin (kasa), memperlihatkan payudara dan leluk-lekuk dada. Cara memakai baju bodo ini masih berlaku pada tahun sampai tahun 1930-an.

Pakaian ini kerap dipakai untuk acara adat seperti upacara pernikahan. Tetapi kini, baju bodo mulai direvitalisasi melalui acara lainnya seperti lomba menari atau menyambut tamu agung

Tulolona Sulawesi

Malabbiri memang tongngi
Tulolona Sulawesi
Mabbaji ampe mabbaji ampe
Alusu' ri pangadakang

Tulolona Sulawesi..
Tulolona Sulawesi..

Malabbiri memang tongngi
Tulolona sulawesi
Mabbaju bodo mabbaju bodo
Nakingking lipa' sabbena..

Sepenggal lirik lagu yang menggambarkan seorang dara mengenakan baju bodo dan lipa' sabbe.

Baju bodo adalah baju adat Bugis-Makassar yang dikenakan oleh perempuan. Sedangkan Lipa' sabbe adalah sarung sutra, biasanya bercorak kotak dan dipakai sebagai bawahan baju bodo.

Konon dahulu kala, ada peraturan mengenai pemakaian baju bodo. Masing-masing warna manunjukkan tingkat usia perempuan yang mengenakannya.
1. Warna jingga, dipakai oleh perempuan umur 10 tahun.
2. Warna jingga dan merah darah digunakan oleh perempuan umur 10-14 tahun.
3. Warna merah darah untuk 17-25 tahun.
4. Warna putih digunakan oleh para inang dan dukun.
5. Warna hijau diperuntukkan bagi puteri bangsawan
6. Warna ungu dipakai oleh para janda.

Selain peraturan pemakaian baju bodo itu, dahulu juga masih sering didapati perempuan Bugis-Makassar yang mengenakan Baju Bodo sebagai pakaian pesta, misalnya pada pesta pernikahan. Akan tetapi saat ini, baju adat ini sudah semakin terkikis oleh perubahan zaman. Baju bodo kini terpinggirkan, digantikan oleh kebaya modern, gaun malam yang katanya modis, atau busana-busana yang lebih simpel dan mengikuti trend.

Walau dengan keterpinggirannya, Baju bodo kini tetap dikenakan oleh mempelai perempuan dalam resepsi pernikahan ataupun akad nikah. Begitu pula untuk passappi'-nya (Pendamping mempelai, biasanya anak-anak). Juga digunakan oleh pagar ayu.

Paseng Tau Riolo

0 komentar

Paseng Bugis
 
Sengeka golla, na u`senge`ki kaluku, na to` sirampe ri` manennungeng, narekko massarakki bajae sangadie, napoleiki uddani congaki ribitarae tosiduppa mata riketengnge. Rekko pale maeloki missengi kareba`ku, ta`kkutanangi pasekku ri anging labu kessoe. Engkatu bunga-bunga sitakke utanengakki, narekko makelle’i daunna tabollorangmanika kasi na`saba wae mata. Sarekkoammnengi engka mancaji passengereng pallawa uddani.

Paseng /Paparingerrang dalam Bahasa Bugis


Engngerangngi duwae - alupaiwi duwae :
- Engngerangngi pappedecenna tau laingnge lao rilaemu
- Engngerang toi pappeja'mu lao ripadammu tau.
- Alupaiwi pappeja'na padammu tau lao rialemu
- Alupai toi pappedecemmu lao ripadammu tau.
Artinya :
Ingat dua hal dan lupakan dua hal ;
- Ingatlah kebaikan orang lain terhadap dirimu
- Ingat juga keburukan dirimu terhadap orang lain.
- Lupakan kebaikan kamu terhadap orang lain
- Lupakan juga keburukan orang lain terhadap dirimu.

Patampuangeng murennuangngi,
Seuwani awaraningengnge, maduanna accae, matelluna asugirengngi, maeppana dara'e.
Apa aju tabu'e satu sikuwae. Iya aju tabu'e
Tellu onrong de'sa tu naonroi madeceng.
Ritaro ritanae nanre'i bebbu'e, ritaro'i ri uwae'i masigai atamang,
Ritaro'i ri apie masigai puppu.
Artinya:
Jangan berharap kepada empat jenis iaitu;
Pertama; keberanian, kedua; kepintaran, ketiga;kekayaan.keempat derajat/keturunan.
Sebab keempat ini adalah umpama kayu lapuk.
Adapun kayu lapuk tak bisa disimpan dengan baik.
Di tanah dimakan rayap. Di simpan di air akan terendam basah.
Disimpan di api cepat habis terbakar.

Eppai pasalewangengngi seddie tau;
- Teppalaloengngi ada-ada masala naewae situdangeng.
- Teppaliwengiengiengngi gau' siratannae.
- Moloiwi ropporoppo narewe' paimeng.
- Molai laleng namatike'
Artinya :
Ada empat hal yang membuat orang selamat ;
- Tidak menyinggung dengan kata-kata sesamanya yang duduk.
- Tidak melampaui batas kewajaran
- Menemui janlan buntu, dia kembali
- Melewati sebuah jalan, dia hati-hati.

Eppa'i uwangenna paramata matappe'e
Sewuwani teppe'e
Maduanna issengnge
Matellunna gau pattuju'e
Maeppanna siri'e
Artinya :
Ada empat permata yang memancarkan cahaya pada anak cucu nabi adam
Pertama : iman dan kepercayaan
Kedua : pengetahuan
Ketiga : perbuatan baik
Keempat: harga diri

Ceko riyala sanreseng
Pajaneng temmalampe'
Riyala pakkawaru.
Lempuu riyala sanreseng
Pajaneng masumange'
Madeceng laona
Artinya :
Jika sifat curang dijadikan pedoman (sandaran)
Tentulah takkan mungkin lestari
Untuk dijadikan pengharapan
Jika kejujuran dijadikan pedoman (sandaran)
Tentulah akan menjadi sesuatu yang indah
Segala sesuatunya akan baik

Uwappasengenngi makkatenning ri limaé akkatenningeng:
Mammulanna, ada tongenngé,
Maduana, lempuk-é,
Matellunna, gettenngé,
Maeppakna, sipakataué,
Malimanna, mappesonaé ri pawinruk séuwaé,
Artinya :
Aku memesankan berpegang pada lima pegangan:
Pertama, perkataan yang benar,
Kedua, kejujuran,
Ketiga, keteguhan pada keyakinan,
Keempat, saling menghargai sesama manusia,
Kelima, berserah diri kepada pencipta yang tunggal.

Paddioloiwi nia' madeceng ritemmaddupana sininna gau'e.
Artinya :
Dahuluilah dengan niat yang baik sebelum terlaksananya semua perbuatan.

- Aja' mumatelleng poadangngi rahasiya makkunraimmu,
- Aja' mumatelleng sanre ri tosugi mammula menre'e.
- Akkalitutuiwi majjowa ri arung maloloe.
- Aja mutonangi lopi wati sewalie.
Artinya:
- Hati-hati jika membuka rahasia pada isterimu
- Hati-hatilah jika bersahabat dengan orang kaya baru.
- Hati-hatilah mengikut pemimpin yang masih muda.
- Jangan menumpang perahu yang hanya memiliki pengapung sebelah.

Lima rupanna mappasala nawanawa ;
1. Masero cinnae
2. Nabette rennu
3. Nalipe'e tau
4. Nawasue bacci
5. Maraja teyae.
Artinya:
Lima macam yang membuat orang salah pemikiran ;
1. Terlalu mau
2. Terlalu gembira
3. Terlalu takut
4. Terlalu marah
5. Terlalu tidak mau.

Tanranna tau sulesana-e:
Mola-i ada naparapi,
Duppa-i ada napasau,
Matu ada natuttukenna,
Taro-i gau' nariakkuanna-e'.
Artinya:
Ciri orang bijaksana:
Mampu mengikuti pembicaraan,
Dalam menyambut pembicaraan ia membalasnya dan mengalahkannya,
Menyusun pembicaraan dengan teratur dan terarah,
Melakukan perbuatan yang sepatutnya.

