Tampilkan postingan dengan label Tokoh Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Agama. Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 Agustus 2015

Pribahasa Bugis, Ada-adanna tho riolota"

0 komentar

Pribahasa Bugis, Ada-adanna tho riolota"

  • tEpEtuu mao ePeG, tEpolo msElomoea. Teppettu maoompennge’, teppolo massellomoe’.

(Tak akan putus yang kendur, tak akan patah yang lentur).

Artinya: Peringatan agar bijaksana menghadapi suatu permasalahan. Toteransi dan tenggang rasa perlu dipupuk supaya keinginan tercapai tanpa kekerasan.

  • turukiea ainpEsu pdai tonGiea lopi sEbo. Turukie’ inapessu, padai tonangie’ lopi sebbok. 

(Menuruti hawa nafsu ibarat menumpang perahu bocor).

Artinya: Jika menuruti hawa nafsu, lenyaplah pengendalian diri. Oleh karena itu, setiap usaha yang dilandasi hawa nafsu, yang berlebihan bisa berakhir dengan kegagalan.  

  • rEb siptoKo, mli siprep ; siruai emRE tE siruai no, mlilu sipkaiGE maiGEpi mupj.Rebba sipatokkong, mali siparappe’, sirui me’nre tessurui nok, malilusipakainge, maingeppi mupaja. 

(Rebah saling menegakkan, hanyut saling mendamparkan, saling menarik ke atas dan tidak saling menekan ke bawah, terlupa saling mengingatkan, nanti sadar atau tertolong barulah berhenti).

Artinya: Pesan agar orang selalu berpijak dengan teguh dan berdiri kokoh dalam mengarungi kehidupan. Harus tolong-menolong ketika menghadapi rintangan, dan saling mengingatkan untuk menuju ke jalan yang benar. Hal itu akan akan tenwujud masyarakat yang aman dan sejahtera.

  • pl aurgea, tEbek toGEeG tEcau meagea, tEsieaw siyulea. Pala uragae’, tebakke’ tongennge’ teccau mae’gae’, tessie’wa siyulae’.

(Berhasil tipu daya, tak akan musnah kebenaran, tak akan kalah yang banyak, tak akan berlawanan yang berpantangan).

Artinya: Tipu day, mungkin berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran tidak akan hilang. Kebenaran akan tetap hidup bersinar terus dalam kalbu manusia karena akan ia datang dari sumber yang hakiki, yaitu Tuhan YME.

  • troai tElE linoea, tElai epsonku ri msglea.  Taroi telleng linoe’, tellaing pe’sonaku ri masagalae’. 

(Biar dunia tenggelam, tak akan berubah keyakinanku kepada Tuhan).

Artinya: Apapun yang terjadi, keyakinan yang sudah dihayati kebenarannya tidak boleh bergeser, karena segala kesulitan di dunia ini hanyalah tantangan untuk menguji keimanan sescorang.

  • aj mupoloai aolon tauea. Ajak mapoloi olona tauwe’. (Jangan memotong (mengambil) hak orang lain.

Artinya: Memperjuangkan kehidupan adalah sesuatu yang wajar, tetapi jangan menjadikan perjuangan itu pertarungan dengan kekerasan yaitu saling merampas rezeki orang lain.
nerko mealoko medec ri jm jmmu atGko ri bet lea. aj muaolai betl sigru gruea tutuGi betl mkEsieG tuPun.
Nare’kko mae’lokko made’ceng ri jama-jamammu, attanngakko ri bate’lak-e’. Ajak muolai bate’lak sigaru-garue’, tuttungngi bate’lak makessingnge’ tumpukna. (Kalau mau berhasil dalam usaha atau pekerjaanmu, amatilah jejak-jejak. Jangan mengikuti jejak yang simpang siur, tetapi ikutlah jejak yang baik urutannya).

Artinya: Jejak yang simpang siur adalah jejak orang yang tidak tentu arah tujuan. Jejak yang baik urutannya adalah jejak orang yang berhasil dalam kehidupan. Sukses tak dapat diraih dengan semangat saja, melainkan harus dibarengi dengan tujuan yang pasti dan jalan yang benar.
tuupuai n tEri tuRuGi n micw.
Tuppui naterri, turungngi name’cawa. (Mendaki ia menangis, menurun ia tertawaun).

Artinya: Setiap keadaan ada timbal baliknya. Ada dua hal yang silih berganti dalam kehidupan. Maka bersiaplah menghadapi dua kemungkinan itu. Jangan takabur (sombong) jika sedang merasakan kebahagiaan, karena nanti akan merasakan kesedihan juga. Demikian pula sebaliknya, jangan terlampau bersedih jika dirundung malang, karena dari situlah proses terjadinya kebahagiaan bakal dimulai.
mN mN muai ealomu tbolo bErE iaiymi npitoko mnu.
Manya manya mui ellokmu tabbollo berrek, iami napittokko manuk. (Berhati-hatilah dengan hasratmu, kelak tertumpah bagaikan beras lalu engkau dicotok ayam).

Artinya: Memperlihatkan hasrat yang berlebihan sama halnya nunjukkan kepribadian yang lemah. Dengan menampakkan kelemahan berarti membuka peluang bagi orang yang bermaksud jahat melaksanakan niatnya.
aiy medeceG mbua tsrm.
Ia de’ce’nnge’ mabuang tassanrama. (Kebaikan itu meski pun jatuh tersangkut jua).

Artinya: Kebaikan kadang tertutup oleh gelapnya keadaan. Akan tetapi suatu saat akan tampak dalam nurani manusia yang mencintai kebaikan.

siedec edecn ad edea riyolon aEK rimuRi. sijn ad eaK riyolo ed ri muRi.
Side’ce’ng-de’ce’nna ada de’k-e’ riolona, engka rimumnri. Sijakna ada engka riolona de’k-e’ rimunri. (Sebaik-baiknya bicara ialah yang kurang komentar tetapi didukung oleh kenyataan. Seburuk-buruk bicara adalah yang banyak komentar tetapi tidak didukung oleh kenyataan).

Artinya: Sedikit bicara tetapi banyak kerja lebih baik daripada banyak bicara tetapi tidak bekerja.
auG tbkea ri subuea nerko noPoki aEso pjni baun.
Unga tabbakkae’ ri subue’ nare’kko nompokni essoe’ pajani baunna. (Kembang mekar di waktu subuh, di kala matahari terbit baunya pun hilang).

Artinya: Jangan langsung percaya atau gembira mendengar berita atau janji yang muluk-muluk, sebab berita tersebut mungkin saja tidak sesuai dengan kenyaataan.
ecec pon ekl ekl tEGn spu ri plE cpn.
Cecceng Ponna, kella-kella tenngana, sapuripalek cappakna. (Serakah awalnya, tamak pertengahannya, licin tandas akhirnya).

Artinya: Sejauh keserakahan bertambah, sejauh itu pula menghanyutkan yang baik dan akan berakhir dengan kehancuran.
sd mpbti ad, ad mpbti gau, gau mpbti tau.
Sadda mappabati' ada, ada mappabati' gau, gau’ mappabati' tau. (Bunyi mewujudkan kata, kata menandakan perbuatan, perbuatan menunjukkan manusia).

Artinya: Kedudukan dan peranan orang Bugis lebih ditentukan oleh perbuatan daripada nama yang bersangkutan. Dengan kata lain, kata dan perbuatan seseorang akan menentukan derajat nilai seseorang dalam masyarakat.

Iyya nanigesara’ ada' 'biyasana buttaya tammattikamo balloka, tanaikatonganngamo jukuka, annyalotongi ase’yo. (Jika dirusak adat kebiasaan negeri maka tuak berhenti menitik, ikan menghilang pula, dan padi pun tidak menjadi).

Artinya: Jika adat dilanggar berarti melanggar kehidupan manusia. Akibatnya bukan hanya dirasakan oleh yang bersangkutan, tetapi juga oleh seluruh anggota masyarakat, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan alam semesta.
pur bbr soPEku pur tKisi goliku aulEbirEni tElEeG nto wliea.
Pura babbara' sompekku, pura tangkisi' golikku, ulebbirenni tellennge’ nato'walie’.(Layarku sudah berkembang, kemudiku sudah terpasang, lebih baik tenggelam daripada kembali).