Eppa' tanranna tomadeceng kawali'e ati'e,
Sewuwani passui'e ada' nappatuju,
Maduanna matu'i ada' nasatinaja,
Matellunna ada' nappasau',
Maeppa'na molai ada na parapi.
Artinya :
Ada empat tandanya orang yang baik hati.
Pertama, mengeluarkan perkataan yang benar (bercakap benar),
Kedua, menyusun kata-kata yang bijaksana,
Ketiga, menerima perkataan (nasihat) dan menguasainya,
Keempat, teliti dalam berkata

Naiya solangnge'i mangkaue,
Sewuwani nabawampawangngi tau tebbe'e,
Maduanna denna situru'e ada ribicara melempu'e,
Matellunna temmalempue'i ripadanna tau,
Maeppana napesangi tori alena maggau' bawang ri tomaega'e.
Artinya :
Seseungguhnya yang merusak pemimpin itu adalah :
Pertama, bertindak sewenang-wenang kepada rakyat.
Kedua, tak ada kesepakatan dalam kejujuran.
Ketiga, tidak jujur kepada sesama insan,
Keempat tidak melarang orangnya berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat.

Makkedai nabitta Muhammad saw."iyyaritu lino'e, eppa'i uwanggena,
Sewuwani arung malempu'e,
Madduanna panrita bokoringngi'e lino'e, pakkasiwiyanna manri puang allah ta'ala napogau,
Matelluna to'sugi'e na malabo,
Ma'epana pakke're sabbar'ra.

Artinya:
Telah bersabda nabi junjungan kita Muhammad saw. : dunia ini empat tiangnya,
Pertama pemerintah yang amanah,
Kedua para ulama yang membelakangkan dunia dan hanya mengutamakan suruhan agama,
Ketiga para hartawan yang dermawan dan
Keempat fakir miskin yang sabar.

Aniniiri 2, mupoadai 1, mupogau'i 1, muingerrangngi 2, muallupai 2 mulolang ri tengngana padammu rupa tau.
1. Aja' mucellai pojinna tauwwe...
2. Aja' murekengngi appunnanna tauwwe...
3. Poadai anu sitinaja weddingnge napurio tauwwe...
4. Pogau'i gau' sitinaja weddingnge napudeceng tauwwe...
5. Ingngerrangngi pappedecengna tauwwe lao ri idi'...
6. Ingngerrangngi asalammu lao ri tauwwe...
7. Allupaiwi pappedecengmu lao ri tauwwe...
8. Allupaiwi asalangna tauwwe lao ri idi'...

Duami passaleng nassabaari nasisala rupa tauwwe ri lalengna lino.
Anu temmanessae sibawa
Anu tenripahangnge"
Artinya :
Hanya 2 hal yang menjadi penyebab perselisihan antar sesama manusia di dunia ini
Hal yang tidak jelas dan
Hal yang tidak dipahami

Lele buluu tellele abiasang, naekia lelemoo abiasangengnge, abiasang toopa palelei
Artinya :
(Gunung dapat berpindah tapi kebiasaan tidak dapat berpindah, namun kebiasaan dapat berpindah jika kebiasaan pula yang memindahkannya)
Kamis, 06 Agustus 2015

Pemandian Alam Air Panas Lejja

1 komentar
Pemandian Alam Air Panas Lejja


Suhu air di pemandian ini bisa mencapai 60 derajat celcius sehingga sering dipercayai dapat menyembuhkan penyakit gatal-gatal dan rematik. Pemandian ini berada di daerah pegunungan, memiliki panorama alam yang indah, sejuk dan sangat menarik untuk dikunjungi untuk berrekreasi. Terletak di Desa Bulu, Kecamatan Marioriwa sekitar 44 Km dari kota Watansoppeng.

Lejja, bukan kata dari bahasa India, tapi kata dari bahasa Bugis yang berarti 'pijak'. Merupakan nama sebuah tempat wisata permandian nun jauh di tengah hutan sana, di kecamatan Marioriawa, sekira 30 kilometer jaraknya dari Watansoppeng, ibu kota Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan.

Hutannya bukan sembarang hutan, tapi hutan yang masih perawan dan dilindungi oleh pemerintah. Pelbagai peringatan dipasang, salah satunya berbunyi: Satu Batang Korek Api Dapat Memusnahkan Ribuan Pohon. Biaya Rp 1.500 per orang juga dipungut untuk biaya pemeliharaan hutan yang terdiri dari pohon beragam jenis: jati, palem, putat, dan lainnya.
Pengunjung disediakan tiga kolam untuk berenang, satu untuk anak-anak dan dua untuk orang dewasa. Airnya bersumber dari mata air alami pegunungan yang mengalir terus-menerus, 'tak pernah berhenti. Yang unik dari air itu adalah suhunya yang panas. Saking panasnya, kata orang, telur bisa masak jika ditaruh di atasnya.
Tiket masuk Lejja hanya Rp 5.000 untuk orang dewasa dan Rp 2.500 untuk anak-anak. Fasilitasnya cukup lengkap: musholla, ban untuk berenang, tikar untuk duduk-duduk santai, toilet, tempat penginapan, dan ruang meeting. Kalau lapar, jajaran pedagang kaki lima siap melayani. 

Lejja, dengan hutan alami dan mata air panasnya, merupakan tempat wisata permandian andalan Sulawesi Selatan.

Kabupaten Soppeng yang berjarak 200 km di utara kota Makassar menyimpan obyek wisata yang tak kalah menariknya dengan obyek wisata lainnya di sekitar kota Makassar. Kabupaten Soppeng ini mendapat julukan Kota Kalong karena di ditempat ini banyak terdapat kelelawar di setiap pohon yang ada di sepanjang kota ini. Di Kota Kalong ini terdapat wisata air panas dengan nama Pemandian Alam Air Panas Lejja.
Pemandian Alam Air Panas Lejja berada di kawasan hutan lindung berbukit dengan panorama yang indah di Desa Bulu, Kecamatan Marioriawa, 44 km utara Kota Watansopeng yang merupakan ibukota Kabupaten Soppeng. Di tempat ini memiliki sumber air panas dengan suhu mencapai 60�C yang dipercaya bisa menyembuhkan gatal-gatal dan rematik. Pemandian ini merupakan obyek wisata andalan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Fasilitas di Pemandian Alam Air Panas Lejja ini cukup memadai dengan adanya kolam pemandian umum dan private, toilet, ruang bilas, tempat ganti pakaian, pondok peristirahatan, lapangan tenis dan baruga wisata sebagai tempat pertemuan yang bisa menampung 300 orang. Untuk kolam pemandian private disediakan dengan rumah panggung kecil yang memiliki kolam di belakangnya dengan lebar 3 meter. Sedangkan untuk kolam pemandian umumnya terdapat 5 kolam dengan fungsi yang berbeda :

Kolam I: airnya sangat panas, harus berhati-hati jika berada di tempat ini karena telur yang dicelupkan di kolam ini bisa menjadi setengah matang.
Kolam II: kolam dangkal dengan air suam-suam kuku yang bisa dipakai untuk anak-anak kecil atau bagi kamu yang tidak bisa berenang bisa juga memakai kolam ini.
Kolam III: kolam dengan kedalaman sebatas leher dan air suam-suam kuku untuk orang dewasa. Ada pelampung yang disewakan jika kamu takut berenang di kolam ini.
Kolam IV: air di kolam ini sudah normal, tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin dan kolam ini khusus orang dewasa saja.

Kolam V: kolam yang berada di sebelah timur ini dilengkapi dengan papan loncatan.
Kamu juga bisa melihat sumber air panasnya. Ada jalan setapak di sebelah kolam pemandian menuju bukit. Di sana akan ada sungai kecil dengan air panas dan bebatuan yang dialiri air panas dan mengeluarkan asap. Sampai di ujung jalan kamu bisa menemui pohon yang dibawah akarnya terdapat lubang dengan diameter sekitar 50 cm. Disitulah sumber air panas Pemandian Air Panas Lejja berasal Jangan heran kalau di sekitar pohon tersebut banyak terdapat kaleng dan botol yang diikat karena menurut informasi hal itu merupakan simbol pengharapan bagi yang menggantunggkan botol atau kaleng tersebut, dimana ketika harapan tersebut sudah terwujud maka orang tersebut akan datang lagi ke Lejja untuk melepas ikatan botol atau kalengnya dan juga sebagai simbol pengikatan hubungan pasangan sejoli yang datang ke tempat ini.

Akses ke Pemandian Alam Air Panas Lejja transport

Untuk mencapai tempat ini  harus melalui jalanan yang berliku dan terjal. Sebaiknya kamu menggunakan kendaraan bermotor untuk menuju tempat ini agar bisa menikmati keindahan alam sepanjang perjalanan menuju Pemandian Air Panas Lejja. Sesampainya di pintu gerbang pemandian ini kamu bisa memilih salah satu dari 2 pilihan jalan masuknya: melalui jalan dengan kendaraan yang bisa langsung sampai di dekat kolam pemandian atau melalui jalan dengan menyusuri tangga dengan panorama alam sekitar yang indah. Tiket untuk masuk ke pemandian ini seharga Rp. 5.000,-/orang untuk orang dewasa dan Rp. 2.500,-/orang untuk anak-anak.

Pulau Dutungan, Pesona Tak Tertandingi Kabupaten Barru.

0 komentar
Pulau Dutungeng


Pulau Dutungan, Pesona Tak Tertandingi Kabupaten Barru.

Pulau dengan luas sekitar 9 Ha ini memiliki hamparan pasir putih yang indah di sisi luarnya. Dikelilingi pemandangan laut yang biru anda dijamin akan merasa betah untuk tinggal berlama-lama di tempat ini. Berlokasi di Desa Cilelang sekitar 48 Km dari Kota Barru.
Beberapa hari sebelumnya, saya dan teman-teman memutuskan untuk melakukan one day trip ke pulau. Awalnya kami ingin mengunjungi Pulau Cangke, cuma waktu tempuhnya memakan waktu 3 jam dan cuaca sedang tidak bersahabat. Oleh karena itu, kami ganti haluan ke Pulau Dutungan.

Pulau Dutungan letaknya di Kab. Barru. Untuk menuju ke sana, kita memerlukan waktu 2,5 jam (menggunakan mobil pribadi) dari Makassar ke dermaga penyeberangan di Kab. Barru, kemudian 10 menit menyeberang ke pulau Dutungan menggunakan perahu. Harga tiket untuk menyeberang ke Pulau Dutungan pulang-pergi adalah Rp. 30.000,- / orang. Cukup terjangkau. Untuk rutenya tersendiri, cukup mengikuti jalan poros Makassar menuju Kab. Barru. Sebelum mencapai perbatasan antara Kab. Barru dan Kota Pare-pare, akan ada papan petunjuk Lokasi Pulau Dutungan, kemudian belok kiri dan lurus saja, sekitar 800 M kemudian kita akan sampai di dermaga penyeberangannya.

Pulau Dutungan sendiri sangat indah dan tenang. Di bagian depan pulau dibangun penginapan-penginapan yang ditata dengan cantik. Harga penginapannya dibanderol dengan harga 250.000-350.000. Toilet umum dan air bersih juga tersedia dengan gratis. Bagi pengunjung yang tidak ingin menginap, bisa menggunakan bale-bale (tempat duduk) yang disediakan untuk beristirahat. Di bagian belakang pulau, tidak berpenghuni, terdapat jalan setapak yang menuju hutan kecil yang pada akhirnya akan tembus ke pantai depan.

Untuk sekedar bersantai atau bosan dengan hiruk pikuk perkotaan, saya merekomendasikan pulau ini. Akan tetapi, sebaiknya sebelum ke Pulau Dutungan ada baiknya menyediakan bekal terlebih dahulu karena di sana tidak terdapat satupun pedagang. Bagi yang suka snorkeling, Pulau Dutungan lumayan bagus juga, cuma diharapkan membawa peralatan sendiri, karena di sana tidak ada penyewaan alat-alat snorkeling.

Ke’te Kesu

0 komentar
Ke’te Kesu


Ke’te Kesu berarti pusat kegiatan, dimana terdapatnya perkampungan, tempat kerajinan ukiran, dan kuburan. Pusat kegiatannya adalah berupa deretan rumah adat yang disebut Tongkonan, yang merupakan obyek yang mempesona di desa ini. Selain Tongkonan, disini juga terdapat lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. Terletak sekitar 4 Km dari tenggara Rantepao.

Sebagai salah satu desa yang berlokasi di Toraja, di Sulawesi Selatan, tempat ini menyajikan berbagai ragam unsur-unsur kebudayaan masyarakat Toraja yang tidak selalu ditemui di beberapa tempat. Di tempat ini Anda bisa melihat tongkonan (rumah), alang (lumbung padi), tempat pembuatan kerajinan tangan hingga kuburan khas Toraja.

Kata ‘Kete Kesu’ sendiri adalah ‘pusat kegiatan’, dimana di sinilah tempat utama untuk menjadi obyek wisata, dan dimana wisatawan lokal maupun internasional datang untuk untuk melihat bangunan rumah penduduk asli yang masih terjaga dengan baik. Anda pun juga bisa melihat ukiran untuk rumah adapt seperti hiasan dinding, souvenir dan tau-tau (patung untuk menghormati orang yang sudah meninggal). Di tempat ini pun memiliki dua jenis kuburan, yaitu yang di letakkan di bukit batu dan yang berupa bangunan. Untuk I-Listeners yang ingin datang ke tempat ini, dikenakan biaya sekitar Rp 5000,-

Salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi jika berkunjung ke Toraja, Sulawesi Selatan adalah perkampungan Kete’kesu. Kata kete’kesu berarti “pusat kegiatan”. Daya tarik utama dari kete’kesu adalah rumah khas penduduk Toraja yang masih terjaga keasliannya. Namun yang tak kalah menarik dari Kete’kesu adalah keberadaan kuburan keluarga penduduk setempat. Penduduk Toraja memiliki adat budaya yang cukup unik dalam hal makam keluarga. Mereka sengaja meletakkan jasad seluruh anggota keluarga mereka dalam satu Erong. Erong adalah peti mati orang Toraja jaman dulu. Erong terbuat dari kayu dengan corak berbentuk hewan. Dikarenakan umur kuburan yang sudah sangat tua, banyak tumpukan erong ‘peti mati’ yang melapuk sehingga nampak tulang- belulang berserakan di alam terbuka. Salah satunya yang saya dokumentasikan dalam foto ini. Tulang-belulang dalam foto ini merupakan tulang- belulang yang berasal dari satu keluarga utuh. Mereka dikumpulkan dalam satu erong ‘peti mati’. Sungguh kebudayaan yang menarik untuk kita ketahui.

Kampung Adat Ammatoa

0 komentar
Kampung Adat Ammatoa


Keindahan alam berupa kelestarian kawasan hutan merupakan ciri dari kawasan adat ini, serta budaya hidup masyarakatnya yang jauh dari pola hidup modern. Ciri masyarakat kajang yang ada di Desa Tana Toa yang tampak sehari-hari yaitu pakaian dengan warna serba hitam, sedangkan ciri bangunan rumahnya seragam menghadap ke Utara. Masyarakatnya dipimpin oleh seorang yang bergelar Amma Toa dengan masa kepemimpinan seumur hidup. Terletak di Kecamatan Kajang, sekitar 56 Km dari kota Bulukumba.
Kampung Adat Ammatoa

Jalan-jalan ke Sulawesi Selatan LAGI. Ga tau kenapa, jalan” ke tempat ini ga pernah bosen. Selalu ada objek menarik yang harus di kunjungin. Salah satunya Kampung Adat Ammatoa ini. Salah satu tempat wisata adat yang wajib banget dikunjungin kl maen ke Sulawesi Selatan. Tempatnya ada di Kajang, masih termasuk wilayah Bulukumba.

MENARIK. Tempat ini punya tradisi khusus,  yaitu yang masuk tempat ini harus menggunakan pakaian berwarna hitam. HARUS! Sebelum masuk ke tempat ini, kita harus mengisi buku tamu dulu di rumah Kepala Desa Tanah Towa. Disini kita bisa tau pengantar mengenai Kampung adat ini secara singkat dari kepala desanya atau para pemuda atau tokoh daerah tersebut yang suka berkumpul disini. sekilas pengantar yang saya tau tentang kampung adat ini adalah mereka memang menggunakan pakaian serba hitam, tidak menggunakan alas kaki, dan juga semua teknologi tidak masuk ke sana. WAW. Bisa dibayangkan kehidupan tanpa teknologi, buat saya, susaaaah!


Dengan menggunakan pakaian yang serba hitam dan tanpa menggunakan alas kaki, kami datang mengunjugi tempat ini. HIAAA. Kesan pertama, SEPI, HENING, dan NYAMAN.

Gak ada kendaraan, hanya ada kuda. Ga ada teknologi (lampu, listrik, tv apalagi hp) yang masuk ke kampung adat ini. Saya KAGUM. Memasuki tempat ini tanpa menggunakan alas kaki itu, wah banget, banyak banget batu”, tapi itung” treatment lah ya *katanya. :D semua rumah disini merupakan rumah panggung kayu. Disini ada 1 sumber air yang biasa digunakan untuk mencuci.