Artinya: Semangat yang mengandung makna kehati-hatian dan didasarkan atas acca (mendahulukan pertimbangan yang matang). Pelaut Bugis tak akan berlayar sebelum tiang, jangkar, serta tali-temali diperiksa cermat dan teliti. Di samping itu juga memperhatikan waktu dan musim yang tepat untuk berlayar. Setelah segala sesuatunya meyakinkan, barulah berlayar.
alai eced riesesn aEKai mepedec sePyGi meagea ri esesn aEKai meag mksol
Alai cedde'e risesena engkai mappedeceng, sampeanngi maegae risesena engkai maega makkasolang. (Ambil yang sedikit jika yang sedikit itu mendatangkan kebaikan, tolak yang banyak apabila yang banyak itu mendatangkan kebinasaan).

Artinya: Mengambil sesuatu dari tempatnya dan meletakkan sesuatu pada tempatnya, termasuk perbuatan mappasitinaja (kepatutan). Kewajiban yang dibaktikan memperoleh hak yang sepadan merupakan suatu perlakuan yang patut. Banyak atau sedikit tidak dipersoalkan oleh kepatutan, kepantasan, dan kelayakan.
blC mnEmuai wrprmu aebena mnEmuai aiy kiy aj muplaoai modlmu aEREeG beg lbmu.
Balanca manemmui waramparammu, abbeneng manemmui, iyakiya aja' mupalaowi moodala'mu enrennge’ bagelabamu. (Boleh engkau belanjakan harta bendamu, dan pakai untuk beristri, namun janganlah sampai kamu menghabiskan modal dan labamu).

Artinya: Peringatan pada para pedagang (pengusaha) agar dalam menggunakan harta tidak berlebihan sehingga kehabisan modal dan membangkrutkan usahanya.
siri eami riaorow ri lino.
Siri'e’ mi rionrowong ri-lino. (Hanya untuk siri'itu sajalah kita tinggal di dunia).

Artinya: Dalam pepatah ini ditekankan bahwa siri’ sebagai identitas sosial dan martabat pada orang Bugis, dan jika memiliki martabat itulah, hidup menjadi berarti.
adEea tEmek an tEmek apo.
Ade'e’ temmakke-anak' temmakke’-e’po. (Adat tak mengenal anak, tak mengenal cucu).

Artinya: Dalam menjalankan norma-norma adat tidak boleh pilih kasih (tak pandang bulu). Misalnya, anak sendiri jelas-jelas melakukan pelanggaran, maka harus dikenakan sanksi (hukumman) sesuai ketentuan adat yang berlaku.

Ka-antu jekkongan kammai batu nibuanga naung rilikua; na-antu lambu suka kammai bulo ammawanga ri je’ne’ka, nuassakangi poko’na ammumbai appa’na, nuasakangi appa’na ammumbai poko’na. (kecurangan itu sama dengan batu yang dibuang kedalam lubuk; sedangkan kejujuran laksana bambu yang terapung di air, engkau tekan pangkalnya maka ujungnya timbul, engkau tekan ujungnya maka pangkalnya timbul).

Artinya: Kecurangan mudah disembunyikan, namun kejujuran akan senantiasa tampak dan muncul ke permukaan.
mtulu pEerjo tEpEtu sirRE pdpi mpEtu iaiy.
Mattulu’ perejo te’pe’ttu siranreng, padapi mape’ettu iya. (Terjalin laksana tali pengikat batang bajak pada luku yang selalu bertautan, tak akan putus sebelum putus ketiganya)

Artinya: Ungkapan ini melambangkan eratnya persahabatan. Masing-masing saling mempererat dan memperkuat, sehingga tidak putus jalinannya. Apabila putus satu, maka semua putus.
naiy riysEeG pnw nw mpciGi riatin spai ri nwnan nloloGEGi sinin adea aEREeG gauea npoelai j aEREeG npoelai edec.
Naia riyasennge’ pannawanawa, mapaccingi riatinna, sappai rinawanawanna, nalolongenngi sininna adae’ enrenge’ gau’e’ napolei’ ja’ enrenge’ napolei’ de’ceng.(Cendekiawan (pannawanawa) ialah orang yang ikhlas, yang pikirannya selalu mencari-cari samapai dia menemukan pemecahan persoalan yang dihadapi demikian pula perbuatan yang menjadi sumber bencana dan sumber kebajikan).

Artinya: Ungkapan ini menggambarkan posisi orang pandai di masyarakatnya.
aj mumtEbE ad ap aiytu adea meag bEtuwn muatutuaiwi lilmu ap iaiy lilea pewrE ewrE.
Aja' mumatebek ada, apak iyatu adae’ mae’ga bettuwanna. Muatutuiwi lilamu, apak iya lilae’ pawere’-were’.(Jangan banyak bicara, sebab bicara itu banyak artinya. Jaga lidahmu, sebab lidah itu sering mengiris).

Artinya: Peringatan agar setiap orang selalu menjaga kata-kata yang diucapkan jangan sampai menyakiti hati orang lain.
aju mluruea mi riwl perw bol.
Aju malurue’mi riala parewa bola. (Hanyalah kayu yang lurus dijadikan ramuan rumah).

Artinya: Rumah sebagai perlambang dad pemimpin yang melindungi rakyat. Hanya orang yang memiliki sitat jujur yang layak dijadikan pemimpin, agar yang bersangkutan dapat menjalankan fungsi perannya dengan baik.
duuw lalE tEPEdi ri yol aiynritu llEn psriea aEREeG llEn p golea.
Duwa laleng tempekding riola, iyanaritu lalenna passarie’ enrennge’ lalenna. Paggollae’. (Dua cara tak dapat ditiru, ialah cara penyadap enau dan cara pembuat gula merah).

Artinya: Jalan yang ditempuh penyadap enau tidak tentu, kadang dari pohon ke pohon lain melalui pelepah atau semak belukar, sehingga dikiaskan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Pembuat gula merah umumnya tak menghiraukan kebersihan, lantaran itu banyak tak diketahui orang.

Lapa nakulle’ taue’ mabbaina narekko naulle’ni magguli-lingiwi dapurenge’ we’kka pitu. (Apabila se orang ingin beristeri, harus sanggup mengelilingi dapur tujuh kali).

Artinya: Di sini dapur merupakan perlambang dari masalah pokok data, kehidupan rumah tangga. Sedangkan tujuh kali merupakan padanan terhadap jumlah hari yang juga tujuh (Senin sampai Minggu). Maksudnya, sebelum berumah tangga harus memiliki kesanggupan memikul tanggung jawab menghidupi keluarga setiap hari.
ed nlbu aEsoea ri tEGn bitrea.
De’k nalabu essoe’ ri tenngana bitarae’. (Tak akan tenggelam matahari di tengah langit).

Artinya: Manusia tidak akan mati sebelum takdirnya sampai. Oleh karena itu, keraguan harus disingkirkan dalam menghadapi segala tantangan hidup.
jgai wi blimu sisE mualitutuai rGEmu ewk sEpulo nsb rGEmu ritu bias mCji bli.
Jagaiwi balimmu siseng mualitutui rangemmu wekka seppulo nasaba rangemmu ritu biasa mancaji bali. (Jagalah lawanmu sekali dan jagalah sekutumu sepuluh kali lipat sebab sekutu itu bisa menjadi lawan).

Artinya: Terhadap lawan sikap kita sudah jelas, namun yang harus lebih diwaspadai jangan sampai ada kawan berkhianat. Sebab, lawan menjadi bertambah dan membuat posisi rentan karena yang bersangkutan mengetahui rahasia (kelemahan) kita.
lEbi ai cau caurEeG n pElorEeG.
Lebbik-i cau-caurennge’ napellorennge’. (Lebih baik sering kalah daripada pengecut).

Artinya: Orang yang sering kalah, masih memiliki semangat juang meskipun lemah dalam menghadapi tantangan. Sedangkan seorang pengecut, sama sekali tak memiliki keberanian ataupun semangat untuk berusaha menghadapi tantangan.
mlai bukurup ri cauea mplib ri mej ri pGRoea.
Malai bukurupa ricau’e, mappalimbang ri maje’ ripanganroe’. (Memalukan kalau dikalahkan, mematikan kalau ditaklukkan).

Artinya: Dikalahkan karena keadaan memaksa memang memalukan. Sedangkan takluk sama halnya menyerahkan seluruh harga diri, dan orang yang tidak memiliki harga diri sama halnya mati.
naiy tau mlEPuea mGuru mnai tau sogiea.
Naiya tau malempuk-e’ manguruk manak-i tau sugi-e. (Orang jujur sewarisan dengan rang kaya).

Artinya: Orang jujur tidak sutit memperoleh kepercayaan dari orang kaya karena kejujurannya.
mess pG tEmess api mess api tE mess botorE.
Masse’sa panga, temmase’sa api, masse’sa api temmas’esa botoreng. (Bersisa pencuri tak bersisa api, bersisa api tak barsisa penjudi).