Disini ada pemimpin kampungnya, namanya Ammatoa. Belum beruntung, karena beliau sedang keluar menghadiri sebuah acara. Tapi ada sepupunya yang bersedia membagi cerita. Di dalam rumah Ammatoa dilarang mengambil foto. Ga tau kenapa tapi memang itu aturannya. Tapi selidik punya selidik, kata teman ada yg suka mencoba ambil foto diam” (termasuk mengambil foto Ammatoa), hasilnya itu pasti hilang Ammatoanya. Meskipun sudah jelas” tadi di foto *katannya.

Disetiap rumah di sini mempunyai susunan ruangan yg sama. Di paling depan pasti dapur dan kamar mandi (ini katanya supaya org yg bertamu tau kl pemiliknya sedang membuat sesuatu untuk tamunya) soalnya kan kl kita biasanya bertamu ke rumah orang, kita di tinggalkan ke belakang, kadang lama, kita ga tau itu yg punya rumah lagi ngapain, dan pengen cepet” pergi. Taunya itu yg punya rumah lagi bikini minuman. Itu sih contoh kejadiannya kenapa mereka mempunyai tata letak dapur di depan. Rumahnya tidak ada sekatnya, rumah luas berbentuk persegi. Kita bisa langsung melihat kamar tidur. Di lantai 2 tempat menumpuk hasil panen. Dan seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, ga ada teknologi.

Yang menarik buat saya adalah pemilihan Ammatoa, beliau bilang kalo Ammatoa itu adalah orang “terpilih”. Yang ada di benak saya, orang terpilih berarti melalui proses voting atau sejenisnya. Tetapi ternyata belum cukup samapi disitu, beliau bilang, meskipun sudah ada calonnya, dia harus melalui ujian dulu, ujiannya yang saya tangkap seperti mereka harus mandi dengan air, dan siapa yg masih bisa berdiri itu yg menjadi Ammatoa. Herannya adalah hanya benar-benar orang “terpilih” aja yang habis mandi dengan air itu yang masih bisa berdiri. Mungkin kata teman saya, calon yang lainnya itu bisa saja tiba” jadi tidak bisa berdiri/ lumpuh. Memang haya orang” yang berhati bersih aja yang bisa menjadi Ammatoa.

Sebelum keluar dari tempat ini atau sama dengan pintu masuknya, kita bisa melihat tempat pemakamam Ammatoa sebelumnya. Dilihat dari masa kepemimpinanya, rata-rata puluhan taun. Ada juga rumah tenun di tempat ini, digunakan untuk menenun kain khas penduduk Ammatoa ini, kata temen saya sih, harganya 500 ribu per kain.


Sedikit yang mengkhawatirkan adalah sebelum pulang, saya sempat melihat penduduk Ammatoa ini ada yg menggunakan alas kaki (mudah”an Cuma pendatang). Mungkin ini ciri dari mulai terjadi degradasi. Who knows, tapi semoga Ammatoa akan selalu menjadi tempat wisata yang tidak akan pernah luntur adatnya. Ini INDONESIA

Pantai Tanjung Bira

0 komentar
Pantai Tanjung Bira.



Tanjung Bira merupakan pantai pasir putih yang halus dan bersih dengan air laut yang jernih yang sangat terkenal di Sulawesi Selatan. pengunjung juga dapat menyaksikan matahari terbit dan terbenam serta keindahan dua pulau yang ada didepannya yaitu pulau Liukang loe dan pulau Kambing (tidak berpenghuni). Tanjung Bira terletak sekitar 200 km dari Kota Makassar atau 40 km dari Kabupaten Bulukumba. Tempat ini telah dilengkapi fasilitas berupa tempat parkir, penginapan, hotel, villa, bungalow, dan restaurant dan lain-lain. Di kawasan pantai juga terdapat pelabuhan fery yang siap mengantar pengunjung yang ingin berwisata ke pulau Selayar.


Tidak sulit untuk mengagumi pantai ini, hamparan pasir putih dan hijau toska laut memanjakan pandangan sejauh mata memandang. Panorama itu membayar 5 Jam perjalanan berkendara dengan mobil dari Makassar. Memang tidak berapa lama, namun kondisi jalanan yang rusak dan perbaikan jembatan disana-sini cukup membuat pegal badan.

Saat itu pukul 06.30 pagi di Pantai Bira Barat, Pantai ini disibukan oleh nelayan yang baru saja pulang melaut. Tidak banyak memang, namun melihat para nelayan menurunkan hasil tangkapan mereka membuat saya sadar betapa kaya laut negeri kita ini. Bagaimana tidak, sangat beragam hasil tangkapan mereka, kakap merah, ikan pari dan banyak lagi tangkapan yang bahkan saya tidak tahu namanya. Namun nampaknya ada saja yang berbeda dari setiap tangkapan nelayan pagi itu.

Tanjung bira terbagi kedalam dua pantai, Tanjung Bira Barat yang merupakan tempat wisata yang terkenal dan sudah di komersialisasi dan tanjung Bira Timur yang tenang dan tersebunyi. Asiknya, kita bisa melihat sunrise di pantai Bira Timur dan sunset di pantai Bira barat, yang hanya berjarak 5 menit berkendara.

Ketika menyentuh pasir putihnya saya termenung untuk beberapa saat, pasirnya belum pernah saya temukan sebelumnya, begitu halus seperti tepung, bukan butiran seperti biasanya. Bahkan ketika angin berhembus kencang terkadang pasirnya berterbangan terbawa angin.

Saya memiliki kebiasaan aneh menumpulkan pasir pantai yang saya kunjungi, lalu saya simpan dalam toples dan melabelinya sebagai kenangan, terkadang di waktu senggang saya melihat kembali koleksi saya, seperti time capsule untuk memicu lamunan saya akan pengalaman yang saya simpan di dalam otak. Namun untuk pantai Tanjuang Bira, saya urungkan niat saya untuk mengambil pasirnya, jujur saja saya takut di bandara nanti pasir itu dikira sebagai heroin, saking bersih putih dan lembutnya.
Ayo berenang,tunggu apa lagi! Ince, seorang teman saya yang asli pulau Selayar menepuk bahu saya, membangunkan lamunan tentang pasir tepung pantai ini. Tidak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk merasakan segarnya air laut di pagi itu, air laut yang terbentang berwarna hijau bersih dan pantai yang sepi memang bukan untuk disia-siakan.

Diujung horizon, terlihat sebuah pulau yang menggelitik rasa penasaran, adakah yang tinggal disana?indahkah panorama pulau tersebut?budaya unik apakah yang dimiliki oleh pulau tersebut?. Nama pulau itu adalah Liukang Liu, sulit bagi saya untuk memendam rasa penasaran saya setelah disodori pantai seindah Tanjung Bira, pasti di “pulau itu ada yang lebih menarik lagi” otomatis angan saya berandai.

Saat makan siang nasi bungkus di warung, Ince menceritakan akan indahnya koral dan kehidupan bawah laut di dekat pulau Liukang Liu, pulau yang terlihat dari pantai tadi. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa kapal untuk mengunjungi pulau tersebut sekalian snorkeling. “250 ribu” seorang bapak menawarkan jasa kapal kecil untuk snorkeling, ke pulau liukang dan mengunjungi penangkaran penyu dimana kita bisa berenang bersama beberapa ekor penyu besar. “tidak bisa ditawar, harga pas…bonusnya saya pinjamkan lagi snorkeling 2 buah” tegasnya lagi setelah kami mencoba menawar. Kami bukan negotiator handal, terlebih ketika bayangan snorkeling bersama penyu sudah tertanam di benak kami.
Arus lumayan kuat saat itu, jadi pemandangan sedikit keruh dan sulit untuk berenang snorkeling, namun tidak mengurangi keindahan koral yang ada di tepian pulau Liukang Liu. Setelah 20 menit bersenorkel ria, kami pun tiba di penangkaran penyu yang sebenarnya lebih cocok dibilang kolam penyu, karena tidak ada fasilitas penamngkaran dan pengelolaan penyu. Hanya kolam sebesar kira-kira 30 meter persegi diisi oleh beberapa ikan penyu yang berenang lemas kebingungan. Dibuat sebagai daya tarik wisata agar pelancong bisa berenang dan berfoto bareng penyu. Sedih.

Selain wisata bahari, saya juga mengunjungi salah satu daya tarik Tanjung Bira lainnya yang unik, yaitu pembuatan kapal phinisi tradisional. Yang terkenal memang di desa Tana Beru, sekitar 20 menit dari Tanjung Bira, namun di Dusun Tanetang yang terletak di Pantai Bira Timur, juga terdapat pembutan kapal phinisi. Dan asyiknya lagi, kapal dibuat di bibir pantai yang menawan. Kesempatan untuk menikmati indahnya pantai sekaligus belajar dari budaya pembuatan phinisi tradisional.

Ketika itu ada 2 kapal phinisi yang sedang dibuat, beruntungnya kapal yang sedang dibuat adalah kapal paling besar, yaitu sepanjang 50m pesanan orang Portugal yang dipesan dari Bali. Kala itu pengerjaan baru 7 bulan dari target 10 bulan, jadi bentuk kapal sudah terlihat dan bisa dinaiki. Pembuatan kapal phinisi dilakukan dengan cara tradisional, dengan mengadopsi teknologi dan bahan yang modern sesuai pesanan.

Sore hari, kembali saya menunggu sunset di pantai Bira Barat, tentunya dengan kembali berenang di laut yang sudah mulai sepi. Lamunan saya membawa jauh menerawang ketika saya berendam di pantai ini. Pasir pantai ini memang Heroin, ketenangan pantai yang selaras dengan keindahan panoramanya dapat membius pikiran saya untuk membawa angan ini melayang mengenang apa saja yang membuat saya tersenyum.

Taman Nasional Bantimurung

0 komentar
Taman Nasional Bantimurung

 
Tempat wisata di Sulawesi Selatan yang wajib untuk anda kunjungi selanjutnya adalah taman nasional Bantimurung. Taman nasional yang terletak di kabupaten Maros atau kurang lebih 45 km dari pusat kota Makassar ini sangat terkenal sebagai kerajaan kupu-kupu karena ada sekitar 250 jenis kupu-kupu yang ada di sana sehingga kupu-kupu dijadikan mascot sebagai tempat wisata ini. Sehingga anda tidak hanya akan disajikan dengan panorama keindahan alam yang menawan akan tetapi juga akan menambah pengetahuan anda. taman dengan luas mencapai 43.750 ha ini selain terkenal dengan jutaan kupu-kupunya yang menawan juga memberikan keindahan alam dengan bukit kapur, air terjun serta gua yang tidak kalah menawan. 

Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung memiliki berbagai keunikan, yaitu: karst, goa-goa dengan stalaknit dan stalakmit yang indah, dan yang paling dikenal adalah kupu-kupu. Bantimurung oleh Alfred Russel Wallace dijuluki sebagai The Kingdom of Butterfly (kerajaan kupu-kupu. Taman Nasional ini merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang menyuguhkan wisata alam berupa lembah bukit kapur yang curam dengan vegetasi tropis, air terjun, dan gua yang merupakan habitat beragam spesies [termasuk [kupu-kupu]].

Taman Nasional ini memang menonjolkan kupu-kupu sebagai daya tarik utamanya. Di tempat ini sedikitnya ada 20 jenis kupu-kupu yang dilindungi pemerintah dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No. 7/1999. Beberapa spesies unik bahkan hanya terdapat di Sulawesi Selatan, yaitu Troides Helena Linne, Troides Hypolitus Cramer, Troides Haliphron Boisduval, Papilo Adamantius, dan Cethosia Myrana. Antara tahun 1856-1857, Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di kawasan tersebut untuk meneliti berbagai jenis kupu-kupu. Wallace menyatakan Bantimurung merupakan The Kingdom of Butterfly (kerajaan kupu-kupu). Menurutnya di lokasi tersebut terdapat sedikitnya 250 spesies kupu-kupu.

Lokasi wisata ini juga memeliki dua buah gua yang bisa dimanfaatkan sebagai wisata minat khusus. Kedua gua itu adalah Gua Batu dan Gua Mimpi.

Selain di kawasan Bantimurung, Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung memiliki berbagai macam lokasi ekowisata yang menarik. Di sana terdapat lebih dari 80 Gua alam dan Gua prasejarah yang tersebar di kawasan karst TN Bantimurung-Bulusaraung.

Taman Laut TakaBonerate Kepulauwan Selayar

0 komentar
Taman Laut TakaBonerate


Bagi anda yang menyukai wisata dalam air, taman laut taka bonerate mampu menjadi pilihan bagi anda. taman laut yang menjadi salah satu unggulan tempat wisata di Sulawesi Selatan ini berada di Kepulauan Selayar ini merupakan surga bagi para penyelam untuk menikmati pemandangan bawah laut serta sangat cocok bagi anda yang mempunyai hobi snorkeling. Anda dapat menikmati berbagai panorama kehidupan bawah laut dengan turut berenang bersama ratusan ikan, penyu, kura-kura serta keindahan terumbu karang yang sangat cantik. Selain indah dengan panorama bawah lautnya, wisata ini juga memberikan harga yang sangat terjangkau. Tarif yang diberikan untuk menikmati keindahan taman ini adalah 25.000 untuk wisatawan domestic serta 60.000 untuk wisatawan mancanegara. Tidak hanya itu, anda dapat menyewa berbagai perlengkapan menyelam hanya dengan 250.000 sehingga anda tidak perlu repot-repot untuk membawa perlengkapannya dari rumah.

Taman Nasional Takabonerate yang terletak di Takabonerate Kabupaten Selayar Sulawesi Selatan merupakan salah satu taman laut yang paling indah di Indonesia. Takabonerate dikenal memiliki karang atol terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, dan terbesar ketiga di dunia setelah Atol Kwajalein dan Suvadiva.

Takabonerate adalah pulau yang menawarkan kelimpahan pemandangan dasar laut yang menakjubkan, seperti kontur dinding tebing, kemiringan, dan dasar laut datarnya. Atolnya membentuk terumbu karang dengan berbagai spesies tanaman laut yang sangat indah yang diketahui ada sebanyak 261 spesies. Atol ini terbentuk dari sisi pegunungan terendam sekitar 2.000 meter di bawah permukaan laut.. Semua adalah terumbu karang yang indah dan relatif masih utuh.Semua itu akan memberi pengalaman yang luar biasa terutama bagi para penggemar penyelam atau dive. Taman laut Takabonerate menyimpan kekayaan alam laut yang murni dan belum terjamah.

Di dalam laut Takabonerate masih bisa ditemukan spesies langka seperti cacing pipih, nudibranch, udang, ikan buaya, kura-kura, cumi-cumi, di hampir setiap titik penyelaman. Pemandangan alamnya pun sangat eksotik dengan hamparan pasir putih yang luas dan air laut bening bak kristal berwarna biru kehijauan.

Sejak 8 tahun yang lalu, investor asing telah mendirikan sebuah investasi usaha patungan dengan Takabonerate Islands Nationals Park atau perusahaan yang terdaftar di Sulawesi Selatan sebagai media untuk memfasilitasi perkembangan objek wisata di daerah ini.

Wisatawan dapat menikmati dan merasakan keindahan Takabonarate selama perjalanan musim terbaik, yaitu dibulan April sampai Juni dan bulan Oktober sampai Desember setiap tahun.

Menjelang bulan November, kembali digelar festival Takabonerate yang ke empat untuk kembali mengeksplorasi keindahannya yang akan digelar pada tanggal 17 – 22 November 2012.

Kegiatan festival Takabonerate ini antara lain :

Fun Dive / Dive Trip
fam Tour / Land Tour
Lomba Underwater Photography
Lomba Tourism Object Photography
Lomba Penulisan Blog
Parade Joloro Hias
Art Performance

Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp.1.900.000/orang mencakup :

– Flight Return (Makasar – Selayar)
– Hotel 4 malam
– Meals 12x
– Dive trip (2 days) – bila belum ada license, tetap bisa ikutan dive discovery
– Dive Gear
– Land tour (2 days)
– Akomodasi lokal
– Art Performance
– Guide lokal
Biaya tidak termasuk :
Flight Return (Lokasi luar – Mks)
Personal Expenses

Pantai Losari Makassar

2 komentar
Keindahan Wisata Pantai Losari di Makasar.


Pantai Losari adalah sebuah pantai yang terletak di sebelah barat kota Makassar, provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Pantai ini menjadi tempat bagi warga Makassar untuk menghabiskan waktu pada pagi, sore dan malam hari menikmati pemandangan matahari tenggelam yang sangat indah.

Dahulu, pantai ini dikenal dengan pusat makanan laut dan ikan bakar di malam hari (karena para penjual dan pedagang hanya beroperasi pada malam hari), serta disebut-sebut sebagai warung terpanjang di dunia (karena warung-warung tenda berjejer di sepanjang pantai yang panjangnya kurang lebih satu kilometer).[butuh rujukan]

Salah satu penganan khas Makassar yang dijajak di warung-warung tenda itu adalah pisang epe (pisang mentah yang dibakar, kemudian dibuat pipih, dan dicampur dengan air gula merah. Paling enak dimakan saat masih hangat).