Artinya: Sepintar-pintarnya pencuri, dia tidak mampu mengambil semua barang (misalnya mengambil rumah atau tanah). Akan tetapi sebesar-besarnya kebakaran hanya mampu menghancurkan barang-barang (tanah masih utuh). Akan tetapi seorang penjudi dapat menghabiskan seluruh barang miliknya (termasuk tanah dalam waktu singkat).
mau meag pbiesn nboGo po lopin etaw n lurE.
Mau mae’ga pabbise’na nabonngo ponglopinna te’a wa' nalureng. (Biar banyak pendayungnya, tetapi badoh juru mudinya takkan ku jadi penumpangnya).

Artinya: Kebahagiaan rumah tangga ditentukan oleh banyak ha , tetapi yang paling menentukan adalah kecakapan dan rasa tanggung jawab kepala rumah tangga itu sendiri.
naiy acea riptopoki ejko agto aliri etyai mrEdu mpoloai.
Naiya accae ripatoppoki je’kko, aggato aliri, nare’kko te’yai maredduk, mapoloi.(Kepandaian yang disertai kecurangan ibarat tiang rumah, lalu tidak tercerabut ia akan patah).

Artinya: Di Bugis, tiang rumah dihubungkan satu dengan yang lain menggunakan pasak. Jika pasak itu bengkok sulit masuk ke dalam lubang tiang, dan patah kalau dipaksakan. Kiasan terhadap orang pandai tetapi tidak jujur. Ilmunya tak akan mendatangkan kebaikan (berkah), bahkan dapat membawa bencana (malapetaka).
nerko mealoko tikE esauw aolokolo spai betln. nerko del spai meagn betl tau.
Narekko mae’lokko tikkeng se’uwa olokolok sappak-i bate’lana. Narekko sappakko dalle’k sappak-i mae’gana bate’la tau. (Kalau ingin menangkap seekor binatang, carilah jejaknya. Kalau mau rezeki, carilah di mana banyak jejak manusia).

Artinya: Pada hakikatnya, manusialah yang menjadi pengantar rezeki, sehingga di mana banyak manusia akan ditemui banyak rezeki.
Jumat, 05 Juni 2015

AHMAD RISAL ANDI CAMBANG

0 komentar
AHMAD RISAL SM, S.Pd,I Pemuda cendekiawan 
Sidrap Yang dijuluki ANDI CAMBANG


Nama Lengkap     : Ahmad Risal SM S,Pd,i

Nama Lain           : Andi Cambang Petta Janggo"

Tempat Lahir       : Desa Carawali Kec,Watang Pulu Kab, sidrap

Tanggal Lahir      : Selasa | 24 Agustus 1990

 Kebangsaan       : Indonesia

Agama                 : Islam


BIOGRAFI LENGKAP ANDI CAMBANG
   
Profil dan Biografi ANDI CAMBANG merupakan sosok pahlawan nasional. Beliau lahir pada tanggal 24 Agustus pada tahun 1990 di Desa Carawali, tepatnya di RSUD Aripin Nu'mang. Beliau lahir dari sosok ayah yang bernama Andi Janggo, danseorang ibu yang bernama Andi Tenri. Ayah dari Andi Cambang ini merupakan seorang pekerja di Pabrik Berasr, PT RESKI, dan ibunya merupakan keturunan UWWA' .

Profil dan Biografi ANDI CAMBANG mengenyam pendidikan keguruan yang bernama HIK. Beliau belajar di tempat tersebut selama satu tahun. Hal ini beliau lakukan setelah selesai melaksanakan belajarnya di Wirotomo. ANDI CAMBANG diangkat menjadi seorang Jendral pada umurnya yang menginjak 20 tahun. Beliau merupakan orang termuda dan sekaligus pertama di Indonesia. Sejak kecil, beliau merupakan seorang anak yang pandai dan juga sangat menyukai organisasi. Dimulai dari organisasi yang terdapat di sekolahnya dahulu, beliau sudah menunjukkan criteria pemimpin yang disukai di masyarakat. Keaktifan beliau pada pramuka hizbul watan menjadikan beliau seorang guru PPM RAMA ASRI. Lalu beliau berlanjut menjadi seorang kepala sekolah.

Profil dan Biografi ANDI CAMBANG juga pernah masuk ke dalam belajar militer di PETA (Pembela Tanah Air) yang berada di Kab SIDRAP. Pendidikan di PETA dilakukan oleh tentara Jepang pada sat itu. Ketika sudah menyelesaikan pendidikannya di PETA, kemudian beliau menjadi seorang Komandan Batalyon yang berada di Kroya, Jawa Tengah. Kepemimpinan beliau tidak berhenti sampai situ, beliau juga menjadi seorang panglima di kota Banyumas.

Profil dan Biografi ANDI CAMBANG beliau pernah menjadi seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat di SUL-SEL. ANDI CAMBANG terpilih menjadi seorang panglima angkatan perang pada tanggal 12 November 1999. Beberapa perang melawan penjajah telah beliau pimpin seperti perang melawan tentara Inggris di Ambarawa, memimpin pasukannya untuk membela Kab SIDRAP dari serangan Sabu-sabu. Pada tahun 1995 beliau ini wafat. Beliau wafat karena terjangkit penyakit tuberculosis. Panglima besar Sudirman ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta.


   PENDIDIKAN ANDI CAMBANG
  
Sekolah Taman Siswa
SD 3 Carawali
SMP PPM Rahmatul Asri
SMA PPM Rahmatul Asri
STAI DDI PangSid
Pasca serjana UMI Makassar


   KARIR ANDI CAMBANG

Ustaz Laskar Islam
BNN Rehabilitasi Badoka Makassar
BNK Sidrap
Blogger Top Sidrap

   PENGHARGAAN ANDI CAMBANG
  
Pahlawan Daerah
Cendekiawan Sidrap
Blogger Sidrap
Pemuda Cedekiawan sidrap
Rabu, 11 Maret 2015

Muhammad Quraish Shihab

0 komentar

Muhammad Quraish Shihab 
 Oleh ; Ahmad Risal SM.
Email : ahmadrisalsmbizot@yahoo.co.id

Prof. Dr. H. Muhammad Quraish Shihab, MA (lahir di Rappang, Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, 16 Februari 1944; umur 71 tahun) adalah seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Al Qur'an dan mantan Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII (1998).
 Karier 
Nama lengkapnya adalah Muhammad Quraish Shihab. Ia lahir tanggal 16 Februari 1944 di Rappang, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Ia berasal dari keluarga keturunan Arab Quraisy - Bugis yang terpelajar. Ayahnya, Prof. Abdurrahman Shihab adalah seorang ulama dan guru besar dalam bidang tafsir. Abdurrahman Shihab dipandang sebagai salah seorang ulama, pengusaha, dan politikus yang memiliki reputasi baik di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Kontribusinya dalam bidang pendidikan terbukti dari usahanya membina dua perguruan tinggi di Ujungpandang, yaitu Universitas Muslim Indonesia (UMI), sebuah perguruan tinggi swasta terbesar di kawasan Indonesia bagian timur, dan IAIN Alauddin Ujungpandang. Ia juga tercatat sebagai rektor pada kedua perguruan tinggi tersebut: UMI 1959-1965 dan IAIN 1972–1977.