Saat ini warung-warung tenda yang menjajakan makanan laut tersebut telah dipindahkan pada sebuah tempat di depan rumah jabatan Walikota Makassar yang juga masih berada di sekitar Pantai Losari.
Pada sore hari, semua orang bisa menikmati proses atau detik-detik tenggelamnya matahari.

Tahun 2006 pantai Losari tampil dengan wajah baru, dengan nama ikon: "Pelataran bahari". Ini menambah ikon baru bagi Makassar
Kota Makassar merupakan ibu kota provinsi Sulawesi Selatan yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Kota dengan luas wilayah 175,77 km persegi ini merupakan salah satu kota dengan berbagai keindahan di dalamnya (Lihat: Daftar Tempat Wisata di Makassar). Selain terkenal dengan coto makassarnya yang khas, Makassar juga menyajikan berbagai pilihan tempat wisata yang tidak kalah menarik dengan Bali. Jika anda sedang merencanakan liburan bersama keluarga, kerabat ataupun teman Makassar mampu menjadi salah satu tujuan yang patut untuk anda pertimbangkan. Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa tempat wisata di Sulawesi Selatan yang paling indah untuk anda kunjungi.


Berbicara masalah keindahan wisata pantai di Indonesia memang tidak ada habisnya, salah satu pantai yang menyimpan keindahan alami adalah pantai Losari. Keindahan Pantai Losari terdengar sampai keseluruh pulau di Indonesia. Pantai yang terletak di Jalan Penghibur sebelah barat kota Makassar.

Pantai ini menjadi tempat bagi warga Makassar dan pendatang untuk menghabiskan waktu pada pagi, sore dan malam hari dengan menikmati pemandangan matahari tenggelam yang sangat indah. Pantai ini memiliki keunikan dan keistimewaan yang mempesona. Salah satu ciri khas Pantai Losari adalah para pengunjung dapat menyaksikan Matahari terbit dan terbenam di satu posisi yang sama.

Wisata Pantai Losari Makasar

Para pengunjung juga dapat menikmati indahnya deburan ombak yang memecah tanggul pantai dan kesejukan angin laut yang bertiup sepoi-sepoi, sambil menyaksikan detik-detik terbenamnya matahari secara utuh di balik cakrawala, yaitu mulai dari perubahan warna hingga pergeseran posisinya sampai benar-benar hilang dari pandangan.

Selain keindahan pantainya Losari juga dikenal sebagai pusat kuliner yang menjual pangan dan jajanan yang khas. Berbagai macam kuliner lezat tersedia bagi anda yang suka berburu makan khas. Salah satunya yang digemari di pantai Losari ini adalah pisang epe.

Pisang mentah yang dibakar kemudian dipipihkan dan diberi campuran air gula merah ini bisa untuk menghangatkan badan sambil kita memandangi lautan di pantai Losari. Para pengunjung yang datang ke pantai ini juga dapat menikmati berbagai macam makanan laut yang segar. Di bagian selatan pantai Losari, terdapat sebuah kafe dan restoran terapung yang menggunakan kapal tradisional dengan berbagai macam menu, seperti masakan ikan pari, cumi-cumi dan lobster dengan harga berkisar antara Rp 10.000, – hingga Rp 30.000, – per porsi.

Dulunya selain di kafe restoran apung, di pinggir pantai juga terdapat warung tenda yang berjejer yang panjangnya kurang lebih satu kilometer, namun sekarang -warung tenda yang menjajakan makanan laut tersebut telah dipindahkan pada sebuah tempat di depan rumah jabatan Walikota Makassar yang juga masih berada di sekitar Pantai Losari.

Kelebihan lainnya dari pantai ini adalah pengunjung bisa mengakses Internet secara gratis dengan Hot Spot di sepanjang pantai Losari. Selain sarana kuliner dan wisata pantai, pantai Losari juga berfungsi sebagai sarana olahraga yaitu pada pagi hari pantai ini penuh dengan orang yang jogging sambil menikmati keindahan dari pantai Losari.

Untuk menikmati keindahan pantai Losari ini gratis dan tidak dipungut biaya. Apabila anda berkunjung ke pantai ini maka jangan lupa untuk berfoto di depan tulisan “Pantai Losari”. Akses menuju pantai Losari sangatlah mudah. Bila anda dari Bandar Udara Hasanuddin, maka hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit dengan mengendarai kendaraan bermotor, dan bila dari pelabuhan Soekarno-Hatta membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit.

Banyak hotel dekat pantai losari sehingga mempermudah anda dalam memilih hotel saat berkunjung ke pantai Losari, beberapa hotel yang berbintang yang berada disekitar dipantai Losari adalah hotel Amaris Hotel Pankkukang yang berada di jalan Bougenville, Losari Beach Hotel yang berada tepat di depan pantai losari atau di jalan Penghibur no 10, Hotel Celebes yang ada di jalan Sultan Hasanudin.

Sementara itu bagi anda yang menginginkan penginapan murah Pantai Losari anda bisa menuju Losmen Semeru yang bertarif dibawah Rp. 100.000 namun dengan pelayanan yang cukup lumayan yang berada di jalan Jampea dekat China Town. Selain itu anda bisa juga menuju ke Wisma Merapi yang memiliki tarif sedikit  lebih mahal yang berada di jalan Merapi.
Jumat, 05 Juni 2015

Pakkurru Sumange' Asal Makassar

0 komentar

 

Pakkurru Sumange': Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan


Judul               : Pakkurru Sumange': Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan
Penulis           : Ahmad Risal sm / Andi Cambang
Penerjemah  : Bizot La Ogi
 
Pakkurru Sumange': Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan melacak sejarah seni pertunjukan Sulawesi Selatan mulai 1940-an hingga tahun-tahun menjelang pergantian milenium, sekaligus menceritakan pada kita bagaimana tradisi musik dan tari itu berkembang dari praktik-praktik ritual masa lampau sampai menjadi acuan dalam seni avant garde.

Sang penulis, Anderson Sutton, pun menuntun kita menuju sebuah kaleidoskop sejumlah acara pertunjukan di Sulawesi Selatan, menelusuri kedalaman bunyi-bunyian, struktur-struktur, dan kekuatan simbolik dari sinrilik (lagu dan syair epos berbahasa Makassar), lagu-lagu liris yang diiringi kacaping, dan permainan gendang, sekaligus melacak perkembangan musik pop kawasan ini.

“Tak ada yang sebanding dengan buku ini, bukan hanya karena subyeknya, namun juga cara penulis mendekatinya… Setiap ahli Indonesia harus punya buku ini—dan bukan hanya bagi mereka yang tertarik pada budaya musik atau pertunjukan. Buku ini memuat beberapa soal penting mengenai ketegangan-ketegangan yang mendasari Indonesia kontemporer,” begitu kata Benjamin Brinner, Guru Besar Etnomusikologi, University of California, Barkeley

“Sebuah buku yang luar biasa…. penulisnya menebar cakupan yang luas demi memberi pembaca pemahaman kuat mengenai berderet genre musik, konteks pertunjukan dan para seniman. Pemahaman Sutton mengenai sistem kesenian dan pendidikan di Indonesia tak ada bandingannya dalam kajian Indonesia,” hasil pembacaan Andrew N Weintraub, profesor musik, University of Pittsburgh, penulis Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia

Tari Ganrang Bulo

0 komentar
Tari Ganrang Bulo

Tari ini adalah Tari daerah sulawesi selatan tepatnya dikabupaten gowa, yang menceritakan tentang keceriaan anak-anak dalam bermain dengan kelincahan dalam memainkan alunan bambu-bambu,

Tari Gandrang Bulo merupakan tarian dari Sulawesi Selatan tarian ini merupakan salah satu simbol bagi masyarakat Makassar. Tari ini biasanya dilaksanakan ketika ada pesta rakyat. Dalam melakukan tarian para penari diharuskan terlihat bahagia untuk menarikannya.

Gandrang bulo berasal dari dua kata, yaitu “gandrang” yang berarti tabuhan atau pukulan dan “bulo” yang berarti bambu. Tarian ini merupakan simbol keceriaan lantaran didalamnya diselipkan berbagai humor yang membuat para penontonnya tertawa.