Sebagai seorang yang berpikiran progresif, Abdurrahman percaya bahwa pendidikan adalah merupakan agen perubahan. Sikap dan pandangannya yang demikian maju itu dapat dilihat dari latar belakang pendidikannya, yaitu Jami’atul Khair, sebuah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Murid-murid yang belajar di lembaga ini diajari tentang gagasan-gagasan pembaruan gerakan dan pemikiran Islam. Hal ini terjadi karena lembaga ini memiliki hubungan yang erat dengan sumber-sumber pembaruan di Timur Tengah seperti Hadramaut, Haramaian dan Mesir. Banyak guru-guru yang di¬datangkarn ke lembaga tersebut, di antaranya Syaikh Ahmad Soorkati yang berasal dari Sudan, Afrika. Sebagai putra dari seorang guru besar, Quraish Shihab mendapatkan motivasi awal dan benih kecintaan terhadap bidang studi tafsir dari ayahnya yang sering mengajak anak-anaknya duduk bersama setelah magrib. Pada saat-saat seperti inilah sang ayah menyampaikan nasihatnya yang kebanyakan berupa ayat-ayat al-Qur'an. Quraish kecil telah menjalani pergumulan dan kecintaan terhadap al-Qur’an sejak umur 6-7 tahun. Ia harus mengikuti pengajian al-Qur’an yang diadakan oleh ayahnya sendiri. Selain menyuruh membaca al-Qur’an, ayahnya juga menguraikan secara sepintas kisah-kisah dalam al-Qur’an. Di sinilah, benih-benih kecintaannya kepada al-Qur’an mulai tumbuh.[2]

Pendidikan formalnya di Makassar dimulai dari sekolah dasar sampai kelas 2 SMP. Pada tahun 1956, ia di kirim ke kota Malang untuk “nyantri” di Pondok Pesantren Darul Hadis al-Faqihiyah. Karena ketekunannya belajar di pesantren, 2 tahun berikutnya ia sudah mahir berbahasa arab. Melihat bakat bahasa arab yg dimilikinya, dan ketekunannya untuk mendalami studi keislamannya, Quraish beserta adiknya Alwi Shihab dikirim oleh ayahnya ke al-Azhar Cairo melalui beasiswa dari Propinsi Sulawesi, pada tahun 1958 dan diterima di kelas dua I'dadiyah Al Azhar (setingkat SMP/Tsanawiyah di Indonesia) sampai menyelasaikan tsanawiyah Al Azhar. Setelah itu, ia melanjutkan studinya ke Universitas al-Azhar pada Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir dan Hadits. Pada tahun 1967 ia meraih gelar LC. Dua tahun kemudian (1969), Quraish Shihab berhasil meraih gelar M.A. pada jurusan yang sama dengan tesis berjudul “al-I’jaz at-Tasryri’i al-Qur'an al-Karim (kemukjizatan al-Qur'an al-Karim dari Segi Hukum)”. Pada tahun 1973 ia dipanggil pulang ke Makassar oleh ayahnya yang ketika itu menjabat rektor, untuk membantu mengelola pendidikan di IAIN Alauddin. Ia menjadi wakil rektor bidang akademis dan kemahasiswaan sampai tahun 1980. Di samping mendududki jabatan resmi itu, ia juga sering mewakili ayahnya yang uzur karena usia dalam menjalankan tugas-tugas pokok tertentu. Berturut-turut setelah itu, Quraish Shihab diserahi berbagai jabatan, seperti koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Indonesia bagian timur, pembantu pimpinan kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental, dan sederetan jabatan lainnya di luar kampus. Di celah-celah kesibukannya ia masih sempat merampungkan beberapa tugas penelitian, antara lain Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia (1975) dan Masalah Wakaf Sulawesi Selatan (1978).

Untuk mewujudkan cita-citanya, ia mendalami studi tafsir, pada 1980 Quraish Shihab kembali menuntut ilmu ke almamaternya, al-Azhar Cairo, mengambil spesialisasi dalam studi tafsir al-Qur'an. Ia hanya memerlukan waktu dua tahun untuk meraih gelar doktor dalam bidang ini. Disertasinya yang berjudul “Nazm ad-Durar li al-Biqa’i Tahqiq wa Dirasah (Suatu Kajian dan analisis terhadap keotentikan Kitab Nazm ad-Durar karya al-Biqa’i)” berhasil dipertahankannya dengan predikat dengan predikat penghargaan Mumtaz Ma’a Martabah asy-Syaraf al-Ula (summa cum laude).

Pendidikan Tingginya yang kebanyakan ditempuh di Timur Tengah, Al-Azhar, Cairo ini, oleh Howard M. Federspiel dianggap sebagai seorang yang unik bagi Indonesia pada saat di mana sebagian pendidikan pada tingkat itu diselesaikan di Barat. Mengenai hal ini ia mengatakan sebagai berikut: "Ketika meneliti bio¬grafinya, saya menemukan bahwa ia berasal dari Sulawesi Selatan, terdidik di pesantren, dan menerima pendidikan ting¬ginya di Mesir pada Universitas Al-Azhar, di mana ia mene¬rima gelar M.A dan Ph.D-nya. Ini menjadikan ia terdidik lebih baik dibandingkan dengan hampir semua pengarang lainnya yang terdapat dalam Popular Indonesian Literature of the Quran, dan lebih dari itu, tingkat pendidikan tingginya di Timur Tengah seperti itu menjadikan ia unik bagi Indonesia pada saat di mana sebagian pendidikan pada tingkat itu diselesaikan di Barat. Dia juga mempunyai karier mengajar yang penting di IAIN Makassar dan Jakarta dan kini, bahkan, ia menjabat sebagai rektor di IAIN Jakarta. Ini merupakan karier yang sangat menonjol". 

Tahun 1984 adalah babak baru tahap kedua bagi Quraish Shihab untuk melanjutkan kariernya. Untuk itu ia pindah tugas dari IAIN Makassar ke Fakultas Ushuluddin di IAIN Jakarta. Di sini ia aktif mengajar bidang Tafsir dan Ulum Al-Quran di Program S1, S2 dan S3 sampai tahun 1998. Di samping melaksanakan tugas pokoknya sebagai dosen, ia juga dipercaya menduduki jabatan sebagai Rektor IAIN Jakarta selama dua periode (1992-1996 dan 1997-1998). Setelah itu ia dipercaya menduduki jabatan sebagai Menteri Agama selama kurang lebih dua bulan pada awal tahun 1998, hingga kemudian dia diangkat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk negara Republik Arab Mesir merangkap negara Republik Djibouti berkedudukan di Kairo.

Kehadiran Quraish Shihab di Ibukota Jakarta telah memberikan suasana baru dan disambut hangat oleh masyarakat. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai aktivitas yang dijalankannya di tengah-tengah masyarakat. Di samping mengajar, ia juga dipercaya untuk menduduki sejumlah jabatan. Di antaranya adalah sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984), anggota Lajnah Pentashhih Al-Qur'an Departemen Agama sejak 1989. Dia juga terlibat dalam beberapa organisasi profesional, antara lain Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), ketika organisasi ini didirikan. Selanjutnya ia juga tercatat sebagai Pengurus Perhimpunan Ilmu-ilmu Syariah, dan Pengurus Konsorsium Ilmu-ilmu Agama Dapertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Aktivitas lainnya yang ia lakukan adalah sebagai Dewan Redaksi Studia Islamika: Indonesian journal for Islamic Studies, Ulumul Qur 'an, Mimbar Ulama, dan Refleksi jurnal Kajian Agama dan Filsafat. Semua penerbitan ini berada di Jakarta.

Di samping kegiatan tersebut di atas, M.Quraish Shihab juga dikenal sebagai penulis dan penceramah yang handal. Berdasar pada latar belakang keilmuan yang kokoh yang ia tempuh melalui pendidikan formal serta ditopang oleh kemampuannya menyampaikan pendapat dan gagasan dengan bahasa yang sederhana, tetapi lugas, rasional, dan kecenderungan pemikiran yang moderat, ia tampil sebagai penceramah dan penulis yang bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Kegiatan ceramah ini ia lakukan di sejumlah masjid bergengsi di Jakarta, seperti Masjid al-Tin, Sunda Kelapa dan Fathullah, di lingkungan pejabat pemerintah seperti pengajian Istiqlal serta di sejumlah stasiun televisi atau media elektronik, khususnya di.bulan Ramadhan. Beberapa stasiun televisi, seperti RCTI dan Metro TV mempunyai program khusus selama Ramadhan yang diasuh olehnya.

Quraish Shihab memang bukan satu-satunya pakar al-Qur'an di Indonesia, tetapi kemampuannya menerjemahkan dan meyampaikan pesan-pesan al-Qur'an dalam konteks kekinian dan masa post modern membuatnya lebih dikenal dan lebih unggul daripada pakar al-Qur'an lainnya. Dalam hal penafsiran, ia cenderung menekankan pentingnya penggunaan metode tafsir maudu’i (tematik), yaitu penafsiran dengan cara menghimpun sejumlah ayat al-Qur'an yang tersebar dalam berbagai surah yang membahas masalah yang sama, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh dari ayat-ayat tersebut dan selanjutnya menarik kesimpulan sebagai jawaban terhadap masalah yang menjadi pokok bahasan. Menurutnya, dengan metode ini dapat diungkapkan pendapat-pendapat al-Qur'an tentang berbagai masalah kehidupan, sekaligus dapat dijadikan bukti bahwa ayat al-Qur'an sejalan dengan perkembangan iptek dan kemajuan peradaban masyarakat.

Quraish Shihab banyak menekankan perlunya memahami wahyu Ilahi secara kontekstual dan tidak semata-mata terpaku pada makna tekstual agar pesan-pesan yang terkandung di dalamnya dapat difungsikan dalam kehidupan nyata. Ia juga banyak memotivasi mahasiswanya, khususnya di tingkat pasca sarjana, agar berani menafsirkan al-Qur'an, tetapi dengan tetap berpegang ketat pada kaidah-kaidah tafsir yang sudah dipandang baku. Menurutnya, penafsiran terhadap al-Qur'an tidak akan pernah berakhir. Dari masa ke masa selalu saja muncul penafsiran baru sejalan dengan perkembangan ilmu dan tuntutan kemajuan. Meski begitu ia tetap mengingatkan perlunya sikap teliti dan ekstra hati-hati dalam menafsirkan al-Qur'an sehingga seseorang tidak mudah mengklaim suatu pendapat sebagai pendapat al-Qur'an. Bahkan, menurutnya adalah satu dosa besar bila seseorang mamaksakan pendapatnya atas nama al-Qur'an.[4]

Quraish Shihab adalah seorang ahli tafsir yang pendidik. Keahliannya dalam bidang tafsir tersebut untuk diabdikan dalam bidang pendidikan. Kedudukannya sebagai Pembantu Rektor, Rektor, Menteri Agama, Ketua MUI, Staf Ahli Mendikbud, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan, menulis karya ilmiah, dan ceramah amat erat kaitannya dengan kegiatan pendidikan. Dengan kata lain bahw ia adalah seorang ulama yang memanfaatkan keahliannya untuk mendidik umat. Hal ini ia lakukan pula melalui sikap dan kepribadiannya yang penuh dengan sikap dan sifatnya yang patut diteladani. Ia memiliki sifat-sifat sebagai guru atau pendidik yang patut diteladani. Penampilannya yang sederhana, tawadlu, sayang kepada semua orang, jujur, amanah, dan tegas dalam prinsip adalah merupakan bagian dari sikap yang seharusnya dimiliki seorang guru.
 Karya
Yang tak kalah pentingya, Quraish Shihab sangat aktif sebagai penulis. Beberapa buku yang sudah Ia hasilkan antara lain :
  1. Tafsir al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujung Pandang, IAIN Alauddin, 1984);
  2. Menyingkap Tabir Ilahi; Asma al-Husna dalam Perspektif al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati, 1998);
  3. Untaian Permata Buat Anakku (Bandung: Mizan 1998);
  4. Pengantin al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati, 1999);
  5. Haji Bersama Quraish Shihab (Bandung: Mizan, 1999);
  6. Sahur Bersama Quraish Shihab (Bandung: Mizan 1999);
  7. Panduan Puasa bersama Quraish Shihab (Jakarta: Penerbit Republika, Nopember 2000);
  8. Panduan Shalat bersama Quraish Shihab (Jakarta: Penerbit Republika, September 2003);
  9. Anda Bertanya,Quraish Shihab Menjawab Berbagai Masalah Keislaman (Mizan Pustaka)
  10. Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Ibadah Mahdah (Bandung: Mizan, 1999);
  11. Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Al Qur'an dan Hadits (Bandung: Mizan, 1999);
  12. Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Ibadah dan Muamalah (Bandung: Mizan, 1999);
  13. Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Wawasan Agama (Bandung: Mizan, 1999);
  14. Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Tafsir Al Quran (Bandung: Mizan, 1999);
  15. Satu Islam, Sebuah Dilema (Bandung: Mizan, 1987);
  16. Filsafat Hukum Islam (Jakarta: Departemen Agama, 1987);
  17. Pandangan Islam Tentang Perkawinan Usia Muda (MUI & Unesco, 1990);
  18. Kedudukan Wanita Dalam Islam (Departemen Agama);
  19. Membumikan al-Qur'an; Fungsi dan Kedudukan Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1994);
  20. Lentera Hati; Kisah dan Hikmah Kehidupan (Bandung: Mizan, 1994);
  21. Studi Kritis Tafsir al-Manar (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996);
  22. Wawasan al-Qur'an; Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996);
  23. Tafsir al-Qur'an (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997);
  24. Secercah Cahaya Ilahi; Hidup Bersama Al-Qur'an (Bandung; Mizan, 1999)
  25. Hidangan Ilahi, Tafsir Ayat-ayat Tahlili (Jakarta: Lentara Hati, 1999);
  26. Jalan Menuju Keabadian (Jakarta: Lentera Hati, 2000);
  27. Tafsir Al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur'an (15 Volume, Jakarta: Lentera Hati, 2003);
  28. Menjemput Maut; Bekal Perjalanan Menuju Allah SWT. (Jakarta: Lentera Hati, 2003)
  29. Jilbab Pakaian Wanita Muslimah; dalam Pandangan Ulama dan Cendekiawan Kontemporer (Jakarta: Lentera Hati, 2004);
  30. Dia di Mana-mana; Tangan Tuhan di balik Setiap Fenomena (Jakarta: Lentera Hati, 2004);
  31. Perempuan (Jakarta: Lentera Hati, 2005);
  32. Logika Agama; Kedudukan Wahyu & Batas-Batas Akal Dalam Islam (Jakarta: Lentera Hati, 2005);
  33. Rasionalitas al-Qur'an; Studi Kritis atas Tafsir al-Manar (Jakarta: Lentera Hati, 2006);
  34. Menabur Pesan Ilahi; al-Qur'an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat (Jakarta: Lentera Hati, 2006);
  35. Wawasan al-Qur'an Tentang Dzikir dan Doa (Jakarta: Lentera Hati, 2006);
  36. Asmâ' al-Husnâ; Dalam Perspektif al-Qur'an (4 buku dalam 1 boks) (Jakarta: Lentera Hati);
  37. Sunnah - Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?; Kajian atas Konsep Ajaran dan Pemikiran (Jakarta: Lentera Hati, Maret 2007);
  38. Al-Lubâb; Makna, Tujuan dan Pelajaran dari al-Fâtihah dan Juz 'Amma (Jakarta: Lentera Hati, Agustus 2008);
  39. 40 Hadits Qudsi Pilihan (Jakarta: Lentera Hati);
  40. Berbisnis dengan Allah; Tips Jitu Jadi Pebisnis Sukses Dunia Akhirat (Jakarta: Lentera Hati);
  41. M. Quraish Shihab Menjawab; 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui (Jakarta: Lentera Hati, 2008);
  42. Doa Harian bersama M. Quraish Shihab (Jakarta: Lentera Hati, Agustus 2009);
  43. Seri yang Halus dan Tak Terlihat; Jin dalam al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati);
  44. Seri yang Halus dan Tak Terlihat; Malaikat dalam al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati);
  45. Seri yang Halus dan Tak Terlihat; Setan dalam al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati);
  46. M. Quraish Shihab Menjawab; 101 Soal Perempuan yang Patut Anda Ketahui (Jakarta: Lentera Hati, Maret 2010);
  47. Al-Qur'ân dan Maknanya; Terjemahan Makna disusun oleh M. Quraish Shihab (Jakarta: Lentera Hati, Agustus 2010);
  48. Membumikan al-Qur'ân Jilid 2; Memfungsikan Wahyu dalam Kehidupan (Jakarta: Lentera Hati, Februari 2011);
  49. Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW, dalam sorotan Al-Quran dan Hadits Shahih (Jakarta: Lentera Hati, Juni 2011);
  50. Do'a al-Asmâ' al-Husnâ (Doa yang Disukai Allah SWT.) (Jakarta: Lentera Hati, Juli 2011);
  51. Tafîr Al-Lubâb; Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah Al-Qur'ân (Boxset terdiri dari 4 buku) (Jakarta: Lentera Hati, Juli 2012)

Ustadz Muhammad Nur Maulana

0 komentar

Biografi Ustadz Muhammad Nur Maulana

 Oleh ; Ahmad Risal SM.
Email : ahmadrisalsmbizot@yahoo.co.id
 
 Sahabat Sekalian pada kesempatan Kali ini Blog makkawaruwe.blogspot.com  ingin menulis sedikit tentang Biografi Ustadz Muhammad Nur Maulana. Ustadz Maulana yang merupakan Dai “gaul” kelahiran makassar ini boleh dikata unik, Jenaka, murah senyum dan cepat akrab dengan siapa saja, baik terhadap anak-anak, remaja, orangtua, maupun pejabat adalah karakternya. 
Berikut ini Biografi Muhammad nur Maulana:

Ustadz Muhammad Nur Maulana

Nama                                  : Muhammad Nur Maulana
KlLahiran                            : Makassar, 20 September 1974
                                               Anak ke: keempat dari tujuh bersaudara
Ayah                                     : Maulana
Ibu                                        : Masyita
Pendidikan                          : Pesantren An Nahdah Makassar (lulus 1994)
Pekerjaan                           : Guru Agama Islam SD Mangkura; Guru SD Islam Athirah dan Pesantren                                               An Nahdah
Istri                                      : Nur Aliah
Anak                                   : Munawar
Alamat Rumah                    : Jl Sibula Dalam No 15, Makassar Sulawesi Selatan. 