Pada awalnya Ganrang Bulo sebenarnya sekadar tarian yang diiringi oleh gendang. Seiring waktu tarian ini diiringi pula lagu-lagu jenaka, dialog-dialog humor namun sarat kritik dan ditambah gerak tubuh yang mengundang tawa. Kadangpula diselipkan Tari Se’ru atau Tari Pepe pepeka ri makka yang acap kali tampil sendiri di berbagai panggung pertunjukan, namun begitu oleh masyarakat sekitar tetap saja ia dikenal sebagai bagian pertunjukan Ganrang Bulo.

Saat ini, telah terjadi perubahan tari Ganrang Bulo. Perubahan tersebut untuk merespon dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Sekitar 1942, misalnya, ketika perang melawan penjajah berkobar, kaum seniman pun tak mau kalah. Mereka membangun basis-basis perlawanan dari atas panggung. Ganrang Bulo pun disulap bukan sekadar tari-tarian, melainkan tempat pembangkit semangat perjuangan dengan mengejek dan menertawakan penjajah dan antek-anteknya. Gadrang Bulo, ketika itu, lantas menjadi kesenian rakyat yang amat populer. Baru sekitar akhir 1960-an, Gandrang Bulo mengalami kreasi ulang. Mulai saat itu Ganrang Bulo dikenal dalam pentas-pentas tarian dalam acara-acara seremonial. Ganrang Bulo macam inilah yang belakangan ini kerap tampil di acara-acara resmi pemerintah maupun partai-partai politik. Namun begitu, walaupun mengalami berbagai perubahan, Ganrang Bulo tak pernah kehilangan tempat. Grup-grupnya tersebar di berbagai tempat seperti Gowa, Makassar, Maros, dan Takalar. Gandrang Bulo menjadi tempat bebas seniman kampung mengekspresikan problem mereka sehari-hari.

untuk teman-teman yang ingin mengetahui tentang lirik lagu tarian Gandrang Bulo bisa dilihat dibawah ini :

Ri pantarang ma.. enja'
nanu pongori illa
nu ta' lobo-lobo ta' lobo-lobo
sallayya' ni panggalla ma dendee...


sanging karaeng ma'.. mempo..
sanging daeng ma' jaja...
di tabe' karaeng.. tabe' kareng..
na ma' kelongi anta ma' dendee...


nia' ma' annee.. ri bioonta'...
engko ma' ri paralluta ri dendang..
engko ma' ri paralluta ri dendang...
elele.... unte'.. baji' kaana...
ala ni ma polo aja ri dendang...
ala ni ma polo aja ri dendang...


Battuu rate ma ri buulang...
ma' rencong-rencong.. ma' rencong-rencong....
na ku ta'nang ri bintoooeng.....
ala makayya na ma' dendang aule...
bunting lampo jako saallang
punna tena malla' doang' (dunk-dunk2X dunk)
bue para mata binkunna'(dunk-dunk2X dunk)


Cucu' ra'na jii ma' loompo...
ma' rencong-rencong.. ma' rencong-rencong....
ilana malla' mallii..no....
boosi.. sarrona yasi dendang aule....
punna lliang tompo baangkeng'
punna te a malla' dosa..(dunk-dunk2X dunk)
bue para mata bingkunna..(dunk-dunk2X dunk)


ala dendang dendang ikatte... passikollayya'
ala dendang dendang lillalle tapi ambakku na ni ta' do'do'
masukke nawa-nawa ta nia ta' do'do'


ala dendang dendang ri boya.. baji' rii booya..
ala dendang dendang I yawa baji ri rawa ri miccui na ia mintu'
panna la'be na ruginna ma ji ta' do'do'


ala dendang dendang manna mo.. na nana'a.. jae'
ala dendang dendang mattotor rantau bali matta na' ia'
punna tena sikolanna mae ta' do'do'...

Tari Ma'randing Toraja Sulawesi Selatan

1 komentar

Tari Ma'randing Toraja Sulawesi Selatan.

Pada pemakaman besar (biasanya orang dengan kasta tinggi), sebuah tari perang yang bernama Ma'randing dipentaskan. Para penari menggunakan pakaian perang tradisional dan senjata. Tari ini secara mendasar adalah sebuah tari partriotik atau tari perang. Kata ma'randing berasal dari randing yang berarti "mulia ketika melewatkan". Tari ini menunjukkan kemampuan dalam memakai senjata militer dan menunjukkan keteguhan hati dan kekuatan seseorang yang meninggal selama hidupnya. Ia ditarikan oleh beberapa orang yang setiap orangnya membawa perisai besar, pedang dan sejumlah ornamen. Setiap objek menyimbolkan beberapa makna. Perisai yang dibuat dari kulit kerbau (bulalang) menyimbolkan kekayaan, karena hanya orang kaya yang memiliki kerbau sendiri. Pedang (doke, la'bo' bulange, la'bo' pinai, la'bo' todolo)
menunjukkan kesiapa untuk perang, yang menyimbolkan keberanian.
 
 Tari ini dilakukan dengan 4 prinsip gerakan.:
 
 1. Komanda menginspeksi tiap orang dan senjatanya, menyimbolkan disiplin. 
 2. senjata diulur dan perisai ditarik kebelakang, menyimbolkan kesigapan. 
 3. Salah satu kakai diangkat sementara itu yang lain di tanah, menyimbolkan keteguhan hati. 
 4. Para menari mundur kebelakang, sementara itu satu penari bergerak ke kanan dan yang lain ke kiri, 
 
menyimbolkan kesigapan. Selama tarian, para penari berteriak untuk menyemangati satu sama lain selama pertempuran. Penonton akan turut serta berteriak. Teriakan ini
(peongli) terkadang bervariasi diberbagai tempat. Tarian ini dipentaskan di acara pentaskan oleh anggota yang berani di penduduk lokal. Makna asli dari tarian ini adalah untuk menjaga desa dan melindungi para gadis muda dari penculikan desa tetangga.  .

Pada pemakaman besar untuk orang-kasta yang lebih tinggi, tarian prajurit yang disebut ma'randing dilakukan, untuk menyambut para tamu. pakaian Para penari 'didasarkan pada pakaian prajurit tradisional dan persenjataan. Pada dasarnya, tarian ma'randing merupakan tarian patriotik atau tarian perang. Kata ma'randing berasal dari kata randing berarti untuk memuliakan sambil menari. Tarian ini diadakan untuk menunjukkan keahlian seseorang dalam menangani senjata militer, dan untuk memuji keberanian dan kekuatan almarhum selama hidupnya. Hal ini ditarikan oleh beberapa orang, masing-masing membawa perisai besar, pedang dan berbagai ornamen.

Setiap objek yang dikenakan oleh penari memiliki arti sendiri; perisai yang terbuat dari kulit kerbau (bulalang) merupakan simbol kekayaan karena hanya orang-orang mulia dan kaya mampu kerbau mereka sendiri; pedang (Doke, bulange la'bo ', la 'bo' pinai, Todolo la'bo ') menunjukkan kesiapan untuk memerangi datangnya dan, dengan demikian, mereka melambangkan keberanian. Helm yang terdiri dari tanduk kerbau (tanduk, dimaksudkan untuk menangkis pukulan) menjadi simbol maskulinitas dan keberanian.

Tarian ini memiliki empat gerakan pokok. Pada gerakan pertama, komandan berbalik untuk memeriksa anak buahnya dan senjata mereka - ini adalah simbol disiplin. Dalam gerakan kedua, lengan memegang perisai ditarik keluar dan perisai bergerak bolak-balik dan samping - sebuah simbol kewaspadaan. Kemudian kaki kanan diangkat sedikit dari tanah sementara tumit kanan terjebak ke dalam tanah - simbol ketekunan. Akhirnya penari bergerak tiga langkah mundur atau bergerak penari satu ke kiri dan yang lain ke kanan untuk melihat gerakan musuh di berbagai arah - juga merupakan simbol kewaspadaan. Selama tarian, para penari yang berteriak untuk mendorong satu sama lain selama pertarungan. Pengamat akan bergabung dan juga mulai berteriak. Ini berteriak (peongli) sering dapat didengar di Toraja dalam berbagai kesempatan.

Tarian ini dilakukan pada upacara pemakaman seorang anggota berani bangsawan lokal. Para penari juga menemani almarhum ke tempat peristirahatan terakhir itu.
Makna asli dari tarian ini adalah untuk menjaga permusuhan jauh dari desa dan untuk melindungi gadis-gadis muda dari yang diculik oleh musuh-musuh dari desa-desa tetangga.