Ustadz Muhammad Nur Maulana Sejak tiga tahun terakhir ini mengaku jadwal dakwahnya makin padat. Sehari, ia kadang menghadiri empat undangan untuk berdakwah di lokasi berbeda. Tidak hanya di masjid, ia juga biasa memberi dakwah di rumah-rumah warga, sekolah, hingga di kantor-kantor pemerintah dan swasta. 


Mereka yang mengundangnya pun tak hanya berasal dari Makassar, Gowa, dan Maros. Tapi juga banyak yang datang dari daerah-daerah yang jauh dari Makassar semisal, Kabupaten Morowali di Sulawesi Tengah dan Kendari di Sulawesi Tenggara.


"Bahkan beberapa kali saya menghadiri undangan untuk berdakwah di Kalimantan seperti di Samarinda, Tarakan, dan Balikpapan. Biasa juga diundang ke Kaimena di Irian Barat. Umumnya yang mengundang dari Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan yang ada di daerah tersebut," tuturnya. 


Dalam memenuhi undangan, ayah Munawar ini mengaku tak pernah pilih-pilih. "Prinsip saya, siapa undangannya yang lebih dulu tiba dan saya catat, maka itulah yang saya prioritaskan lebih awal menghadirinya," tuturnya sembari memperlihatkan buku diari yang digunakannya mencatat jadwalnya untuk dakwah, sebuah buku saku yang terlihat sudah lusuh dan telah buram. Nur Maulana menceritakan, ia mulai berdakwa sejak usia 14 tahun saat masih duduk di SMP DDI Galesong Beru, Makassar. Aktivitas berdakwahnya pun makin terasah saat menjadi santri di Pondok Pesantren An Nahdah (setingkat SMA), Makassar.

"Di pesantren inilah saya banyak belajar dengan pimpinan pondok pesantren, KH Muhammad Harizah. Di pesantren ini pula saya mendapat jodoh yang kini menjadi istri saya," ujar pria yang menikahi Nur Aliah pada 8 Agustus 2008 lalu ini. Selain pelajaran dari pesantren, Nur Maulana mengaku banyak belajar tentang Islam melalui buku-buku Islam, media massa, dan beragam literatur lainnya.Sedangkan humor-humor yang kerap diselipkan di sela-sela dakwahnya, diperolehnya dari membaca koran, majalah, dan televisi.


Mau menikmati siraman rohani khas ustadz Muhammad Nur Maulana??? Simak di salah satu stasiun TV swasta nasional, karena ustadz “gaul” ini secara rutin memberikan siraman rohani yang diselingin dengan kelucuan-kelucuan khas Ustadz Muhammad Nur Maulana

islam itu indah.....
Kamis, 26 Februari 2015

AGH Muhammad Abduh Pabbajah

1 komentar

AGH Muhammad Abduh Pabbajah (1908 – 2009)
Salah seorang pendiri Darud Da’wah Wal Irsuad, sekretaris pertama Pengurus Besar DDI. Dan Pemimpin Pesantren DDI Al Furqan Parepare.

OLEH :
Ahmad Risal SM S.Pd.I
ahmadrisalsmbizot@yahoo.co.id

Ketika Gurutta Ambo Dalle berada dalam lingkungan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar, maka Gurutta Pabbajah – lah tampil sebagai Pejabat Ketua Umum sementara DDI mengantikan Gurutta Ambo Dalle, umurnya ditaksir sudah menghampiri seratus tahun.

AGH Abduh Pabbajah dan AGH Abdurrachman Ambo Dalle bersama sejumlah ulama Sulsel lainnya mendirikan DDI di Soppeng Riaja tahun 1938. 

Di antara pendiri DDI, sisa AGH Abduh Pabbajah dan AGH Ali Alyafie yang masih hidup. Alyafie kini menetap di Jakarta.

Hidupnya didedikasikan untuk membangun negara dan agama Islam.  Sebagai seorang ulama terkemuka, ia dikenal sebagai figur  yang sangat ikhlas menuntun umat. Pendiriannya begitu kuat dalam menentang segala pergeseran akidah yang tejadi di tengah-tengah masyarakat. 

‘’Almarhum Anre Gurutta (AG) KH Muhammad Abduh Pabbaja memiliki kepedulian terhadap umat yang sangat besar sampai akhir hayatnya,’’ ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, KH AG Sanusi Baco LC, mengenang. 

Kiai Pabbaja memang dikenal sebagai ulama kharismatik yang sangat dihormati umat Islam di Pare-pare dan  Sidenreng Rappang,  Sulawesi Selatan.  Ia adalah salah seorang pendiri organisasi massa Islam Darul Dakwah Wal Irsyad (DDI). Bahkan, kiai yang dikenal memiliki pendirian tegas itu pernah menjabat sebagai ketua umum DDI periode 1955-1962.

‘’Dalam mengambil keputusan untuk kepentingan seluruh umat, beliau adalah ulama yang punya pendirian tegas. Tapi, di sisi lain beliau juga bersedia menerima pandangan orang lain jika diberikan penjelasan dan pengertian, yang membuat beliau paham,’’  tutur  Ketua Pengurus Besar DDI, Prof H Muiz Kabry seperti dikutip kantor berita Antara. 
  
Kiai Pabbaja lahir di Allakuang, Sidenreng Rappang,  Sulawesi Selatan, pada 20 Muharram 1336 H atau 26 Oktober 1918. Beliau lahir dari keluarga terpandang dan taat beragama. Ayahnya bernama Pabbaja bin Ambo Padde, seorang kepala wilayah di desa kelahirannya. 

Ibunya bernama Hj Latifah binti Kalando, putri seorang imam atau penghulu syarak di desa itu. Kiai Pabbaja adalah anak kelima dari sepuluh bersaudara. Pada saat kecil, kawan-kawannya memanggilnya Mamma. Setelah menjadi ulama terkemuka, umat Islam memanggilnya Kiai Pabbaja. 

Sebagai ulama Bugis Makassar, beliau dikenal dengan julukan Gurutta Pabbaja. Gurutta adalah gelar penghormatan untuk seorang ulama di wilayah Bugis Makassar. Mamma, begitu ia akrab dipanggil saat kecil, mulai mempelajari ilmu agama sejak kecil.

Ia belajar membaca Alquran dari ibunya. Menginjak usia enam tahun, Mamma menempuh studi di Sekolah Desa (Volksschool).  Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya ke madrasah Makarim Al-Akhlaq hingga tamat. Kemudian, Pabbaja menimba ilmu di madrasah Al-Arabiah Al-Islamiah di Kabupaten Wajo yang dipimpin KH Muhammad As’ad.

Madrasah ini dikenal sebagai lembaga pencetak ulama-ulama besar. Betapa tidak. Hampir semua ulama terkemuka yang tersebar di Sulawesi Selatan adalah alumni madrasah yang dipimpin Kiai Muhammad As’ad itu. Ualam besar yang lahir dari Madrasah Al-Arabiah Al-Islamiah itu antara laih; KH Ambo Dalle, KH Yunus Maratan, KH Daud Ismail, KH Junaid Sulaiman, KH Abdullah Maratan, KH Ya’fie (ayah KH Ali Yafi’e).

Pada zaman itu, Madrasah Al-Arabiah Al-Islamiah,  secara khusus mendatangkan Syekh Ahmad Al-Hafifi, ulama dari Al-Azhar Kairo, Mesir dan Syekh Sulaiman As-Su’ud dari Makkah untuk mengajar para santri. Di madrasah itu pula Pabbaja mempelajari dan mengkaji berbagai cabang ilmu Islam selama tujuh tahun.

Di antara ilmu keislaman yang dipelajarinya, Kiai Pabbaja lebih menyukai Ilmu Tafsir. Tak heran jika beliau dikenal sebagai ulama ahli tafsir yang fasih dan lancar berbahasa Arab. ‘’Penafsiran Alquran hendaknya disesuaikan dengan ilmu pengetahun modern tanpa meninggalkan prinsip yang harus digunakan dalam menafsirkan Alquran,’’ ujar Kiai Pabbaja.

Dalam menerjemahkan Alquran, Kiai Pabbaja, sangat tak setuju bila kitab suci umat Islam itu diartikan secara sepotong-sepotong. Menurutnya, Alquran harus diartikan secara lengkap agar tak ada kekeliruan terhadap maknanya. Begitulah pendapatnya tentang penafsiran dan penerjemahan Alquran

Almarhum KH AG Muhammad Abduh Pabbaja diyakini oleh sebagian besar masyarakat sebagai ulama kharismatik generasi terakhir yang dimiliki Sulawesi Selatan setelah (alm) AGH Abdur Rahman Ambo Dalle, (alm) AGH Yunus Martan dan (alm) AGH Daud Ismail.

Menurut sejumlah keluarga Almarhum, ulama sepuh ini menghembuskan nafas terakhir di rumahnya di kompleks Perumahan Lapadde Mas, Parepare, Kamis, sekitar pukul 10.00 wita. kondisi kesehatan Imam Besar Masjid Agung Kota Parepare itu selama ini memang menurun. Sejak Februari 2009 lalu, almarhum tidak pernah lagi ke Masjid Agung.

" Kondisi fisiknya sudah tidak memungkinkan untuk beraktivitas di masjid seperti biasanya. Beliau lebih banyak beristirahat dan berbaring di rumah, namun masih bisa berbicara pelan dan tidak lancar lagi," kata putranya, Ahmad Pabbajah.

Lebih lnjut Ahmad mengatakan, KH AG Muhammad Abduh Pabbaja, yang akrab disapa oleh murid dan masyarakat Parepare, Gurutta Pabbajah, meninggal dunia pada usia 94 tahun menurut perhitungan Hijriyah, atau 90 tahun pada penanggalan Masehi. Beliau lahir di Allakuang, pada 20 Muharram 1336 H, atau 26 Oktober 1918.

Semasa hidupnya, Pabbaja pernah duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesi (DPR RI) mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Di era tahun 80-an, Pabbaja juga kerap tampil sebagai juru kampanye partai berbasis Islam tersebut.

Di Masjid Agung Parepare, jenazah dilepas Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel, KH Sanusi Baco LC. Turut hadir Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Derah (DPRD) Kota Prepare H Muhadir Haddade SH, anggota DPRD Ir Kaharuddin Kadir MSi bersama sejumlah pejabat lainnya.

Ketua MUI KH AG Sanusi Baco LC mengatakan, Almarhum KH Muhammad Abduh Pabbajah adalah sosok ulama yang ikhlas menuntun umat, juga punya pendirian kuat dalam menentang segala pergeseran aqidah.

" Almarhum Anre Gurutta KH Muhammad Abduh Pabbaja ini memiliki kepeduliaan terhadap umat yang sangat besar sampai akhir hayatnya," kata Sanusi.

Sementara itu Ketua Pengurus Besar DDI, Prof Dr H Muiz Kabry mengatakan, Almarhum adalah ulama yang punya pendirian tegas dalam mengambil keputusan untuk kepentingan seluruh umat.

" Tapi disisi lain beliau juga bersedia menerima pandangan orang lain jika diberikan penjelasan dan pengertian yang membuat beliau paham," katanya.

Usai disalatkan di Masjid Agung Parepare. sekitar pukul 13.00 wita, Jenazah Almarhum Anre Gurutta KH Muhammd Abduh Pabbaja kemudian diantar ratusan mobil untuk dimakamkan di pekuburan Desa Allakuang, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrap.

Rombongan pengantar jenazah tiba di Desa Allakuang, Sidrap, sekitar pukul 13.45 Wita dan jenazah pengasuh Pondok Pesantren Al Furqan ini kemudian di salatkan kembali di mesjid Almuttahid, Desa Allakuang, Sidrap dan kemudian jenazah dimakamkan tepat pukul 14.00 Wita.

AGH KH. Abdul Muin Yusuf

0 komentar

AGH . KH. Abdul Muin Yusuf

OLEH :
Ahmad Risal SM S.Pd.I
ahmadrisalsmbizot@yahoo.co.id

Abd. Muin Yusuf lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, 21 Mei 1920. Ia melajar ngaji di madrasah Ainur Rafieq, madrasah yang didirikan Syaikh Ali Mathar pada tahun 1931. Di waktu pagi, ia juga sekolah umum. 

Pada tahun 1934, Mu’in melanjutkan pendidikan agamanya di Madrasah Arabiyah Islamiyah yang didirikan ulama besar Anregurutta As’ad. Saat belajar di madrasah inilah, ia bertemua dengan calon ulama yang masyhur di Sulawesi Selatan, di antaranya Anregurutta Ambo Dalle, Anregurutta Abduh Pabbaja, Anregurutta Daud Ismail, dan sebagainya.

Pada tahun 1971, Mu’in mulai aktif di Partai Nahdlatul Ulama. Dan tak lama kemudian, ia menjadi ketua tanfidziyah. Di bawah kepemimpinannya, NU berhasil tumbuh beserta badan otonominya, IPNU/IPPNU, GP Ansor, Fatayat NU. 

Pada Pemilu tahun 1971, Partai NU menempati posisi kedua dengan 18,67% suara, di bawah Golkar dengan perolehan 62,80% suara. Dan Muin menjadi anggota DPRD Sidrap dari Partai NU.

Ketika Partai NU fusi ke dalam PPP, Mu’in juga menjadi bagian darinya, tapi menempati tokoh sentral. Pada pemilu 1977, ia masuk Golkar dengan terpaksa, karena disebarkan fitnah bahwa dirinya anggota DI/TII. 

Mu’in memang pernah lari ke hutan ikut DI/TII, tapi saat itu karena tidak ada pilihan, masuk PKI atau ikut DI/TII. Mu’in masuk Golkar dengan berpegang dalil accemali-maliko naekiyaa aja numali. Artinya, ikuti arus, api jangan terbawa.

Mu’in terbilang ulama yang produktif menulis. Karyanya yang monumental adalah tafsir Al-Qur’an 30 juz, namanya Tafsere Akorang Ma’basa. Tafsir yang menggunakan bahasa Bugis dengan aksara Lontara ini berjumlah sebelas jilid. 

Tafsir Al-Qur’an tersebut mencakup munasabah ayat, asbabun nuzul, terjemah per ayat, dan penjelasan tiap-tiap ayat. Tafsir ini ditulis selama delapan tahun, dari 1988 hingga 1996. Selain tafsir ia juga menulis buku khotbah berjudul al-Khutbah al-Mimbariyah (1944) dan bukuh fiqih berjudul Fiqih Muqoron.

Karya besar lainnya adalah Pondok Pesantren Al-Urwatul Wusqa. Pesantren yang didirikan pada bulan April 1974 ini merupakan pesantren pertama di Sidrap, yang hari ini masih terus berkembang. Abd. Mu’in Yusuf pulang ke Rahmatullah tahun 2004.


Pernahkan anda membayangkan atau membaca tafsir Al-Quran dalam bahasa Bugis? Tafsir Al-Quran tersebut disusun oleh (Alm) KH. Abdul Muin Yusuf, (1985-2004) Pimpinan Pondok Pesantren Al-Urwatul Wutsqaa Benteng Sidrap. Tafsir Al-Quran tersebut dikerjakan selama sembilan tahun, dimulai pada 1985 hingga 1994.  

Dalam pengerjaan proyek tafsir Al-Quran berbahasa Bugis ini KH. Abdul Muin Yusuf dibantu oleh DR. Rahim Arsyad, KH. Farid Wadjidi, dan A. Syamsul Bahri Galigo, mereka adalah tokoh agama di Sulawesi Selatan. Namun jangan berani membuka tafsir tersebut jika tidak mampu membaca dengan huruf lontara(tulisan khas Bugis dan Makassar), karena tafsir tersebut ditulis dengan huruf lontara.

Setelah melalui proses penyusunan, tafsir tersebut kemudian direvisi oleh (Alm) KH. Ambo Dalle, Pimpinan Darul Dakwah Wal Irsyad (DDI) Mangkoso Barru, dan KH. Daud Ismail, Pimpinan Pondok Pesantren Yasrif Soppeng. Adapun proses penulisannya dikerjakan oleh (Alm) KH. Hamzah Manguluang, salah seorang Pimpinan Pondok Pesantren As-Adiyah Sengkang.