Tari Ma'gellu Asal Asli Toraja

1 komentar


TARI   pa’GELLU
DARI   TANA  TORAJA,  SULAWESI   SELATAN


       Tarian Ma'gellu awalnya dikembangkan di Distrik Pangalla' kurang lebih 45 km ke arah Timur dari kota Rantepao dan biasanya dipentaskan pada upacara khusus yang disebut Ma'Bua', yang berkaitan dengan upacara pentasbihan Rumah adat Toraja/Tongkonan, atau keluarga penghuni tersebut telah melaksanakan upacara Rambu Solo' yang sangat besar (Rapasaan Sapu Randanan).
     Kata masyarakat di Toraja tarian ini namanya Pa’gellu, Gellu itu artinya tari, Ma’gellu sama dengan menari dan Pa’gellu artinya penari.  Tarian ini dilakukan oleh remaja putri dengan jumlah ganjil yang diiringi irama gendang oleh 4 pemuda.
    Tarian ini menggambarkan kegembiraan dan sukacita. Karena itu pa'gellu biasanya ditarikan gadis-gadis muda yang diidentikkan dengan keceriaan dan kegembiraan.
Pa’gellu biasa dimainkan pada acara syukuran, pernikahan dan perayaan lainnya. Rupanya tradisi sawer juga ada disini. Kalau pada tarian di Jawa sawer umumnya diselipkan pada bagian tubuh si penari, berbeda pada Pa’gellu.  Jika penonton merasa terhibur dengan tarian ini mereka akan menyelipkan uang. Menariknya saweran yang biasanya berupa uang kertas itu dijepitkan pada sebatang bambu/kayu kecil.Selanjutnya batang kayu itu disisipkan diantara hiasan kepala si penari. Tradisi nyawer di Toraja dikenal dengan istilah ma’toding.
    Busana serta aksesoris yang digunakan adalah perhiasan emas, perak, keris emas/sarapang balawan, kandaure/manik-manik, sa’pi ulu’ (hiasan dikepala penari), tali tarung, bulu bawan, rara’ mastura, oran-oran komba boko’ dan lain-lain.
Rabu, 03 Juni 2015

Tarian Bosara

1 komentar

Tari -tarian Daerah Sulawesi Selatan

Tarian Bosara

Gambar
Tari Bosara adalah tarian yang mengambarkan bahwa orang bugis jika
kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda kesyukuran
dan kehormatan. Pada zaman dahulu tarian ini sering ditarikan untuk menjamu raja, menyambut tamu agung, pesta adat, dan pesta perkawinan. Gerakan tarian ini sangat luwes sehingga enak untuk dilihat.
Bosara sendiri merupakan piring khas suku bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Bahan dasar bosara berasal dari besi dan dilengkapi dengan penutup khas seperti kobokan besar, yang dibalut kain berwarna terang, seperti warna merah, biru, hijau atau kuning, yang diberi ornamen kembang keemasan di sekelilingnya. Bosara biasanya diletakkan di meja dalam rangkaian acara tertentu, khususnya acara yang bersifat tradisional dan sarat dengan nilai-nilai budaya.
Selain digunakan sebagai salah satu alat yang digunakan para penari tarian daerah, bosara juga biasanya menjadi tempat sajian aneka kue tradisional yang diletakkan di meja pada acara resmi pemerintahan sebagai simbol adat Sulsel, khususnya pada acara-acara sakral seperti pesta pernikahan adat.
Bosara yang digunakan sebagai wadah kue tradisional maupun lauk, dijejer rapih di atas meja berkaki pendek, biasanya disebut meja Oshin. Untuk melengkapi sajian dalam wadah bosara itu, diletakkan baki kecil yang di atasnya dilapisi kain yang berwarna mirip dengan warna bosara dan meja. Di atas baki kecil tersebut, diletakkan alas dan piring ceper berukuran kecil yang digunakan untuk meletakkan kue tradisional yang diambil dari bosara, kemudian cangkir untuk minuman teh serta tutupnya, ditambah gelas untuk air putih.
Oleh karena itu, tidak heran jika setiap pesta pernikahan adat bugis-Makassar sangat lekat dengan bosara, bahkan ini mentradisi hingga sekarang.

Tari Pakarena, Tari Asli Sulawesi Selatan.

0 komentar
Tari Pakarena, Tari Asli Sulawesi Selatan.

Tari Pakarena merupakan salah satu tarian tradisional daerah dari Sulawesi Selatan. Tarian ini diiringi oleh dua kepala drum atau gandrang dan sepasang instrumen alat seperti suling yang disebut dengan puik-puik. Selain tari pakarena yang selama ini telah dimainkan oleh maestro tari Maccoppong Daeng Rannu di kabupaten Gowa, ternyata masih ada jenis tari pakarena lainnya yang berasal dari Kepulauan Selayar. Tari pakarena inilah dikenal sebagai Tari Pakarena Gantarang. Disebut Pakarena Gantarang karena tarian khas Sulawesi yang satu ini berasal dari perkampungan yang dulunya pernah menjadi pusat kerajaan di Pulau Selayar yaitu Gantarang Lalang Bata. Tari Pakarena Gantarang ditarikan oleh empat orang penari perempuan. Tarian ini pertama kali muncul pada abad ke 17, tepatnya pada tahun 1903 yaitu pada saat Panali Patta Raja dilantik menjadi Raja di Gantarang Lalang Bata.
Walaupun demikian, tidak ada data khusus dan jelas yang menyebutkan sejak kapan tarian Pakarena ini muncul dan siapa yang menciptakannya. Namun, masyarakat setempat percaya bahwa Tari Pakarena Gantarang ini memiliki kaitan dengan munculnya Tumanurung. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, Tumanurung adalah bidadari yang turun dari langit. Tumanurung bertugas memberikan petunjuk pada manusia yang ada di bumi.
Petunjuk tersebut adalah simbol–simbol berupa gerakan. Selanjutnya gerakan-gerakan tersebut dikenal dengan Tari Pakarena Gantarang. Munasih Nadjamuddin, salah satu pemain Tari Pakarena Makassar juga menyatakan hal yang hampir sama. Penari yang sering dipanggil dengan sebutan Mama Muni ini menceritakan bahwa Tari Pakarena berawal dari kisah tentang perpisahan antara penghuni botting langi atau penghuni kayangan dengan penghuni lino atau bumi. Sebelum berpisah, botting langi terlebih dahulu mengajarkan tentang tata cara hidup, cara berburu, dan cara bercocok tanam pada penghuni lino. Cara–cara tersebut diajarkan melalui gerakan–gerakan tangan, kaki, dan badan. Gerakan ini yang kemudian dipercaya sebagai tarian ritual sebagai ucapan syukur oleh para penduduk bumi untuk penghuni langit. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika gerakan dalam tarian tradisional ini begitu artistik, penuh makna, halus, dan sulit dibedakan antara satu dengan yang lainnya.
Pada pertunjukkan Tari Pakarena, tarian dimainkan dalam 12 bagian. Tiap gerakannya mempunyai makna dan filosofi masing – masing. Posisi duduk menjadi tanda awal dan akhir tarian ini. Gerakan berputar yang mengikuti arah jarum jam menggambarkan siklus kehidupan manusia yang terus berputar. Sementara gerakan naik turun melambangkan irama kehidupan yang tidak pernah mulus. Selalu ada saatnya seseorang berada di atas dan berada di bawah.
Dalam aturan menarikan Pakarena, penari tidak boleh membuka mata terlau lebar. Selain itu, gerakan kaki juga tidak diperkenankan terlalu tinggi. Aturan ini berlaku sepanjang tarian berlangsung. Dalam satu pertunjukkan tari Pakarena memerlukan waktu sekitar 2 jam. Tari Pakarena Gantarang diiringi oleh alat musik berupa kannong-kannong, gendang, kancing, gong, dan pui-pui. Sementara itu, penarinya mengenakan kostum berupa baju pahang, liba sabe, dan perhiasan-perhiasan khas Selayar. Baju pahang sendiri merupakan tenunan tangan khas Sulawesi Selatan. Sedangkan lipa sabe adalah sarung sutra khas Sulawesi Selatan.
Penari Pakarena harus perempuan karena pada dasarnya tarian tradisional ini mencerminkan karakter perempuan Gowa yang sopan, lembut, setia, dan patuh. Para penari tersebut melengkapi keindahan gerakan tariannya dalam kostum cerah berwarna merah, hijau, kuning dan putih. Untuk melengkapi tarian ini, penari juga membawa kipas berukuran besar. Selain itu, aksesoris lain yang dikenakan antara lain adalah gelang, kalung, dan juga sanggul.
 

PALING DISUKAI

POLLING ANDA :