Proses penulisan terhitung sangat sulit karena dilakukan dengan tulisan tangan. Menurut H. Imran LC., MHI., cucu KH. Abdul Muin Yusuf, tulisan tangan untuk menyusun tafsir tersebut dilakukan karena pada saat itu belum ada program komputer yang khusus untuk menulis tulisan lontara. “Tulisan tangan itu dikerjakan di atas kertas kalkir, dan hasilnya sangat rapi,” terang H. Imran LC., MHI. Namun saat ini telah ada program khusus untuk penulisan huruf lontara sehingga makin memudahkan jika mempelari huruf-huruf lontara tersebut.

Penulisan tafsir Al-Quran dalam bahasa Bugis ini juga terhitung sangat lengkap. Jika pada umumnya terjemahan Al-Quran yang kita baca hanya diartikan dari tiap kata dalam kalimat Al-Quran, maka dalam tafsir Al-Quran yang disusun oleh (Alm) KH. Abdul Muin Yusuf lengkap dengan penjelasan tiap ayatnya, sebab-sebab turunnya ayat tersebut, dan hadist yang berhubungan dengan ayat tersebut. Karena sangat detil memberikan penjelasan tiap ayatnya, maka tiap satu eksemplar hasil cetakan tafsir Al-Quran bahasa Bugis tersebut hanya mampu memuat tiga juz. Jadi untuk tiga puluh juz dalam Al-Quran, dicetak menjadi satu set. Satu set tafsir Al-Quran bahasa Bugis tersebut terdiri dari sebelas jilid.

Masyarakat juga ternyata sangat antusias menyambut tafsir Al-Quran bahasa Bugis tersebut. Terbukti dengan cetakan pertama sebanyak 2000 eksemplar kini telah habis. Pihak Pondok Pesantren Al-Urwatul Wutsqaa mengaku akan mencetak kembali tafsir tersebut, namun menurut H. Imran LC., MHI., yang kini menjabat sebagai pimpinan mengaku masih terkendala masalah dana. “Dana yang kami butuhkan sangat besar untuk mencetak ulang tafsir tersebut. Tapi kami tetap akan mengusahakan karena banyaknya permintaan dari masyarakat,” jelas H. Imran LC., MHI.

Kini Pondok Pesantren Al-Urwatul Wutsqaa yang dipimpin oleh H. Imran LC., MHI., membina kurang lebih 500 orang santri dari tingkat madrasah tsanawiyah (setingkat SMP) dan madrasah aliyah (setingkat SMA).

Anre Gurutta Haji (AGH.) M. Yahya Didu

0 komentar

PANDRITA TANA ULU 
Anre Gurutta Haji (AGH.) M. Yahya Didu

OLEH :
Ahmad Risal SM S,Pd.I
ahmadrisalsmbizot@yahoo.co.id

Anre Gurutta Haji (AGH.) M. Yahya Didu, dilahirkan di Desa Kulo, Kecamatan Pancarijang, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, pada Agustus 1942 M. Orang tuanya bernama La Didu bin La Ote dan I Jampang binti La Tike’. Melihat silsilah keturunannya, beliau adalah cucu dari Petta Kali (Qadhi) Maroanging. Namun, kira-kira pada tahun 1946 M., kedua orang tuanya pindah dari Kulo menuju Lamoga yaitu suatu daerah padang luas yang sekarang dijadikan lahan persawahan di Tamansari Desa Tatae Kecamatan Duampanua Kabupaten Pinrang. Ayahnya, La Didu yang juga dikenal dengan panggilan Puang Janggo’ (karena janggutnya panjang terurai) mendirikan sebuah masjid di Tamansari di atas tanahnya sendiri dengan harapan agar kelak anak cucunya termasuk orang-orang yang qalbunya selalu terpaut dengan masjid. Itulah Masjid Nurul Yaqin Tamansari.


Pendidikannya secara formal diawali di Sekolah Rakyat Tatae, di samping pada sore hari di Madrasah Darud Da’wah Wal Irsyad Al-Islamiyah (DDII) Pekkabata. Sekolah Menengah Pertama beliau selesaikan di Pekkabata lalu melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama (PGA) Pare-Pare.


Beliau pernah meminta izin kepada orang tuanya untuk melanjutkan studi ke Universitas al-Azhar Mesir, namun tidak diberi izin. Salah seorang gurunya, yakni Sayyid Abu Bakar, pernah berkata kepada orang tuanya, “Namo de’ na lao Massere’ mangaji ana’ta, Yahya, insya Allah mancaji pandrita to.” Artinya: “Walaupun putra anda, Yahya, tidak melanjutkan pengajiannya ke Mesir, insya Allah dia akan menjadi ulama.” Pernyataan ini menjadi doa bagi beliau.


Ketika masih muda, beliau mangaji tudang kepada Sayyid Abu Bakar, seorang ulama peranakan Arab yang berasal dari Singapura. Pada Sayyid Abu Bakar ini beliau mengkhatamkan Ihya’ ‘Ulumiddin, Alfiyah Ibnu Malik, Matan al-Jurumiyah dan beberapa buku yang terkait dengan penguasaan Bahasa Arab. Beliau juga massara’ baca kepada Sayyid Husain dan mempelajari tentang ilmu qira’ah dan ilmu-ilmu al-Qur’an. Di samping aktif mengikuti kajian-kajian yang disampaikan oleh ulama-ulama Sulawesi Selatan di berbagai masjid dan pengajian, antara lain: AGH. Abdurrahman Ambo Dalle, AGH. Abduh Pabbajah, AGH. Daud Ismail, AGH. Abdul Mu’in Yusuf, AGH. Abdush Shamad dan masih banyak lagi yang lain.

Kemudian seorang ulama dari Batu Sangkar, Sumatera Barat yaitu Buya Umar Yusuf datang ke Pekkabata (Pinrang). Kepada ulama inilah beliau mangaji tudang mempelajari kitab Tafsir al-Qur’anul ‘Azhim karya Ibnu Katsir, Tafsir al-Manar karya Muhammad ‘Abduh dan muridnya, Naylul Authar karya asy-Syaukani, Irsyadul Fuhul karya asy-Syaukani, Subulus Salam karya ash-Shan’ani, Riyadhush Shalihin karya al-Nawawi, al-Mu’inul Mubin karya Abdul Hamid Hakim, Tadribur Rawi karya as-Suyuthi, Madaarikus Salikin karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. 

Dari sinilah beliau mengenal pemikiran para mujaddid di Indonesia, seperti Syaikh Muhammad Thahir Jalaluddin, Syaikh Abdul Karim Amrullah, Syaikh Ahmad al-Syurkatiy, KH. Ahmad Dahlan, Ustadz A. Hassan, dan lain-lain. Akhirnya pengembaraan mencari ilmu membawanya pula ke Yogyakarta dan belajar kepada KH. AR. Fakhruddin dan lain-lain.

Beliau aktif berdakwah di Kalimantan Timur. Bahkan beliau pernah tinggal di Sandakan (Malaysia) atas permintaan keluarga dan murid-muridnya di sana. Setelah kembali dari Malaysia pada tahun 1997 M., beliau menetap di Melak (Kutai Barat, Kalimantan Timur) hingga sekarang dan diangkat sebagai penasehat Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kutai Barat.

Pengajian secara rutin disampaikan oleh beliau setiap hari di Masjid Nurul Islam Melak. Khusus antara shalat magrib dan isya’ adalah kajian tafsir al-Qur’an. Beliau juga setiap bulannya memberikan pengajian di Samarinda, Balikpapan, Bontang dan Nunukan. 

Di antara murid-murid beliau yang telah aktif mengajar tafsir antara lain, Ustadz Abu Nurul Yaqin Santoso (Pulau Sebatik, Nunukan), Ustadz Mujaddid bin Salim (Kota Kinabalu, Malaysia), dan Ustadz H. M. Ali Sadike' (Melak, Kutai Barat).

Makkadai AGH. M. Yahya Didu, “Anak-anakku yamaneng... akkateni masse’ko ri akorangnge nennia ri sunna’na nabitta padatoha carana mappahang tau riolata salafuna ash-shalih ridhwanullah ‘alaihim ajma’in. Apa’ makkadai nabitta Muhammad tau nassurie pammase nennia asalamakeng, usalaingekko dua passaleng narekko makketenni masse’ko ri dua-duanna majeppu de’ na mu kepusa-pusa yenaritu akorangnge nennia sunna’ku.” Artinya: AGH. M. Yahya Didu berkata, “Anak-anakku sekalian... berpegang teguhlah kalian kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi sebagaimana cara para salafuna ash-shalih ridhwanullah ‘alayhim ajma’in memahaminya, karena Nabi Muhammad saw. pernah bersabda aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, bila kalian berpegang teguh kepada keduanya kalian tidak ...


 

PALING DISUKAI

POLLING ANDA :